Tips

Menahan Sampah agar Tak Setiap Hari Membuangnya

Seperti halnya bidang lain, teknologi dan sistem pengelolaan sampah seharusnya terus berkembang. Ia tidak boleh stagnan dengan pola lama yang terbukti tidak efektif dan merusak lingkungan.

Di masa lalu, masyarakat bebas membuang sampah ke selokan, sungai, laut, pinggir jalan, bahkan lapangan terbuka tanpa rasa bersalah. Sebagian lainnya memilih membakar sampah sebagai cara tercepat untuk menghilangkannya.

Namun, seiring waktu, praktik-praktik tersebut mulai dilarang karena terbukti menimbulkan dampak serius bagi kesehatan dan lingkungan. Volume sampah yang terus meningkat memperparah dampak pencemaran, baik melalui pembuangan sembarangan maupun pembakaran terbuka.


Munculnya Sistem Pengumpulan Terpusat

Sebagai respons, pemerintah dan masyarakat mulai mengenal konsep tempat sampah komunal dan Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Lokasi ini dirancang sebagai titik pengumpulan sampah sebelum diangkut oleh petugas ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Di beberapa daerah, tempat sampah juga disediakan di depan setiap rumah—baik berupa fasilitas permanen maupun wadah sederhana dari bahan bekas, seperti ban.

Pada tahap ini, pola pengelolaan sampah masih sangat sederhana: sampah bercampur dikumpulkan, diangkut, lalu dibuang ke TPA.


Krisis TPA dan Overload Sampah

Seiring bertambahnya jumlah penduduk dan pola konsumsi, TPA mulai mengalami kelebihan kapasitas (overload). Umur layanan TPA menjadi semakin pendek karena volume sampah yang masuk tidak terkendali.

Ironisnya, meskipun TPA terus bertambah dan diperluas, hanya sekitar 29 persen sampah yang benar-benar masuk ke TPA. Sisanya masih tercecer di lingkungan—di sungai, lahan terbuka, atau dibakar.

Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem pengumpulan dan pembuangan terpusat saja tidak cukup untuk mengatasi persoalan sampah yang semakin kompleks.


Peralihan ke Pengelolaan di Sumber

Dari krisis tersebut muncul kesadaran baru: pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya, yaitu rumah tangga. Sekitar tahun 2016, mulai digalakkan gerakan pemilahan sampah organik dan anorganik.

Tujuannya jelas: mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA sekaligus meningkatkan pemanfaatan kembali sampah sebagai sumber daya.

Sejalan dengan itu, diperkenalkan pula program bank sampah dan TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Konsep ini tidak hanya menekankan aspek lingkungan, tetapi juga aspek ekonomi, dengan menjadikan sampah terpilah sebagai komoditas yang memiliki nilai jual.


Menuju Paradigma Baru Pengelolaan Sampah

Perjalanan pengelolaan sampah menunjukkan bahwa pendekatan “kumpul–angkut–buang” tidak lagi memadai. Ke depan, pengelolaan sampah harus bergerak menuju paradigma kelola di sumber, kurangi timbulan, dan sirkulasikan kembali material ke dalam siklus ekonomi.

Teknologi dan kebijakan persampahan harus terus berinovasi, tidak hanya pada aspek teknis, tetapi juga pada perubahan perilaku, kelembagaan, dan model bisnis. Tanpa itu, persoalan sampah akan terus berulang dengan skala yang semakin besar.

https://www.kompasiana.com/nara_akhirullah45/620079b2b4616e67bc66dbd2/menahan-sampah-agar-tak-setiap-hari-membuangnya?source=the_series

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Baca juga
Close
Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO