Artikel

Perlawanan Sunyi di Jantung Hutan Bengkulu

Di teras rumah panggung kayu itu, Hasan Mukti duduk bersila. Matanya menatap lurus ke arah pintu yang terbuka lebar, membingkai pemandangan liar yang menjadi halaman depan: pertemuan arus Sungai Lisai dan Sungai Seblat yang menderu tanpa henti. Di luar sana, hutan hujan tropis Kabupaten Lebong, Bengkulu, menyelimuti kampung mereka dalam isolasi yang purba.

Namun sore itu, gemuruh sungai seolah kalah oleh keheningan yang menggantung di dada Hasan. Ketua Komunitas Adat Sungai Lisai itu baru saja melepaskan beban yang menggelayuti pikirannya selama tiga tahun terakhir.

Sebuah keputusan besar telah diambil, bukan di ruang rapat pemerintah atau gedung parlemen, melainkan di atas karpet plastik merah di tengah hutan: mereka akan melawan arus zaman.

“Alhamdulillah, akhirnya kami bersepakat untuk kembali menanam padi riun,” ucap Hasan, Jumat (26/12/2025). Suaranya tenang, namun menyimpan kelegaan yang sulit disembunyikan.

Bagi orang kota, menanam padi mungkin terdengar biasa. Namun bagi sekitar 60 kepala keluarga yang tinggal di wilayah terisolasi ini—yang hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki enam jam menembus hutan dan menyeberangi enam anak sungai dari Desa Seblat Ulu—keputusan itu adalah soal hidup dan mati.

Ini adalah upaya merebut kembali kedaulatan pangan yang sempat tergadai oleh janji manis pertanian modern.


Awal Tragedi: “Racun Rumput” Masuk Kampung

Hasan tak ingat persis tanggalnya, tapi ia mengingat betul momen ketika botol-botol herbisida—yang oleh warga setempat disebut “racun rumput”—mulai masuk ke kampung mereka.

Narasinya menggoda: mengapa harus berlelah-lelah mencangkul dan menebas rumput, jika satu semprotan bisa mematikan gulma dalam sekejap?

“Saya ikut menggunakan racun karena beranggapan itu mempermudah dan mempercepat pengelolaan sawah,” aku Hasan, dengan nada menyesal.

Namun tanah punya ingatan sendiri. Penggunaan bahan kimia secara terus-menerus perlahan membunuh mikroorganisme tanah. Kesuburan alami yang dijaga leluhur selama puluhan tahun mulai runtuh.

Dampaknya tidak langsung terasa, tetapi pasti.

“Jika sebelumnya hasil panen padi riun mencapai 250 hingga 300 kiding (karung), setelah rutin menggunakan racun rumput, hasil panen merosot tajam hingga paling banyak 125 kiding,” kata Hasan.

Panen merosot, tapi petani tidak berhenti. Mereka justru terperosok lebih dalam.

Mengira padi lokal sudah tidak cocok lagi dengan tanah yang “keras”, pada 2018 gelombang kedua modernisasi masuk: benih padi pabrikan atau hibrida.

Hampir seluruh petani Sungai Lisai, termasuk Hasan, meninggalkan padi riun. Mereka beralih ke benih toko, berharap hasil panen kembali melimpah.

Yang terjadi justru sebaliknya.


Matematika Kerugian Petani Adat

Peralihan ke padi pabrikan membawa konsekuensi yang mencekik: pertanian biaya tinggi.

Jika dulu menanam padi riun cukup dengan modal tenaga, kini mereka harus menghadapi kenyataan baru: benih harus dibeli setiap musim tanam, pupuk kimia menjadi kewajiban, dan obat hama menjadi kebutuhan primer.

“Dulu, kalau menanam padi riun tidak perlu beli benih, pupuk, maupun racun hama. Sekarang, semuanya uang,” keluh Hasan.

Beban kerja pun bertambah. Padi riun cukup ditanam dengan jarak seseto (dari ujung jari ke siku), dua lubang per titik, dengan tiga batang per lubang. Sementara padi pabrikan menuntut kerapatan lebih tinggi: empat lubang, lima sampai enam batang per lubang.

Hasan pernah membandingkan bulir padi dari tiga tangkai padi riun dengan tiga tangkai padi pabrikan. Hasilnya membuatnya terpukul.

“Tumpukan bulir padi riun jauh lebih banyak. Padi riun bisa berkembang hingga 60 batang per lubang, sementara padi pabrikan hanya 20 sampai 30 batang,” ujarnya.

Secara kuantitas, padi pabrikan tak pernah menyentuh angka 100 kiding. Padahal pada masa kejayaan padi riun, panen bisa tembus 300 kiding.

Dampaknya fatal.

Dulu, Sungai Lisai adalah lumbung pangan, tempat orang luar datang membeli beras. Kini posisinya terbalik: warga Sungai Lisai harus keluar hutan membeli beras untuk bertahan hidup.

“Saya khawatir, kalau padi riun tidak dilestarikan, anak cucu kami nanti kesulitan mendapatkan beras dan hidup sengsara,” kata Hasan lirih.


Tembo dan Jejak Leluhur 1963

Bagi warga Sungai Lisai, padi riun bukan sekadar tanaman. Ia adalah identitas dan sejarah.

Hasan bercerita tentang Tembo, sebuah dokumen kuno sepanjang tujuh meter dan lebar satu setengah meter yang diwariskan nenek moyang mereka dari Manderas (Madras), Jambi.

Dalam gulungan sejarah itu tertulis petunjuk: ada dataran terbaik untuk menanam padi di tanah Seblat, dekat Air Batang Seblat, di belakang Gunung Kayu Aro.

Pada 1963, lima pemuda dari Manderas melakukan ekspedisi nekat. Mereka berjalan kaki tujuh hari tujuh malam menembus hutan Bengkulu yang kala itu masih perawan.

Berbekal beras setengah kaleng per orang, mereka merayap naik Gunung Rindu Hati, menyeberang sungai, hingga akhirnya tiba di dataran yang disebut dalam Tembo.

“Kami turun di muara Air Putih, menyeberang, dan sampailah di dataran ini. Lalu kami tebas hutan,” kenang Hasan.

Hal pertama yang mereka lakukan bukan membangun rumah, melainkan menanam segenggam benih padi riun yang dibawa dari kampung halaman.

Beberapa bulan kemudian, mereka kembali. Segenggam benih itu sudah menjadi hamparan emas. Hasil panennya mencapai dua setengah kaleng.

Bulir padi itu dibawa pulang ke Jambi sebagai bukti kepada Pesirah (kepala marga) bahwa tanah yang dijanjikan dalam Tembo benar-benar ada.

Sejak saat itu, padi riun menjadi benang merah yang menghubungkan komunitas adat Sungai Lisai dengan leluhur mereka.

Meninggalkan padi riun, bagi mereka, sama dengan memutus hubungan dengan sejarah kampung itu sendiri.


Operasi Penyelamatan: Benih Terakhir Seperempat Kaleng

Kesadaran untuk kembali menanam padi riun muncul setelah musyawarah adat pada Agustus lalu. Tetapi jalan pulang ternyata tidak mudah.

Padi riun nyaris punah dari kampung mereka sendiri.

Para warga membongkar bileak—lumbung padi tua—yang selama puluhan tahun menyimpan gabah. Mereka memeriksa dinding-dinding kayu yang penuh catatan arang, penanda tahun panen masa lampau.

Situasinya kritis. Hampir semua gabah sudah berusia lebih dari 10 tahun dan mustahil tumbuh. Harapan muncul dari dua bileak yang masih menyimpan sisa panen lima tahun lalu.

“Setelah dikumpulkan dari seluruh kampung, padi riun yang tersisa hanya seperempat kaleng,” kata Hasan.

Seperempat kaleng.

Itulah sisa kedaulatan pangan mereka.

Benih terakhir itu kini dipertaruhkan di sawah milik Hasan dan rekannya, Dedi. Musim ini mereka tidak mengejar hasil untuk makan, melainkan memperbanyak benih.

Tidak semua gabah tumbuh. Daya kecambah menurun termakan usia, sementara tanah sawah yang terpapar residu kimia membuat bibit muda kesulitan beradaptasi.

“Musim ini kami fokus memperbanyak benih dulu. Hasilnya belum bisa dibagi untuk makan, harus disimpan untuk bibit musim depan,” ujar Hasan.

Ia sadar, perjalanan memulihkan tanah dan memurnikan kembali benih akan memakan waktu bertahun-tahun.


Ritual Nabuh Benas: Pertanian sebagai Teologi

Kembalinya padi riun juga menandai hidupnya kembali ritual-ritual adat yang sempat meredup. Bagi masyarakat adat Sungai Lisai, pertanian bukan sekadar teknologi, melainkan spiritualitas.

Dalam prosesi Kenduri Nabuh Benas (menabur benih), empat orang mengumandangkan azan di empat penjuru sawah secara bersamaan.

“Empat penjuru itu melambangkan empat pemberian Tuhan kepada manusia: langkah, rezeki, pertemuan, dan maut,” jelas Hasan.

Lantunan Surat Yasin menggema di lembah, bersahutan dengan suara serangga hutan. Doa-doa dipanjatkan bukan hanya untuk panen melimpah, tetapi juga untuk keselamatan, kesehatan, dan keseimbangan alam.

Riduan, salah satu petani muda yang ikut dalam gerakan ini, merasakan betul perbedaannya. Baginya, padi riun bukan hanya soal rasa nasi yang lebih pulen dan mengenyangkan, tetapi soal kemandirian.

“Kalau padi pabrikan, hasilnya tidak cukup setahun. Kami harus beli beras. Tapi padi riun cukup sampai musim panen berikutnya, bahkan berlebih,” kata Riduan.

“Kalau semua petani kembali menanam padi riun, Sungai Lisai bisa kembali jadi lumbung padi, bukan konsumen beras.”


Perlawanan Sunyi di Tengah Hutan

Matahari mulai condong ke barat. Bias cahaya menembus celah dinding papan rumah Hasan. Ia beranjak mengambil air wudu, bersiap menunaikan salat Magrib.

Di luar, Sungai Lisai dan Seblat masih menderu—seolah menjadi saksi bisu perjuangan komunitas kecil ini.

Langkah Hasan dan warga Sungai Lisai adalah anomali di tengah modernisasi pertanian yang menyeragamkan pangan. Mereka memilih mundur selangkah ke masa lalu, demi melompat jauh ke masa depan yang lebih berdaulat.

Di tangan mereka, seperempat kaleng benih padi riun itu bukan sekadar biji-bijian.

Itu adalah harapan.

Itu adalah perlawanan sunyi, agar kelak anak cucu mereka tidak menjadi “pengemis pangan” di tanah mereka sendiri yang subur.

“Kami memanggil kembali roh itu,” pungkas Hasan, “agar kami tetap berdaulat di tanah leluhur.”

(Dedek Hendry)

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO