Apakah Ethanol berbahaya bagi kendaraan?

Analisis Ethanol dalam Bahan Bakar: Apakah Berbahaya bagi Kendaraan?
Publik kembali ramai memperbincangkan bisnis Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional, kali ini dipicu oleh penolakan beberapa Badan Usaha (BU) Swasta, seperti Shell, BP-AKR, dan Vivo, untuk membeli bensin impor dari Pertamina yang diketahui mengandung Ethanol (atau Bioethanol).
Meskipun terjadi riuh rendah terkait kebijakan impor yang kini terpusat melalui Pertamina, fokus pembahasan ini adalah pada aspek teknis dan isu di balik penggunaan ethanol sebagai campuran bensin.
Tinjauan Teknis: Ethanol dalam Bensin
Ethanol adalah komponen blending (pencampuran) yang umum digunakan dalam gasoline (bensin) secara global. Penggunaannya diklaim tidak hanya mendukung keberlanjutan, tetapi juga memiliki keunggulan teknis:
- Peningkatan RON: Ethanol memiliki angka oktan (RON) yang tinggi, bahkan bisa mencapai 108, yang secara teknis dapat meningkatkan performa pembakaran bensin.
- Keberlanjutan (Sustainability): Ethanol dikategorikan sebagai bahan bakar terbarukan (renewable feedstock), umumnya diproduksi dari tanaman seperti tebu.
- Jejak Karbon Rendah (Lower Carbon Footprint): Sebuah riset menunjukkan bahwa efisiensi energi pembuatan ethanol lebih baik daripada gasoline. Untuk menghasilkan 1 MMBTU energi dari ethanol, hanya dibutuhkan 0.78 MMBTU energi untuk membuatnya. Hal ini menghasilkan jejak karbon yang lebih rendah.
Kesimpulan Bahaya bagi Kendaraan
Secara teknis, isu utama penggunaan ethanol bukanlah performa atau kerusakan mesin. Pencampuran ethanol dalam bahan bakar sudah lazim dan tidak merusak mesin kendaraan.
Contoh di Indonesia: Pertamina sendiri telah memasarkan produk Pertamax Green 95 yang mengandung 5% ethanol, dan permintaan terhadap BBM ini stabil bahkan cenderung bertumbuh, menunjukkan penerimaan kualitas di masyarakat.
Implementasi Global dan Kondisi Bisnis
Penggunaan ethanol blending bukan hal baru; banyak negara telah menerapkannya melalui regulasi:
- Regulasi Wajib: Di Uni Eropa (EU) dan Inggris (UK), bensin wajib mengandung hingga 10% ethanol sebagai upaya mendukung target keberlanjutan.
- Praktik Industri: Perusahaan Oil & Gas multinasional, termasuk Shell, telah menjual bensin dengan 10% ethanol di UK sejak 2021. Kebijakan serupa juga berlaku di Amerika Serikat, Kanada, dan Thailand.
Isu Utama: Keekonomian, Bukan Teknis
Jika bukan masalah teknis, lalu apa yang menjadi isu utama ethanol blending?
Masalah utamanya adalah keekonomian. Ethanol cenderung lebih mahal daripada gasoline konvensional karena:
- Bahan baku utamanya (misalnya tebu) bersaing dengan kebutuhan sektor pangan.
- Terdapat tarik-menarik antara ethanol food grade dan ethanol fuel grade, yang menjaga harga ethanol tetap tinggi.
Akibatnya, persentase blending ethanol tidak dapat terlalu tinggi karena berisiko signifikan menaikkan harga bensin yang harus dibayar konsumen.
Rencana Indonesia ke Depan
Indonesia berencana menerapkan kebijakan ethanol blending dimulai dengan kadar 5% pada tahun 2027 sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan nasional.
Namun, implementasi kebijakan ini sangat bergantung pada beberapa faktor krusial:
- Kondisi pasar global dan harga bahan baku.
- Daya beli masyarakat.
- Kesediaan dan kemampuan pemerintah dalam memberikan insentif harga agar harga jual ke konsumen tetap terjangkau.
Polemik bisnis ritel BBM yang melibatkan BU Swasta saat ini bersifat dinamis. Meskipun demikian, secara teknis, penggunaan ethanol sudah terbukti aman dan menjadi standar global untuk mendukung transisi energi.
sumber:
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




