Artikel

Belajar Menjadi Hijau: Perubahan Kota Dimulai dari Kebiasaan Kecil Warganya

Membangun kota hijau tidak selalu harus dimulai dari proyek besar, taman baru, atau teknologi mahal. Perubahan juga dapat tumbuh dari kebiasaan sehari-hari masyarakat dalam memperlakukan lingkungan tempat mereka hidup.

Jakarta memberikan gambaran menarik tentang hal tersebut. Di tengah kepadatan penduduk, lalu lintas, gedung tinggi, dan kebutuhan ruang yang terus meningkat, upaya menjadikan kota lebih hijau membutuhkan keterlibatan jauh lebih luas daripada sekadar pemerintah.

Menjadi hijau pada akhirnya merupakan sebuah proses belajar.

Masyarakat belajar mengurangi konsumsi yang tidak diperlukan, memilih barang yang dapat digunakan kembali, menghemat energi, menggunakan transportasi publik, menanam pohon, menjaga ruang terbuka, hingga mengelola limbah dari rumah.

Kebiasaan yang terlihat sederhana tersebut dapat memberikan dampak besar apabila dilakukan oleh jutaan penduduk kota.

Kota Hijau Dimulai dari Cara Kita Hidup

Sering kali konsep kota hijau dibayangkan sebagai kawasan dengan gedung ramah lingkungan, kendaraan listrik, taman luas, dan teknologi pintar.

Semua itu penting, tetapi kota tidak akan menjadi berkelanjutan jika perilaku masyarakatnya tidak ikut berubah.

Misalnya, keberadaan transportasi publik tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila sebagian besar masyarakat tetap memilih kendaraan pribadi.

Begitu pula dengan fasilitas pemilahan limbah. Infrastruktur tidak banyak berarti apabila material yang seharusnya dipisahkan sejak dari rumah tetap tercampur.

Karena itu, pembangunan kota hijau sebenarnya memiliki dua sisi: membangun infrastrukturnya sekaligus membangun kebiasaan masyarakatnya.

Belajar Mengurangi, Bukan Hanya Membersihkan

Salah satu perubahan pola pikir yang penting adalah bergeser dari sekadar membersihkan lingkungan menjadi mengurangi sumber masalahnya.

Dalam persoalan limbah, misalnya, solusi tidak cukup hanya dengan menambah armada pengangkutan atau tempat pembuangan.

Masyarakat juga perlu mengurangi penggunaan barang sekali pakai, memperpanjang umur barang, menggunakan kembali produk yang masih layak, serta memilah material yang dapat didaur ulang.

Pendekatan tersebut merupakan bagian dari ekonomi sirkular.

Tujuannya adalah membuat material tetap berada dalam siklus penggunaan selama mungkin sehingga kebutuhan terhadap bahan baku baru dapat dikurangi.

Rumah Bisa Menjadi Ruang Belajar Lingkungan

Perubahan juga dapat dimulai dari rumah.

Mematikan perangkat listrik ketika tidak digunakan, mengatur penggunaan pendingin ruangan, memanfaatkan cahaya alami, mengurangi pemborosan makanan, membuat kompos, hingga menanam tanaman merupakan bentuk pendidikan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi keluarga yang memiliki anak, kebiasaan tersebut sekaligus menjadi proses pembelajaran.

Anak yang sejak kecil terbiasa melihat orang tuanya memilah limbah, menghemat air, atau merawat tanaman akan lebih mudah memahami bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari kehidupan normal, bukan aktivitas khusus yang hanya dilakukan saat kampanye lingkungan.

Sekolah Memiliki Peran Besar

Pendidikan lingkungan juga perlu berlangsung di sekolah.

Namun, belajar tentang lingkungan sebaiknya tidak hanya dilakukan melalui buku pelajaran.

Sekolah dapat menjadi laboratorium kecil untuk mempraktikkan kehidupan berkelanjutan.

Kebun sekolah, pengomposan, pemilahan material, penghematan air dan listrik, penanaman pohon, serta pengamatan keanekaragaman hayati dapat memberikan pengalaman yang jauh lebih nyata bagi siswa.

Dengan cara tersebut, keberlanjutan tidak hanya menjadi pengetahuan tetapi berkembang menjadi kebiasaan.

Ruang Hijau Membutuhkan Warga yang Menjaganya

Membangun taman relatif lebih mudah dibandingkan memastikan taman tersebut tetap hidup selama puluhan tahun.

Tanaman membutuhkan air, pemeliharaan, ruang tumbuh, dan perlindungan.

Karena itu, masyarakat yang tinggal di sekitar ruang hijau perlu merasa memiliki kawasan tersebut.

Ketika warga terlibat, taman tidak hanya menjadi fasilitas pemerintah tetapi berubah menjadi bagian dari kehidupan komunitas.

Pendekatan serupa dapat diterapkan pada taman lingkungan, bantaran sungai, kebun kota, maupun ruang terbuka di permukiman.

Transportasi Juga Bagian dari Gaya Hidup Hijau

Cara masyarakat bergerak memiliki pengaruh besar terhadap lingkungan perkotaan.

Berjalan kaki, bersepeda, menggunakan transportasi umum, atau berbagi kendaraan dapat membantu mengurangi konsumsi energi dan emisi.

Tetapi perubahan perilaku tersebut membutuhkan dukungan infrastruktur.

Sulit meminta masyarakat berjalan kaki apabila trotoar tidak nyaman. Sulit mendorong penggunaan sepeda apabila jalurnya tidak aman. Dan sulit mengurangi kendaraan pribadi apabila transportasi publik belum memberikan layanan yang dapat diandalkan.

Karena itu, perubahan perilaku masyarakat harus berjalan bersama dengan perubahan kebijakan kota.

Hijau Tidak Harus Mahal

Ada anggapan bahwa gaya hidup berkelanjutan membutuhkan biaya tinggi.

Padahal, banyak praktik hijau justru berangkat dari prinsip menggunakan sumber daya secara lebih efisien.

Menghemat listrik berarti mengurangi tagihan. Menggunakan kembali barang mengurangi pembelian baru. Mengurangi makanan terbuang berarti menghemat pengeluaran rumah tangga.

Prinsip dasarnya bukan membeli sebanyak mungkin produk berlabel ramah lingkungan, tetapi menggunakan apa yang kita miliki dengan lebih bijaksana.

Dari Kebiasaan Menjadi Budaya Kota

Perubahan terbesar terjadi ketika perilaku ramah lingkungan tidak lagi terasa sebagai kewajiban.

Membuang dan memilah material dengan benar, membawa wadah sendiri, menggunakan transportasi publik, menjaga pohon, serta menghemat air seharusnya berkembang menjadi budaya masyarakat perkotaan.

Ketika kebiasaan tersebut dilakukan secara kolektif, dampaknya dapat jauh melampaui tindakan individu.

Kota dengan jutaan penduduk memiliki kekuatan besar. Jika setiap rumah mampu mengurangi sedikit penggunaan energi, makanan terbuang, dan material sekali pakai, akumulasi dampaknya dapat sangat besar.

Menjadi kota hijau bukan hanya persoalan berapa banyak taman yang dibangun atau pohon yang ditanam. Kota hijau lahir ketika warganya belajar menggunakan energi, air, ruang, dan sumber daya secara lebih bertanggung jawab.

Jakarta dapat terus membangun berbagai infrastruktur hijau. Namun, keberlanjutannya pada akhirnya juga bergantung pada masyarakat yang menggunakan dan menjaganya.

Karena sebelum sebuah kota benar-benar menjadi hijau, manusianya terlebih dahulu perlu belajar menjadi hijau.

Sumber: Elfayed.id — Belajar Menjadi Hijau
https://elfayed.id/oh-jakarta-kampoengku/belajar-menjadi-hijau/

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO