Berita

Karhutla Mengubah Cara Anak Belajar: Kutai Timur Buka Sekolah Bertahap Mengikuti Kualitas Udara

Kebakaran hutan dan lahan tidak berhenti pada persoalan api. Dampaknya dapat menjalar ke kesehatan, aktivitas ekonomi, mobilitas, hingga pendidikan. Di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, perubahan kualitas udara akibat asap karhutla bahkan menentukan apakah seorang anak dapat belajar langsung di sekolah atau harus kembali mengikuti pembelajaran jarak jauh.

Pemerintah Kabupaten Kutai Timur pada 9 Oktober 2026 mulai membuka sekolah secara bertahap dengan menyesuaikan kondisi kualitas udara di masing-masing kecamatan. Kebijakan ini diambil setelah sebelumnya pembelajaran tatap muka sempat dihentikan akibat memburuknya pencemaran udara. Melalui kebijakan terbaru, wilayah tidak diperlakukan secara seragam, tetapi dibagi berdasarkan kategori kualitas udara sehingga keputusan pembukaan sekolah dapat disesuaikan dengan kondisi lokal.

Tiga kecamatan, yaitu Sangatta Utara, Sangkulirang, dan Rantau Pulung, masuk dalam kategori hijau sehingga sekolah di wilayah tersebut diperbolehkan kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka. Sementara itu, sembilan kecamatan yang berada dalam kategori kuning memperoleh kelonggaran terbatas, dengan pembelajaran tatap muka diperbolehkan untuk jenjang sekolah menengah pertama sesuai ketentuan yang berlaku.

Enam kecamatan lain masih berada dalam zona merah, yakni Muara Wahau, Batu Ampar, Muara Bengkal, Muara Ancalong, Long Mesangat, dan Busang. Di wilayah-wilayah tersebut, pembelajaran jarak jauh tetap diberlakukan sampai kualitas udara memungkinkan kegiatan belajar mengajar dilakukan kembali secara langsung.

Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa kebijakan pendidikan dalam kondisi bencana lingkungan tidak bisa hanya didasarkan pada kalender akademik. Kualitas lingkungan juga harus menjadi bagian dari pertimbangan.

Asap Karhutla Adalah Persoalan Kesehatan Publik

Kabut asap akibat karhutla membawa partikel dan berbagai polutan yang dapat memengaruhi kesehatan manusia. Anak-anak termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus karena sistem pernapasan mereka masih berkembang dan aktivitas mereka sering melibatkan banyak waktu di luar ruangan.

Karena itu, keputusan apakah sekolah dibuka atau ditutup bukan semata-mata persoalan administrasi pendidikan.

Ia juga merupakan keputusan kesehatan masyarakat.

Ketika kualitas udara memburuk, perjalanan menuju sekolah, aktivitas olahraga, waktu istirahat di luar kelas, hingga ventilasi ruangan dapat menjadi jalur paparan.

Dalam situasi seperti ini, mempertahankan kegiatan tatap muka tanpa mempertimbangkan kondisi udara dapat meningkatkan risiko kesehatan yang seharusnya dapat dicegah.

Satu Kabupaten Bisa Memiliki Kondisi Udara yang Berbeda

Salah satu hal menarik dari kebijakan Kutai Timur adalah penggunaan pendekatan berdasarkan kondisi masing-masing wilayah.

Karhutla tidak selalu memberikan dampak yang sama di seluruh kecamatan.

Arah angin berbeda.

Jarak dari titik kebakaran berbeda.

Kepadatan asap berbeda.

Kondisi meteorologi juga dapat berubah dari waktu ke waktu.

Akibatnya, satu kecamatan dapat memiliki kualitas udara yang relatif lebih baik sementara wilayah lain masih menghadapi pencemaran berat.

Pendekatan zonasi memungkinkan pemerintah menghindari dua ekstrem sekaligus: membuka seluruh sekolah terlalu cepat atau menutup seluruh sekolah ketika sebagian wilayah sebenarnya sudah cukup aman.

Data Menjadi Dasar Pengambilan Keputusan

Kebijakan pembelajaran ini didasarkan pada hasil pemantauan kualitas udara dari Dinas Kesehatan.

Ini merupakan aspek penting.

Keputusan dalam kondisi pencemaran udara sebaiknya tidak hanya bergantung pada pengamatan visual seperti apakah langit terlihat berasap atau apakah bau kebakaran masih terasa.

Udara yang terlihat lebih jernih belum tentu sepenuhnya aman.

Karena itu, pengukuran kualitas udara memberikan dasar yang lebih objektif untuk menentukan langkah selanjutnya.

Pemantauan yang dilakukan secara berkala juga memungkinkan kebijakan berubah mengikuti kondisi lapangan.

Jika kualitas udara membaik, sekolah dapat kembali dibuka.

Jika memburuk, pembelajaran dapat dialihkan kembali.

Dengan pendekatan ini, kebijakan menjadi lebih adaptif.

Sekolah Harus Menjadi Ruang Aman

Sekolah bukan hanya tempat berlangsungnya proses pendidikan.

Ia juga memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan siswa, guru, dan tenaga kependidikan.

Karena itu, ketika sekolah kembali dibuka setelah periode kabut asap, langkah perlindungan tetap diperlukan.

Pemerintah Kutai Timur meminta guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan peserta didik menggunakan masker saat beraktivitas di sekolah maupun di luar ruangan.

Langkah seperti ini penting sebagai perlindungan tambahan, terutama ketika kualitas udara belum sepenuhnya kembali normal.

Namun masker seharusnya dipandang sebagai lapisan perlindungan, bukan satu-satunya solusi.

Pengaturan aktivitas luar ruangan, ventilasi kelas, durasi kegiatan, serta pemantauan kondisi kesehatan siswa juga memiliki peran penting.

Karhutla Menunjukkan Hubungan antara Lingkungan dan Pendidikan

Selama ini pendidikan sering dibicarakan terpisah dari isu lingkungan.

Padahal kasus di Kutai Timur menunjukkan hubungan keduanya sangat dekat.

Ketika hutan dan lahan terbakar, dampaknya dapat masuk langsung ke ruang kelas.

Anak tidak bisa berangkat sekolah.

Guru harus mengubah metode mengajar.

Orang tua harus menyesuaikan aktivitas keluarga.

Sekolah harus mempersiapkan sistem pembelajaran daring.

Dalam konteks yang lebih luas, kerusakan lingkungan dapat mengganggu hak anak untuk memperoleh pendidikan secara normal.

Karena itu, pencegahan karhutla juga dapat dilihat sebagai bagian dari perlindungan terhadap proses pendidikan.

Pembelajaran Daring Menjadi Sistem Cadangan

Pengalaman pandemi membuat banyak sekolah mengenal pembelajaran jarak jauh.

Kini sistem tersebut kembali menjadi alat untuk mempertahankan kegiatan belajar ketika kualitas udara tidak memungkinkan aktivitas tatap muka.

Namun pembelajaran daring memiliki keterbatasan.

Tidak semua siswa memiliki perangkat yang sama.

Kualitas internet berbeda-beda.

Tidak semua mata pelajaran efektif dilakukan secara daring.

Pendampingan orang tua juga berbeda.

Karena itu, PJJ sebaiknya dipahami sebagai mekanisme perlindungan sementara, bukan pengganti permanen pembelajaran langsung.

Semakin lama sekolah harus ditutup akibat bencana lingkungan, semakin besar pula kemungkinan munculnya kesenjangan belajar.

Karhutla Memiliki Biaya Sosial yang Lebih Besar dari yang Terlihat

Ketika karhutla terjadi, perhatian biasanya tertuju pada luas lahan terbakar.

Namun biaya sosialnya jauh lebih luas.

Sekolah terganggu.

Layanan kesehatan menghadapi tekanan.

Produktivitas menurun.

Penerbangan atau transportasi dapat terganggu.

Masyarakat harus membeli masker atau mengurangi aktivitas di luar rumah.

Dalam jangka panjang, dampak kesehatan juga dapat menimbulkan biaya tambahan.

Karena itu, kerugian akibat karhutla tidak boleh dihitung hanya dari hektare lahan yang terbakar.

Dampak terhadap pendidikan juga merupakan bagian dari kerugian tersebut.

Anak-Anak Menjadi Salah Satu Kelompok Paling Rentan

Anak memiliki kebutuhan perlindungan yang berbeda dengan orang dewasa.

