Emisi Metana Sektor Energi Indonesia Masih Penuh Ketidakpastian

Emisi metana dari sektor energi menjadi salah satu tantangan penting dalam upaya Indonesia menurunkan emisi gas rumah kaca. Namun, persoalan mendasarnya adalah besarnya emisi aktual masih belum dapat dipastikan dengan baik karena terdapat perbedaan cukup besar antara data resmi pemerintah dan estimasi ilmiah independen.
Publikasi Institute for Essential Services Reform (IESR) berjudul The Uncertainty of Methane Emissions in Indonesia’s Energy Sector menyoroti kesenjangan tersebut. Data National Inventory Report menunjukkan tren penurunan emisi metana, sementara estimasi PRIMAP justru memperlihatkan kecenderungan yang berlawanan.
Pada 2024, selisih antara kedua estimasi tersebut disebut mencapai sekitar 242 juta ton setara CO₂. Estimasi PRIMAP memperkirakan emisi metana sektor energi Indonesia mencapai sekitar 264 juta ton setara CO₂, meningkat sekitar 29 persen dibandingkan 2020.
Perbedaan yang sangat besar ini menunjukkan bahwa persoalan metana bukan hanya soal seberapa banyak emisi yang dihasilkan, tetapi juga bagaimana emisi tersebut diukur, dilaporkan, dan diverifikasi.
Salah satu sumber utama yang perlu mendapat perhatian adalah emisi fugitive, yaitu pelepasan gas yang tidak disengaja dari kegiatan produksi dan distribusi batu bara, minyak, serta gas bumi. Kebocoran dari sumur, fasilitas pengolahan, jaringan pipa, maupun tambang batu bara dapat menghasilkan emisi metana dalam jumlah signifikan.
Metana memiliki dampak besar terhadap pemanasan global karena kemampuannya memerangkap panas jauh lebih kuat dibandingkan karbon dioksida dalam jangka pendek. Karena itu, pengurangan emisi metana sering dianggap sebagai salah satu cara tercepat untuk memperlambat laju pemanasan global.
IESR menilai Indonesia masih menghadapi sejumlah kelemahan, terutama keterbatasan data, metodologi inventarisasi, serta belum tersedianya sistem Measurement, Reporting, and Verification atau MRV yang terstandarisasi untuk sektor energi.
Tanpa sistem pengukuran yang kuat, Indonesia akan kesulitan mengetahui tingkat emisi sebenarnya, menentukan sumber terbesar, maupun mengukur efektivitas program penurunan emisi.
Tantangan lainnya adalah belum adanya regulasi khusus dan peta jalan nasional yang secara spesifik mengatur pengurangan emisi metana dari sektor energi. Padahal, strategi yang jelas dibutuhkan untuk mendukung pencapaian komitmen internasional, termasuk Global Methane Pledge.
Di sektor minyak dan gas, sejumlah perusahaan mulai melakukan upaya mitigasi, terutama karena tuntutan pasar dan inisiatif internasional. Namun, pengelolaan coal mine methane dari industri batu bara dinilai masih relatif terbatas.
Ke depan, penguatan regulasi, standardisasi sistem MRV, peningkatan transparansi data, pemantauan kebocoran, serta penyusunan strategi mitigasi yang terukur menjadi langkah penting.
Mengurangi emisi metana tidak bisa dimulai dari angka yang tidak pasti. Indonesia membutuhkan data yang transparan dan sistem pengukuran yang kuat agar setiap kebijakan penurunan emisi benar-benar menghasilkan dampak yang dapat dibuktikan.
Sumber: Institute for Essential Services Reform (IESR)
https://iesr.or.id/pustaka/insight-paper-_-the-uncertainty-of-methane-emissions-in-indonesias-energy-sector/




