Ketergantungan Energi Fosil Membuat Asia Tenggara Rentan terhadap Guncangan Global

Ketergantungan Asia Tenggara terhadap impor bahan bakar fosil dinilai semakin menjadi ancaman bagi ketahanan energi sekaligus stabilitas ekonomi kawasan. Gangguan geopolitik pada jalur pasok energi global dapat dengan cepat memicu kenaikan harga, tekanan inflasi, membengkaknya beban fiskal, dan ketidakpastian ekonomi.
Institute for Essential Services Reform (IESR) menyoroti kondisi tersebut dalam publikasi From Energy Vulnerability to Economic Resilience: Rethinking Southeast Asiaโs Dependence on Fossil Fuels. Kajian ini menegaskan bahwa ketahanan energi jangka panjang tidak cukup hanya dengan memastikan pasokan minyak dan gas tetap tersedia.
Krisis di kawasan Selat Hormuz menjadi contoh bagaimana gangguan pada jalur energi strategis dapat memengaruhi negara-negara yang bergantung pada impor. Ketika harga energi melonjak, dampaknya tidak berhenti pada sektor listrik atau transportasi, tetapi merambat ke biaya produksi, harga barang, subsidi pemerintah, dan daya beli masyarakat.
Karena itu, Asia Tenggara perlu mengurangi paparan terhadap volatilitas harga energi dan risiko geopolitik eksternal. Salah satu langkah utamanya adalah mempercepat pengembangan energi terbarukan yang bersumber dari potensi domestik.
Elektrifikasi sektor transportasi dan industri juga menjadi bagian penting. Semakin banyak aktivitas ekonomi yang dapat dialihkan dari penggunaan langsung bahan bakar fosil menuju listrik, semakin besar peluang kawasan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak dan gas.
Penguatan integrasi jaringan listrik regional turut menjadi strategi utama. Melalui konektivitas seperti ASEAN Power Grid, negara-negara Asia Tenggara dapat saling berbagi pasokan listrik, memanfaatkan potensi energi terbarukan yang berbeda di setiap wilayah, serta meningkatkan ketahanan sistem ketika terjadi gangguan.
IESR juga menekankan pentingnya pengembangan industri hijau. Transisi energi dapat menjadi peluang untuk membangun industri baru, meningkatkan daya saing, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat rantai pasok teknologi energi bersih di kawasan.
Namun, transformasi tersebut membutuhkan tata kelola yang lebih kuat dan investasi besar. Melalui kerangka Southeast Asia Energy Transformation Initiative atau SEA-ETI, berbagai hambatan implementasi, kesenjangan kebijakan, dan kebutuhan pembiayaan dapat ditangani secara lebih terkoordinasi.
Ketahanan energi bukan sekadar memastikan pasokan bahan bakar tetap tersedia. Ketahanan yang sesungguhnya adalah mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi yang harganya mudah terguncang oleh konflik dan pasar global.
Dengan mempercepat energi terbarukan, elektrifikasi, interkoneksi jaringan, dan industri hijau, Asia Tenggara memiliki peluang untuk mengubah kerentanan energi menjadi fondasi bagi ekonomi yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Sumber: Institute for Essential Services Reform (IESR)
https://iesr.or.id/pustaka/from-energy-vulnerability-to-economic-resilience-rethinking-southeast-asia-dependence-on-fossil-fuels/




