Praktik Baik

Rahasia Jogja kurangi sampah hingga 70 persen: insentif penggerobak jadi kunci

Pemkot Yogyakarta Uji Coba Pemilahan Sampah Langsung di Depo, Bidik Pengurangan Volume Hingga Implementasi Insentif

Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta sedang gencar mencari solusi inovatif untuk masalah sampah yang tak kunjung usai. Salah satu pendekatan terbaru adalah dengan melakukan uji coba pemilahan sampah langsung di sejumlah depo, sebuah langkah strategis untuk menemukan formula terbaik dalam pengelolaan limbah kota.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengungkapkan bahwa uji coba ini telah berlangsung selama sepekan terakhir. Empat depo menjadi lokasi percontohan: Depo Mandala Krida, Lapangan Karang, THR Purawisata (Jalan Brigjen Katamso), dan Depo Kotabaru (selatan Kantor RRI). Uji coba ini mencakup 21 kelurahan yang dilayani oleh keempat depo tersebut.

Strategi Padat Karya dan Insentif untuk Pengurangan Sampah

Hasto menjelaskan bahwa pemilahan ini akan mengadopsi metode padat karya. Tujuannya jelas: “Uji coba pemilahan sampah di Depo dilakukan untuk menekan volume sampah yang diangkut ke Unit Pengelolaan Sampah (UPS). Dengan mengerahkan pemilah, melalui metode padat karya, nanti dilihat seperti apa penurunan sampahnya,” kata Hasto pada Selasa (22/7/2025).

Selain itu, Pemkot Yogyakarta juga mulai menerapkan pendekatan berbasis insentif kepada para penggerobak sampah. Ini adalah upaya konkret untuk mendorong partisipasi aktif dari garda terdepan penanganan sampah. Menariknya, penggerobak yang tidak membawa selembar pun plastik ke depo akan diberikan apresiasi khusus.

“Ini yang dicoba di Depo Kotabaru, ada 15 penggerobak yang coba dikasih ketentuan untuk tidak membawa selembar plastik pun ke Depo. Tentunya diberikan apresiasi untuk memilahnya, ada reward,” tambah Hasto. Saat ini, program insentif ini baru diimplementasikan di Depo Kotabaru dengan melibatkan 15 penggerobak.

Kunci Keberhasilan: Kolaborasi Hulu ke Hilir

Hasto sangat optimis bahwa kombinasi antara pemilahan di depo, partisipasi penggerobak, dan pemilahan di tingkat rumah tangga akan memberikan dampak yang signifikan terhadap pengurangan volume sampah secara keseluruhan.

Sebagai bukti nyata potensi keberhasilan, Hasto menunjuk Kemantren Pakualaman sebagai contoh wilayah yang telah sukses menerapkan sistem serupa. Di sana, pemilahan sampah dimulai dari tingkat rumah tangga, dan para penggerobak bahkan tidak mau mengangkut sampah yang belum terpilah.

“Hasilnya yang biasanya 8 ton per hari untuk satu wilayah kemantren, sekarang bisa berkurang drastis menjadi 2,5 sampai 3 ton saja per hari,” tutur Hasto, menunjukkan penurunan volume sampah yang drastis dan menjanjikan.

Inisiatif uji coba ini menjadi langkah krusial bagi Pemkot Yogyakarta dalam menemukan solusi jangka panjang yang berkelanjutan untuk masalah sampah, dengan harapan dapat mereplikasi keberhasilan Pakualaman di seluruh kota.

source:

https://jogja.suara.com/read/2025/07/22/193805/rahasia-jogja-kurangi-sampah-hingga-70-persen-insentif-penggerobak-jadi-kunci

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO