Kisah perempuan Muara Gembong bertahan di tengah abrasi

Krisis Abrasi Muara Gembong: Perjuangan Ekonomi Perempuan Pesisir di Tengah Kegagalan Program Pemberdayaan
Muara Gembong, sebuah wilayah pesisir di utara Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, sempat berjaya pada era 1980-an hingga dijuluki “Kampung Dolar”. Melimpahnya udang, kepiting, dan hasil tambak mampu memberikan penghasilan fantastis sebesar Rp20 juta – Rp30 juta per bulan per kepala keluarga.
Namun, kejayaan tersebut runtuh sejak tahun 2000-an akibat eksploitasi pesisir dan pembabatan hutan mangrove besar-besaran untuk alih fungsi tambak. Dampak ekologisnya fatal: abrasi masif mengikis daratan, menenggelamkan area pertambakan, dan memutus mata pencarian utama warga.
Dampak Krisis Ekologis terhadap Kehidupan Sehari-hari
Hilangnya benteng alami (mangrove) membuat rob dan air pasang langsung merangsek ke permukiman warga di Desa Muara Beting. Warga yang tidak memiliki biaya untuk pindah terpaksa bertahan dengan kondisi darurat:
- Modifikasi Hunian: Warga membangun lantai panggung tambahan dari bambu dan kayu di dalam rumah agar perabotan tidak terendam air.
- Infrastruktur Tenggelam: Akses jalan utama telah lama tenggelam, digantikan oleh jembatan kayu seadanya yang dibangun secara swadaya.
- Krisis Sanitasi: Setiap pukul 18.00 WIB, air pasang merendam fasilitas MCK (mandi, cuci, kakus), menghentikan total aktivitas sanitasi warga.
Ekonomi Alternatif Berbasis Pengetahuan Lokal
Di tengah lumpuhnya peran ekonomi laki-laki (suami) yang kehilangan tambak, kelompok perempuan Muara Gembong mengambil alih kendali sebagai motor pertahanan keluarga. Berdasarkan studi lapangan bersama peneliti ITB dan Labtek Apung, mereka mengoptimalkan dua potensi alam yang tersisa:
1. Kerajinan Anyaman Wlingi Laut (Dot)
Wlingi laut (Cyperus malaccensis) adalah rumput liar yang tumbuh subur di kawasan payau pasca-abrasi.
- Produk: Tikar atau karpet anyaman.
- Kapasitas Produksi: 1 helai tikar per minggu.
- Harga Jual: Rp50.000 – Rp100.000 per tikar (tergantung ukuran).
- Pendapatan Bersih: Rata-rata Rp400.000 – Rp600.000 per bulan. Uang ini menjadi tumpuan utama pemenuhan kebutuhan pokok (sembako) keluarga.
2. Olahan Mangan Eksotis (Mangrove)
Memanfaatkan buah dari pohon pidada (Sonneratia caseolaris) untuk diolah menjadi produk bernilai tambah seperti dodol, sirup, hingga keripik mangrove.
Kendala Utama: Kedua komoditas ini belum bisa diproduksi secara massal dan masih berbasis pesanan (by order) dari kerabat terdekat. Hambatan terbesarnya adalah kerusakan infrastruktur jalan yang memutus rantai distribusi ke pasar luar, minimnya modal kerja, dan keterbatasan akses pasar.
Evaluasi Kebijakan: Paradoks Program CSR dan Pemberdayaan
Pada tahun 2023, Pemerintah Kabupaten Bekasi menerbitkan Peraturan Daerah tentang Kemudahan Perlindungan dan Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro. Aturan ini mendorong korporasi di sekitar wilayah Bekasi mengucurkan dana Corporate Social Responsibility (CSR). Namun, implementasi di lapangan dinilai salah sasaran akibat dua faktor:
- Eksklusi Usaha Rintisan: Program CSR cenderung memilih bermitra dengan UMKM yang sudah mapan dan siap masuk ritel modern, alih-alih menyuntikkan modal ke usaha mikro penyelamat keluarga di pesisir.
- Ketidaksesuaian Konteks Lokal (Misplaced Programs): Pemerintah/korporasi memaksakan program yang tidak ramah lingkungan pesisir.
Contoh Kasus Pelatihan Batik Mangrove: Program ini terpaksa dihentikan total karena pembuat kebijakan tidak memperhitungkan aspek keberlanjutan pasca-pelatihan. Bahan baku esensial seperti lilin batik (malam) tidak tersedia di pesisir dan harus dibeli di lokasi yang sangat jauh, sehingga memberatkan masyarakat secara finansial dan operasional.
Rekomendasi Solusi Berkelanjutan
Untuk mengubah strategi bertahan hidup (surviving) menjadi ekonomi kreatif yang berkelanjutan, pemerintah daerah dan korporasi disarankan mereformasi pendekatan mereka melalui:
┌────────────────────────────────────────────────────────┐
│ STRATEGI REFORMASI MUARA GEMBONG │
└───────────────────────────┬────────────────────────────┘
│
┌─────────────────────┼─────────────────────┐
▼ ▼ ▼
[Akses Fisik] [Injeksi Modal] [Literasi Digital]
Perbaikan infrastruktur Fokus dana CSR pada Pelatihan pemasaran
jalan demi mempermudah kerajinan wlingi & via media sosial agar
distribusi produk ke olahan pidada yang tidak bergantung pada
pasar ritel. sudah berjalan. tengkulak lokal.
Perempuan Muara Gembong telah membuktikan bahwa pengetahuan lokal mampu menjadi bantalan ekonomi di tengah bencana ekologis. Ketahanan ini tidak membutuhkan program pelatihan baru yang asing, melainkan membutuhkan keberpihakan kebijakan yang inklusif untuk memperkuat apa yang telah mereka mulai dan mereka kuasai.
sumber:
https://theconversation.com/kisah-perempuan-muara-gembong-bertahan-di-tengah-abrasi-251070
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




