Global Stocktake Pertama: Ambisi Iklim Indonesia Dinilai Masih Perlu Diperkuat

Hasil Global Stocktake pertama menunjukkan bahwa aksi iklim dunia, termasuk Indonesia, masih belum cukup untuk mencapai tujuan Perjanjian Paris. Meskipun Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar dan peluang pengurangan emisi yang signifikan, kemajuan dekarbonisasi di berbagai sektor utama masih dinilai terbatas.
Kajian Institute for Essential Services Reform menyoroti kesesuaian target, kebijakan, dan regulasi iklim Indonesia dengan hasil Global Stocktake. Perhatian utama diarahkan pada dua sasaran global penting, yaitu melipatgandakan tiga kali kapasitas energi terbarukan dan menggandakan laju peningkatan efisiensi energi.
Tantangan Indonesia tidak hanya berada pada sektor kelistrikan. Dekarbonisasi juga perlu dipercepat pada sektor transportasi, industri, dan pengelolaan limbah. Keempat sektor tersebut memiliki kontribusi penting terhadap emisi nasional sekaligus menawarkan peluang besar untuk transformasi menuju ekonomi rendah karbon.
Salah satu agenda yang perlu mendapat perhatian adalah percepatan pengurangan penggunaan batu bara. Ketergantungan yang tinggi terhadap pembangkit berbasis batu bara dapat memperlambat penurunan emisi sekaligus meningkatkan risiko aset terdampar ketika sistem energi global semakin beralih menuju energi bersih.
Di sektor transportasi, elektrifikasi kendaraan perlu dibarengi dengan perbaikan transportasi publik dan pasokan listrik yang semakin rendah karbon. Sementara itu, sektor industri membutuhkan peningkatan efisiensi energi, elektrifikasi proses produksi, serta penggunaan sumber energi yang lebih bersih.
Indonesia sebenarnya memiliki modal besar berupa potensi energi terbarukan yang melimpah. Namun, potensi tersebut perlu diterjemahkan menjadi proyek nyata melalui kebijakan yang konsisten, regulasi yang mendukung, serta akses pembiayaan yang lebih kuat.
Kajian tersebut juga menekankan pentingnya transisi energi yang berkeadilan. Perubahan sistem energi harus memperhatikan pekerja, masyarakat di sekitar wilayah pertambangan, kelompok rentan, dan daerah yang ekonominya masih bergantung pada industri berbasis fosil.
Selain upaya domestik, peningkatan ambisi iklim Indonesia juga membutuhkan dukungan internasional. Pembiayaan iklim, transfer dan pengembangan teknologi, serta peningkatan kapasitas menjadi faktor penting untuk membantu Indonesia menjalankan target yang lebih ambisius.
Kemitraan internasional yang sudah tersedia dapat dimanfaatkan untuk mempercepat investasi energi bersih sekaligus memperkuat ketahanan energi dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Global Stocktake memberikan pesan bahwa target iklim saja tidak cukup. Indonesia membutuhkan percepatan implementasi, konsistensi kebijakan, pembiayaan yang memadai, dan transformasi lintas sektor agar potensi energi bersih benar-benar menjadi fondasi pembangunan rendah karbon.
Sumber: Institute for Essential Services Reform (IESR)
https://iesr.or.id/en/pustaka/after-the-first-global-stocktake-the-outlook-of-indonesias-climate-and-energy-transition-policy-and-regulation/




