Dokumen

Menuju Net Zero 2060: Bagaimana CCUS Menjadi Penyelamat Transisi Energi dan Industri Indonesia?

Menuju Net Zero 2060: Bagaimana CCUS Menjadi Penyelamat Transisi Energi dan Industri Indonesia?

Pertumbuhan pesat ekonomi nasional selama setengah abad terakhir membawa konsekuensi lonjakan emisi sektor energi hingga menyentuh 600 Mt CO2 pada tahun 2021, dengan porsi pembakaran batu bara yang mendominasi. Mengingat mayoritas pembangkit listrik bertenaga batu bara di Indonesia masih sangat muda dengan usia rata-rata 13 tahun, menonaktifkan aset-aset ini secara instan tentu tidak realistis bagi stabilitas ekonomi. Di sinilah teknologi Carbon Capture, Utilisation, and Storage (CCUS) hadir sebagai solusi strategis untuk menjembatani transisi energi tanpa mengorbankan ketahanan energi nasional. Berdasarkan analisis International Energy Agency (IEA), Indonesia ditargetkan mampu menangkap 6 Mt CO2 per tahun pada 2030, dan melonjak hingga 190 Mt CO2 per tahun pada 2060 demi dekarbonisasi yang optimal.

Kini, Indonesia memimpin kesiapan CCUS di Asia Tenggara dengan lebih dari 15 proyek aktif serta rencana pengembangan 7 hub penyimpanan karbon (storage hubs) skala besar. Penerapan teknologi ini sangat krusial bagi dekarbonisasi industri berat kategori sulit diturunkan emisinya (hard-to-abate) seperti semen—yang menyumbang sekitar 45 Mt CO2 per tahun—serta industri baja dan produksi amonia rendah emisi. CCUS tidak hanya mampu menekan emisi proses secara masif, tetapi juga memberikan peluang peningkatan produksi minyak dan gas bumi hulu melalui metode injeksi EOR/EGR.

Langkah awal ini diperkuat oleh diterbitkannya Permen ESDM No. 2/2023 sebagai kerangka regulasi CCUS pertama di kawasan ASEAN. Namun, cakupannya yang masih terbatas pada sektor migas hulu memerlukan perluasan hukum lebih lanjut. Guna mengoptimalkan nilai ekonominya, pemerintah perlu segera menyusun regulasi pendukung untuk pengembangan wilayah penyimpanan CO2 di luar area migas, keterlibatan pelaku non-migas, serta skema kredit karbon yang kuat. Pengaturan proyek lintas batas (cross-border) juga mendesak agar Indonesia sukses mengambil peran sebagai hub penyimpanan karbon regional bagi emisi negara tetangga seperti Singapura dan Jepang.


⚠️ Disclaimer:
Isi konten dalam dokumen ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pihak pembuat atau penerbit asli. Kami hanya membagikan ulang informasi ini untuk tujuan edukasi dan referensi. Segala pandangan, opini, atau data yang terkandung di dalamnya tidak mencerminkan sikap atau tanggung jawab kami. Harap verifikasi informasi secara independen sebelum menggunakannya untuk pengambilan keputusan.

https://www.linkedin.com/posts/ccus-in-indonesia-ugcPost-7495838904080674816-5_7a/?utm_source=share&utm_medium=member_desktop&rcm=ACoAAAtGGkQBsxwMBmX3lEJO8btihnfBCaHqTz4

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO