BRICS Didorong Bangun Industri Mineral Kritis Bersama untuk Perkuat Transisi Energi

Menjelang KTT BRICS ke-18 di New Delhi, India, muncul dorongan agar negara-negara anggota BRICS memperkuat kerja sama dalam pengembangan industri dan pasar mineral kritis. Gagasan ini dinilai penting agar negara-negara Global South tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah atau produk setengah jadi, tetapi mampu mengembangkan industri bernilai tambah tinggi.
Mineral kritis seperti nikel, tanah jarang, dan berbagai mineral lainnya memiliki posisi strategis dalam transisi energi global. Material tersebut dibutuhkan untuk baterai kendaraan listrik, penyimpanan energi, teknologi energi terbarukan, elektronik, hingga berbagai industri berteknologi tinggi.
Indonesia menjadi salah satu negara yang mendapat perhatian karena keberhasilannya mendorong hilirisasi nikel. Namun, menurut Managing Director Energy Shift Institute, Putra Adhiguna, model hilirisasi Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya adalah perlunya peta jalan yang lebih jelas, transparansi aliran produk nikel, serta pengembangan industri hingga menghasilkan produk akhir bernilai tambah tinggi.
Besarnya posisi Indonesia dalam produksi nikel global juga memberikan peluang untuk mendorong standar investasi yang lebih tinggi. Pengembangan industri mineral kritis tidak hanya perlu mengejar peningkatan produksi, tetapi juga memperhatikan standar Environmental, Social, and Governance (ESG) serta penggunaan teknologi rendah emisi.
Pengalaman Brasil menunjukkan tantangan serupa. Negara tersebut memiliki cadangan tanah jarang yang besar dan telah lama melakukan pengolahan niobium, tetapi sebagian produksinya masih berada pada tahapan bahan antara. Nilai ekonomi yang lebih besar justru terdapat pada produk lanjutan seperti material berteknologi tinggi dan komponen elektronik.
Karena itu, kerja sama BRICS dinilai dapat menjadi peluang untuk membangun rantai industri yang lebih lengkap. Negara-negara anggota dapat menggabungkan kekuatan sumber daya mineral, kapasitas industri, teknologi, investasi, dan pasar yang besar.
Namun, pembangunan industri mineral kritis juga membawa tantangan lingkungan. Pertambangan dan pengolahan mineral dapat memberikan tekanan terhadap hutan, sumber air, keanekaragaman hayati, serta masyarakat di sekitar kawasan tambang apabila tidak dikelola dengan standar lingkungan yang kuat.
Transisi energi seharusnya tidak sekadar mengganti penggunaan bahan bakar fosil dengan teknologi berbasis mineral. Rantai pasok teknologi hijau juga harus dibangun dengan prinsip rendah emisi, bertanggung jawab terhadap lingkungan, memberikan nilai tambah bagi negara produsen, dan memperhatikan kondisi sosial masyarakat.
Jika BRICS mampu mengembangkan ekosistem mineral kritis bersama dari pertambangan, pengolahan, manufaktur hingga produk teknologi akhir, negara-negara berkembang memiliki peluang lebih besar untuk mengambil peran dalam ekonomi hijau global, bukan hanya sebagai pemasok sumber daya alam.
Sumber: Katadata — Jelang KTT, Bergulir Usul BRICS Bangun Industri dan Pasar Mineral Kritis Bersama
Baca berita selengkapnya di Katadata




