AAA Arina Saraswati perempuan ayu yangmau urus Ssampah

Profil AAA Arina Saraswati: Dari Anggota DPRD Menjadi Pegiat “Revolusi Sampah” Mandiri di Bali
Di tengah polemik kebijakan “Urus Sampahmu Sendiri” yang dilontarkan pemerintah daerah Bali, muncul sosok Anak Agung Ayu (AAA) Arina Saraswati Hardy, A.Par., M.M. Perempuan yang akrab disapa Ibu Arina ini menawarkan solusi konkret melalui pendekatan edukasi dan paket pengelolaan sampah rumah tangga yang aplikatif.
Sebagai mantan anggota DPRD Provinsi Bali (2004-2009) dan pemilik Hotel Melasti, Arina kini aktif mendedikasikan waktunya sebagai pegiat lingkungan dan urban farming melalui LPK Prshanti Nilayam Kuta.
Strategi “Paket Sampah Mandiri”: Mengubah Beban Menjadi Berkah
Arina menekankan bahwa masalah sampah di Bali tidak bisa diselesaikan hanya dengan polemik, melainkan harus dengan perubahan paradigma dan revolusi mental. Berikut adalah inti dari konsep pengelolaan sampah yang ia tawarkan:
1. Pemilahan Berbasis Warna
Masyarakat dilatih untuk menyediakan empat kategori tempat sampah berdasarkan fungsinya:
- Hijau: Sampah organik (fokus utama untuk diolah).
- Biru: Sampah yang bisa didaur ulang (recycle).
- Merah: Sampah B3 (bahan berbahaya dan beracun).
- Hitam: Sampah residu (tidak bisa didaur ulang).
2. Teknologi Compos Bag dan Biobakteri
Untuk mengatasi keterbatasan lahan di perkotaan, Arina memperkenalkan sistem kantong kompos (compos bag) dengan keunggulan:
- Kapasitas Variatif: Tersedia ukuran 50 hingga 200 liter untuk menampung volume sampah rumah tangga yang tinggi (rata-rata 12 kantong kresek per minggu).
- Penggunaan Biobakteri & Tanah Subur: Solusi untuk mempercepat penguraian dan menghilangkan bau menyengat, yang selama ini menjadi kendala utama masyarakat malas mengolah sampah sendiri.
- Monitoring Intensif: Arina tidak hanya menjual paket, tetapi memberikan pelatihan dan pendampingan mingguan melalui grup WhatsApp untuk memastikan keberhasilan pembuatan kompos.
3. Output: Urban Farming (Tabulampot)
Hasil dari pengolahan sampah organik ini langsung diaplikasikan untuk pertanian perkotaan. Warga diajak memanfaatkan kompos sendiri untuk menanam sayuran organik (seperti tomat) di pot atau polybag. Ini menciptakan ekosistem pangan sehat keluarga sekaligus halaman rumah yang asri.
Tantangan dan Langkah Strategis ke Depan
Meskipun proses pembuatan kompos membutuhkan waktu cukup lama (1-2 bulan), Arina memiliki rencana pengembangan jangka panjang:
- Konsep Hilir ke Hulu: Arina berencana membeli mesin pengolah untuk menarik “kompos setengah jadi” dari warga agar masyarakat tidak merasa terbebani dengan proses pematangan yang lama.
- Demplot (Demonstrasi Plot): Membangun lahan percontohan di daerah Tegalalang untuk membuktikan efektivitas pupuk kompos hasil olahan mandiri kepada masyarakat.
- Membangun Kepercayaan (Trust): Memberikan contoh gratis dan bukti nyata terlebih dahulu agar masyarakat tertarik untuk ikut serta.
Sekilas Tentang AAA Arina Saraswati
Selain sebagai pegiat lingkungan, Arina memegang berbagai posisi strategis dalam organisasi di Bali (periode 2025-2030), antara lain:
- Wakil Sekretaris DPD Partai Golkar Bali (Bidang Parekraf).
- Ketua Badan Pemberdayaan UMKM dan Koperasi DPD Partai Golkar Bali.
- Wakil Sekretaris BPD PHRI Provinsi Bali.
- Ketua Bidang Kemitraan Ikaboga Prov. Bali.
“Kalau tidak ada yang memulai, siapa lagi? Tidak penting jabatan seseorang, yang penting adalah kemauan untuk belajar dan mengedukasi lingkungan terkecil (keluarga) tentang sampah.” AAA Arina Saraswati.
Inovasi yang dijalankan Arina Saraswati membuktikan bahwa pengelolaan sampah bukan sekadar membuang pada tempatnya, tetapi tentang memprosesnya di sumbernya (rumah tangga) hingga menjadi input produktif bagi ketahanan pangan keluarga.
sumber:
https://pedomanrakyat.co.id/2026/04/06/aaa-arina-saraswati-perempuan-ayu-yang-mau-urus-sampah/
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




