Manual Penilaian Jasa Lingkungan Berbasis Karbon Di Kawasan Konservasi

Indonesia, sebagai salah satu negara dengan hutan terluas, memegang peran krusial dalam upaya mitigasi perubahan iklim global. Kawasan konservasi, dengan luas ±16,26 juta hektar, memiliki potensi besar dalam menjaga kelestarian kawasan dan tutupan lahan, yang berarti memelihara dan meningkatkan stok karbon. Manual ini hadir sebagai panduan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi untuk melaksanakan penilaian jasa lingkungan berbasis karbon di kawasan konservasi secara efektif dan efisien. Tujuannya adalah untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan penilaian ini, yang mencakup pembentukan tim kerja, penentuan lokasi berbasis ekosistem, pengukuran dan penghitungan stok karbon, penilaian jasa lingkungan lainnya (biodiversitas, air, wisata alam), serta pendugaan nilai karbon hutan. Pemanfaatan jasa lingkungan di kawasan konservasi diyakini dapat menjadi alternatif dalam upaya mitigasi perubahan iklim sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar tanpa merusak ekosistem.
Manual ini menekankan bahwa nilai stok karbon di hutan konservasi tidak hanya diukur dari kuantitas karbon yang tersimpan, tetapi juga dari “kualitas” stok karbon yang merepresentasikan kinerja pemanfaatan jasa lingkungan secara terintegrasi, termasuk keanekaragaman hayati, air, dan keindahan alam. Pendekatan ini penting untuk mengaktualisasikan peran konservasi dalam kerangka Indonesia’s FOLU Net Sink 2030. Dengan demikian, penilaian jasa lingkungan berbasis karbon menjadi indikator kinerja utama yang terukur dari sebuah ekosistem. Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan serangkaian tahapan, mulai dari pembentukan tim ahli dengan kualifikasi spesifik, penentuan lokasi pengukuran berdasarkan tipe ekosistem, hingga pengukuran biomassa dan kandungan karbon pada berbagai carbon pool (permukaan atas, bawah permukaan, semai, serasah, kayu mati, dan tanah) menggunakan metode dan alat yang terstandarisasi.
Lebih lanjut, manual ini juga memaparkan metodologi untuk penilaian jasa lingkungan lainnya, seperti keragaman flora dan fauna, pendugaan debit air melalui pendekatan watershed delineation, dan penilaian indeks wisata alam menggunakan metode Scenic Beauty Estimation (SBE). Selain itu, manual ini membahas penilaian ekonomi total kawasan konservasi, termasuk nilai guna langsung (misalnya ekowisata), nilai guna tidak langsung (misalnya jasa air), dan nilai pilihan (misalnya biodiversitas). Akhirnya, manual ini menjelaskan cara menduga nilai karbon hutan dengan menghubungkan antara nilai stok karbon dan nilai ekonomi total jasa lingkungan. Dengan panduan ini, diharapkan pengelolaan kawasan konservasi dapat lebih optimal dalam memberikan kontribusi terhadap mitigasi perubahan iklim dan pelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia.
Sumber:
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




