Dulu dianggep aneh, kakek ini 20 tahun tanam pohon demi amankan desa dari kekeringan

Di tengah semakin seringnya musim kemarau panjang dan krisis air bersih yang melanda berbagai daerah di Indonesia, kisah seorang kakek yang selama puluhan tahun menanam pohon menjadi pengingat bahwa solusi terhadap persoalan lingkungan tidak selalu harus dimulai dari proyek besar atau teknologi canggih. Terkadang, perubahan justru berawal dari tindakan sederhana yang dilakukan dengan penuh ketekunan.
Selama hampir dua dekade, kakek tersebut terus menanam pohon di kawasan perbukitan dan daerah tangkapan air di sekitar desanya. Pada awalnya, tindakannya sering dianggap aneh. Banyak warga mempertanyakan mengapa ia menghabiskan waktu dan tenaga menanam pohon yang hasilnya tidak bisa langsung dinikmati. Sebagian bahkan menganggap usahanya sia-sia.
Namun, waktu membuktikan sebaliknya.
Beberapa tahun kemudian, ketika banyak wilayah mengalami penurunan debit mata air akibat musim kemarau yang semakin panjang, desa tersebut justru masih memiliki pasokan air yang relatif stabil. Mata air yang sebelumnya mulai mengering perlahan kembali mengalir, sementara kondisi lahan menjadi lebih hijau dibandingkan daerah sekitarnya.
Mengapa Menanam Pohon Bisa Mengurangi Risiko Kekeringan?
Banyak orang beranggapan bahwa pohon “menghasilkan air”. Anggapan tersebut sebenarnya kurang tepat. Pohon tidak menciptakan air, tetapi berperan penting dalam menjaga siklus hidrologi, yaitu proses alami yang mengatur pergerakan air dari atmosfer ke permukaan bumi, ke dalam tanah, lalu kembali ke atmosfer.
Keberadaan pohon memberikan sejumlah manfaat penting bagi keseimbangan air, antara lain:
- Meningkatkan resapan air ke dalam tanah. Sistem perakaran membantu menciptakan pori-pori tanah sehingga air hujan lebih mudah meresap dibandingkan langsung mengalir di permukaan.
- Mengisi cadangan air tanah (groundwater recharge). Air yang meresap akan tersimpan sebagai air tanah dan menjadi sumber mata air pada musim kemarau.
- Mengurangi limpasan permukaan (runoff). Tajuk pohon memperlambat jatuhnya air hujan sehingga risiko banjir dan erosi berkurang.
- Menjaga kelembapan tanah. Lapisan serasah daun yang menutupi permukaan tanah membantu mengurangi penguapan.
- Menahan longsor. Akar pohon memperkuat struktur tanah, terutama di daerah berbukit.
Dengan kata lain, pohon berfungsi sebagai infrastruktur alami yang membantu menyimpan dan mengatur ketersediaan air.
Tidak Semua Pohon Memberikan Manfaat yang Sama
Keberhasilan penghijauan tidak hanya ditentukan oleh jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga oleh pemilihan jenis yang sesuai dengan kondisi ekosistem.
Di kawasan resapan air, berbagai jenis pohon lokal umumnya lebih efektif karena telah beradaptasi dengan karakter tanah dan iklim setempat. Contohnya adalah bambu yang mampu memperkuat tebing sungai, beringin yang memiliki sistem perakaran luas, aren yang banyak ditemukan di sekitar mata air, hingga berbagai jenis pohon hutan yang berakar dalam.
Sebaliknya, penanaman spesies yang tidak sesuai dapat memberikan manfaat yang lebih kecil atau bahkan menimbulkan masalah baru. Oleh karena itu, kegiatan rehabilitasi lahan sebaiknya didasarkan pada kajian ilmiah dan mempertimbangkan kondisi ekologis setempat.
Pohon, Air, dan Ketahanan Desa
Perubahan iklim menyebabkan pola curah hujan menjadi semakin tidak menentu. Musim hujan cenderung berlangsung lebih singkat tetapi dengan intensitas tinggi, sementara musim kemarau di beberapa wilayah menjadi lebih panjang.
Dalam kondisi seperti ini, daerah yang kehilangan tutupan vegetasi akan lebih rentan mengalami kekeringan. Air hujan yang turun deras tidak sempat meresap ke dalam tanah dan langsung mengalir ke sungai atau laut. Akibatnya, cadangan air tanah berkurang dan mata air lebih cepat mengering saat kemarau.
Sebaliknya, wilayah yang memiliki tutupan pohon yang baik cenderung lebih mampu menyimpan air dalam jangka panjang. Inilah sebabnya mengapa konservasi hutan, penghijauan daerah tangkapan air, dan rehabilitasi lahan menjadi bagian penting dari strategi adaptasi terhadap perubahan iklim.
Pelajaran dari Ketekunan
Kisah sang kakek menunjukkan bahwa menjaga lingkungan membutuhkan kesabaran. Pohon yang ditanam hari ini mungkin baru memberikan manfaat penuh setelah belasan bahkan puluhan tahun. Namun, manfaat tersebut dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat dalam bentuk ketersediaan air, berkurangnya risiko banjir dan longsor, udara yang lebih sejuk, serta lingkungan yang lebih sehat.
Apa yang dulu dianggap sebagai tindakan aneh ternyata menjadi investasi jangka panjang bagi keberlangsungan desa.
Menanam Pohon Berarti Menjaga Masa Depan
Di tengah meningkatnya ancaman krisis air dan perubahan iklim, menanam pohon bukan sekadar kegiatan penghijauan. Pohon merupakan bagian dari solusi berbasis alam (nature-based solutions) yang membantu menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap bencana.
Kisah ini mengajarkan bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari kebijakan berskala nasional atau teknologi berbiaya tinggi. Terkadang, perubahan dimulai dari satu orang yang percaya bahwa menjaga alam hari ini adalah cara terbaik untuk melindungi kehidupan di masa depan.
Karena pada akhirnya, pohon tidak hanya memberikan keteduhan. Pohon menjaga tanah tetap subur, membantu menyimpan air, melindungi mata air, dan menjadi warisan berharga bagi generasi yang akan datang.




