Fleksibilitas Sistem Listrik Jadi Kunci Percepatan Dekarbonisasi Indonesia

Perjalanan Indonesia menuju net zero emissions pada 2060 atau lebih cepat sangat bergantung pada transformasi sektor ketenagalistrikan. Seiring tenaga surya dan angin diproyeksikan menjadi tulang punggung pembangkitan listrik masa depan, kemampuan sistem listrik untuk beroperasi secara fleksibel menjadi semakin penting.
Fleksibilitas dibutuhkan karena produksi energi surya dan angin bersifat berubah-ubah mengikuti kondisi cuaca. Tanpa sistem yang mampu menyesuaikan pasokan dan permintaan secara cepat, peningkatan porsi energi terbarukan dapat menimbulkan tantangan operasional, meningkatkan biaya sistem, dan membatasi masuknya pembangkit energi bersih.
Institute for Essential Services Reform (IESR) mengidentifikasi lima pilar utama untuk meningkatkan fleksibilitas sistem ketenagalistrikan. Kelima pilar tersebut meliputi pembangkit yang fleksibel, sistem penyimpanan energi, interkoneksi jaringan, pengelolaan permintaan melalui smart grid, serta distributed energy resources yang memiliki kemampuan islanding.
Sistem penyimpanan energi seperti Battery Energy Storage System atau BESS menjadi salah satu komponen penting. Baterai dapat menyimpan listrik ketika produksi energi terbarukan sedang tinggi dan mengalirkannya kembali ketika kebutuhan meningkat atau produksi surya dan angin menurun.
Interkoneksi jaringan juga memegang peran besar. Dengan jaringan listrik yang saling terhubung, kelebihan pasokan dari satu wilayah dapat dialirkan ke daerah lain yang sedang membutuhkan. Dalam jangka panjang, interkoneksi antarpulau dapat membantu Indonesia memanfaatkan potensi energi terbarukan yang tersebar tidak merata.
Selain itu, pemanfaatan smart grid dan demand response memungkinkan konsumsi listrik ikut menyesuaikan kondisi sistem. Konsumen industri maupun rumah tangga dapat diarahkan untuk menggunakan listrik pada periode ketika pasokan energi terbarukan sedang tinggi.
Kajian IESR yang mengambil contoh sistem kelistrikan Sulawesi dan Sumbawa menunjukkan bahwa fleksibilitas tidak hanya penting untuk keandalan, tetapi juga dapat memberikan manfaat ekonomi. Pada Sulawesi, skenario sistem yang lebih fleksibel dan berbiaya rendah diperkirakan dapat menurunkan biaya pembangkitan listrik hingga 27 persen pada 2060.
Untuk mempercepat perubahan tersebut, Indonesia dinilai perlu segera menyusun peta jalan fleksibilitas sistem listrik nasional, mempercepat implementasi smart grid, mengembangkan proyek percontohan baterai dan pumped hydro, serta memperbaiki mekanisme pasar ketenagalistrikan.
Program demand response juga perlu mulai dikembangkan agar konsumen dapat berperan aktif dalam menjaga keseimbangan jaringan listrik. Dalam jangka panjang, investasi pada penyimpanan energi berskala besar, interkoneksi antarpulau, dan sistem perencanaan jaringan modern menjadi semakin penting.
Transformasi ini menunjukkan bahwa transisi energi bukan hanya persoalan membangun sebanyak mungkin panel surya atau turbin angin. Sistem di belakang pembangkit tersebut juga harus berubah agar mampu mengelola energi secara dinamis.
Semakin besar porsi energi terbarukan dalam sistem listrik, semakin penting pula kemampuan jaringan untuk menyimpan, memindahkan, dan mengatur energi. Fleksibilitas menjadi fondasi agar sistem listrik rendah karbon tetap andal sekaligus terjangkau.
Sumber: Institute for Essential Services Reform (IESR)
https://iesr.or.id/en/pustaka/the-importance-of-increasing-flexibility-in-electricity-decarbonization/