Mereka memiliki frekuensi pernapasan yang lebih tinggi relatif terhadap ukuran tubuh dan masih mengalami perkembangan sistem organ.

Selain itu, anak sering melakukan aktivitas fisik yang meningkatkan volume udara yang dihirup.

Dalam kondisi pencemaran, faktor-faktor tersebut membuat perlindungan terhadap anak menjadi sangat penting.

Kebijakan menutup atau membuka sekolah karena kualitas udara seharusnya tidak dipandang sebagai bentuk gangguan terhadap pendidikan, tetapi sebagai upaya memastikan pendidikan berlangsung tanpa mengorbankan kesehatan.

Kebijakan Harus Fleksibel dan Cepat Berubah

Pemerintah Kutai Timur menyatakan kebijakan akan dievaluasi dalam tujuh hari atau lebih cepat apabila terjadi perubahan kualitas udara secara signifikan.

Prinsip ini penting.

Karhutla dan pencemaran udara sangat dinamis.

Arah angin dapat berubah.

Hujan dapat menurunkan konsentrasi polutan.

Titik kebakaran baru dapat muncul.

Karena itu, kebijakan yang terlalu kaku dapat menjadi tidak sesuai dengan kondisi nyata.

Sistem yang baik adalah sistem yang memiliki indikator jelas dan dapat berubah ketika datanya berubah.

Pencegahan Tetap Lebih Penting daripada Adaptasi

Pembelajaran daring, masker, zonasi sekolah, dan pemantauan kualitas udara adalah bentuk adaptasi terhadap dampak karhutla.

Semua itu penting.

Namun akar persoalannya tetap berada pada kebakaran itu sendiri.

Jika karhutla dapat dicegah, maka kebutuhan untuk menutup sekolah juga dapat dikurangi.

Karena itu, perlindungan pendidikan dari karhutla tidak hanya menjadi tanggung jawab dinas pendidikan.

Ia berkaitan dengan pengelolaan lahan, pencegahan kebakaran, patroli, tata ruang, penegakan aturan, kesiapsiagaan, dan pengelolaan lingkungan secara keseluruhan.

Kualitas Udara Harus Menjadi Bagian dari Tata Kelola Kota dan Daerah

Kasus Kutai Timur memperlihatkan bahwa kualitas udara bukan isu tambahan.

Ia dapat menentukan bagaimana masyarakat hidup sehari-hari.

Di masa depan, daerah yang rentan terhadap karhutla membutuhkan sistem pemantauan udara yang semakin kuat.

Data perlu tersedia secara berkala.

Masyarakat perlu memahami kategorinya.

Sekolah, rumah sakit, kantor, dan ruang publik perlu memiliki protokol yang jelas.

Dengan demikian, ketika kualitas udara berubah, masyarakat tidak perlu menunggu situasi menjadi darurat untuk mengambil tindakan.

Ketika Udara Menentukan Apakah Sekolah Dibuka

Ada pesan yang kuat dari peristiwa ini.

Pendidikan membutuhkan lebih dari guru, buku, kelas, dan jaringan internet.

Ia juga membutuhkan lingkungan yang sehat.

Seorang anak membutuhkan udara yang aman untuk bisa belajar.

Ketika udara tercemar hingga sekolah harus ditutup, kita melihat dengan sangat jelas bahwa kualitas lingkungan merupakan bagian dari fondasi pendidikan.

Karhutla bukan hanya persoalan hutan.

Ia dapat berubah menjadi persoalan kesehatan.

Menjadi persoalan pendidikan.

Menjadi persoalan ekonomi.

Dan akhirnya menjadi persoalan pembangunan.

Pembukaan sekolah secara bertahap di Kutai Timur merupakan langkah adaptif terhadap kondisi yang sedang terjadi. Namun dalam jangka panjang, keberhasilan yang lebih besar bukanlah seberapa cepat sekolah dapat dibuka setelah kabut asap.

Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika kebakaran dapat dicegah sehingga anak-anak tidak lagi harus memilih antara datang ke sekolah dan menghirup udara yang berbahaya.

Sumber: ANTARA News
https://www.antaranews.com/berita/5778456/kutim-buka-sekolah-bertahap-sesuai-kualitas-udara-dampak-karhutla

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO