Berita

Kesadaran kolektif bisa jadi kunci atasi masalah sampah di kota Sorong

Kota Sorong, Krisis Sampah, Perubahan Mindset, dan Jalan Menuju Kota Bersih

Kota Sorong ditetapkan oleh KLHK sebagai salah satu dari lima kota terkotor di Indonesia (kategori kota sedang), terutama karena kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang tidak memadai. Namun, masalah ini kini menjadi pemicu untuk membangun kesadaran kolektif dan sistem pengelolaan yang lebih baik.

Tantangan Utama: Timbulan Sampah dan Fasilitas

1. Volume dan Komposisi Sampah

  • Timbulan Harian: Kota Sorong menghasilkan lebih dari 60 ton sampah setiap hari.
  • Dominasi Sampah: Limbah rumah tangga adalah penyumbang terbesar (sekitar 60% dari total timbulan).
  • Komposisi (Data DLH 2023):
    • Organik: Sekitar 55% (mendominasi).
    • Plastik: 28%.
    • Kertas, Logam, dan B3 Rumah Tangga: Sisanya.
  • Sumber Sampah Lain: Pasar/Pusat Perbelanjaan (20%), Sekolah/Perkantoran (10%), Wisata/Pelabuhan/Industri Kecil (10%).

2. Peningkatan Fasilitas TPA

  • TPA Lama: Berlokasi di Jalan Sorong-Makbon, sistem pembuangan dahulu hanya menumpuk sampah di pinggir jalan, menyebabkan pencemaran udara dan tanah.
  • TPA Baru (Diresmikan Feb 2024): Dibangun atas kolaborasi dengan Kementerian PUPR (Balai Prasarana Permukiman Wilayah Papua Barat).
    • Sistem: Lebih terkelola, menggunakan sel landfill aktif.
    • Proses: Sampah dipadatkan lapis demi lapis, dan air lindi (leachate) dialirkan ke kolam instalasi pengolahan untuk menetralkan pH dan mencegah pencemaran lingkungan.

Sistem Operasional Pengangkutan (Garda Terdepan DLH)

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sorong mengoperasikan sistem pengangkutan harian dengan armada 18 dump truck dan 4 arm roll, melayani tiga zona kerja.

Aspek OperasionalDetail Pelaksanaan
Armada & Ritase18 dump truck dan 4 arm roll menjalankan 2–4 kali ritase per hari.
Jam KerjaResmi pukul 06.00 hingga 15.00 sore, diikuti patroli ke titik rawan.
Titik Rawan21 kontainer tersebar di kota. TPS di Klabala, Arteri, Pal Putih, dan area Mangrove harus diangkut setiap hari karena volume yang tinggi dan cepat penuh.
Kekuatan TimMelibatkan 141 orang (sopir, helper, operator, mekanik, dll.).
Tantangan TeknisTidak ada alat timbang khusus, sehingga penghitungan volume menggunakan satuan ritase (sekali angkut penuh).
Tantangan TerberatPerilaku masyarakat yang membuang sampah di luar jam yang ditentukan dan sembarangan, bahkan setelah ada papan informasi.

🧠 Akar Masalah: Kesadaran Kolektif dan Solusi dari Hulu

Plt. Kepala DLH Kota Sorong, Ahmad Yani, menegaskan bahwa masalah utama bukan hanya fasilitas, tetapi “mindset dan kesadaran masyarakat” yang masih membuang sampah sembarangan.

Arah Kebijakan Pemerintah Kota:

  1. Pembangunan Mindset: Membangun kesadaran dimulai dari lingkup terkecil: keluarga.
  2. Program Percontohan: Mendorong setiap rumah memiliki tempat sampah terpilah (organik dan non-organik) untuk pengelolaan sampah sejak dari hulu.
  3. Sosialisasi: Melakukan sosialisasi intensif ke sekolah, kelurahan, dan masyarakat.
  4. Aksi Komunitas: Mengusulkan RT/RW menggelar lomba kebersihan untuk menumbuhkan semangat gotong royong.

Rekomendasi Akademisi (Nurbiah, Kaprodi Teknik Lingkungan Unamin):

  • Pengelolaan sampah di Sorong belum terpadu dan belum berkelanjutan.
  • Isu Utama: Pembakaran sampah sembarangan, rendahnya tingkat daur ulang di rumah tangga, dan banyaknya TPS liar.
  • Solusi Strategis:
    • Penertiban TPS Liar: Identifikasi, tertibkan, legalisasi TPS resmi, dan berikan sanksi tegas.
    • Kampanye Edukasi: Sosialisasi intensif ke sekolah, kampus, dan RT/RW.
    • Program One House, One Sorted Bin: Mendorong pemilahan sampah dari sumbernya.
  • Contoh Kegagalan: Riset di Pasar Remu menunjukkan pengelolaan sampah pasar masih jauh dari standar SNI.

Gerakan Warga: Aksi Nyata dari Komunitas

Di tengah keterbatasan pemerintah dan rendahnya kesadaran, gerakan perubahan datang dari inisiatif warga:

1. Yayasan Sorong Peduli Lingkungan (Eko Rianto / “Mas Lingkungan”)

  • Pendirian: Dimulai tahun 2010 sebagai Forum Komunikasi, mandiri sejak 2013, resmi berbadan hukum tahun 2019.
  • Fokus Kerja: Sampah, air, penghijauan, pengawasan, dan konservasi.
  • Pendekatan:
    • Edukasi: Mengajarkan pemilahan sampah, pembuatan ecobrick, dan daur ulang di sekolah (MAN Insan Cendekia, SMP Alam Inspirasi) dan komunitas.
    • Bank Sampah Unit Melati Raya: Warga menabung sampah anorganik (plastik, kardus) untuk dijual, menghasilkan pendapatan tambahan.
  • Dampak: TPS di Klasabi dan Kladufuk menjadi rapi dan membuka lapangan kerja.
  • Tantangan: Minimnya pendanaan (swadaya) dan kesadaran warga yang belum merata.

2. Penjaga TPS Klabala (Elisa Urath)

  • Aksi Spontan: Seorang pemuda yang secara sukarela menjadi penjaga tak resmi TPS di Taman Moses selama lebih dari dua tahun.
  • Motivasi: Kepedulian terhadap kelurahannya dan ironi bahwa taman kota bersejarah justru bersebelahan dengan TPS terburuk.
  • Krisis Lokal: TPS Klabala menampung sampah dari banyak kelurahan dan zona komersial (hotel, restoran) yang membuang sampah secara masif larut malam.
  • Solusi Warga: Melakukan pemalangan untuk mencegah warga membuang sampah sembarangan di luar kontainer, meskipun hal ini terkadang menghambat truk pengangkut DLH.
  • Seruan: Menuntut pemerintah untuk turun langsung meninjau, menegakkan pengawasan, dan menciptakan sistem pengelolaan sampah yang teratur dan strategis.

Secara keseluruhan, tantangan terbesar Kota Sorong adalah mengubah krisis sampah menjadi momentum untuk membangun kesadaran kolektif dan budaya memilah sampah dari rumah, didukung oleh penguatan sistem dan penertiban TPS ilegal oleh pemerintah.

sumber:

https://www.ekuatorial.com/2025/08/kesadaran-kolektif-bisa-jadi-kunci-atasi-masalah-sampah-di-kota-sorong/

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO