Kegiatan LH

Hari Habitat Dunia 2025: Respons Krisis Perkotaan

Semakin banyak orang di seluruh dunia terpaksa meninggalkan rumahnya karena berbagai krisis, seperti konflik, ketidakstabilan politik, perubahan iklim, hingga kesulitan ekonomi. Saat ini, tercatat 122 juta orang terpaksa mengungsi. Dalam dunia yang semakin urban, pengungsian kini juga menjadi fenomena perkotaan. Lebih dari 60% pengungsi, migran, dan warga yang mengungsi di dalam negeri mencari tempat aman di kota. Kondisi ini menambah tekanan pada sistem perkotaan, mempercepat pertumbuhan kota, sekaligus mengubah wilayah secara signifikan.

Karena itu, Hari Habitat Dunia 2025 akan menyoroti pentingnya respons krisis perkotaan.


Tema 2025: Respons Krisis Perkotaan

Hari Habitat Dunia diperingati setiap Senin pertama di bulan Oktober, ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengingatkan bahwa setiap orang berhak atas tempat tinggal yang layak.

Pada 6 Oktober 2025, peringatan global Hari Habitat Dunia akan terfokus pada bagaimana kota merespons berbagai krisis, terutama yang terkait perubahan iklim dan konflik. Tema ini juga menekankan pentingnya mengurangi kesenjangan, serta memperkenalkan berbagai pendekatan dan alat yang efektif dalam menangani krisis perkotaan.

Hari ini akan menyoroti solusi yang berkelanjutan, dapat diterapkan secara luas, dan bersifat transformasional untuk mengatasi pengungsian di perkotaan. Tujuannya adalah menstabilkan kehidupan masyarakat, menciptakan kemakmuran, serta memperkuat kohesi sosial. Selain itu, akan ditegaskan juga pentingnya perencanaan tata kota, tata kelola yang inklusif, dan peran pemerintah daerah dalam menciptakan solusi jangka panjang bagi masalah pengungsian.


Acara Hari Habitat Dunia 2025

  • Lokasi: Nairobi, Kenya
  • Tanggal: 6 Oktober 2025

Informasi lebih lanjut seperti catatan konsep, jadwal acara, dan panduan peserta tersedia di situs resmi UN-Habitat.


Latar Belakang

Sejak tahun 1985, PBB menetapkan Senin pertama bulan Oktober sebagai Hari Habitat Dunia. Tujuannya adalah untuk merefleksikan kondisi pemukiman manusia sekaligus mengingatkan dunia bahwa setiap orang memiliki hak dasar atas tempat tinggal yang layak.

Hari ini juga menjadi pengingat bahwa kita semua memiliki tanggung jawab bersama untuk membentuk masa depan kota dan lingkungan tempat kita tinggal.


Sejarah

Hari Habitat Dunia pertama kali diperingati pada 1986 dengan tema “Shelter is My Right” di Nairobi. Sejak itu, setiap tahun tema yang diangkat berbeda-beda, misalnya:

  • “Shelter for the Homeless” (1987, New York)
  • “Shelter and Urbanization” (1990, London)
  • “Future Cities” (1997, Bonn)
  • “Safer Cities” (1998, Dubai)
  • “Women in Urban Governance” (2000, Jamaika)
  • “Cities without Slums” (2001, Fukuoka)
  • “Water and Sanitation for Cities” (2003, Rio de Janeiro)
  • “Planning our Urban Future” (2009, Washington D.C.)
  • “Better City, Better Life” (2010, Shanghai, China)
  • “Cities and Climate Change” (2011, Aguascalientes, Meksiko)

Penghargaan Scroll of Honour

Pada tahun 1989, UN-Habitat meluncurkan Scroll of Honour Award, penghargaan paling bergengsi di bidang permukiman manusia.

Penghargaan ini diberikan kepada individu maupun lembaga yang memberikan kontribusi luar biasa dalam:

  • Penyediaan hunian layak, terjangkau, dan mudah diakses
  • Mengangkat isu tentang tunawisma
  • Memimpin rekonstruksi pasca-konflik
  • Mengembangkan dan meningkatkan kualitas permukiman serta kehidupan perkotaan

Dengan penghargaan ini, UN-Habitat berharap dapat mendorong lebih banyak inovasi dan komitmen dalam pembangunan kota yang manusiawi, inklusif, dan berkelanjutan.

Sumber:

https://www.un.org/en/observances/habitat-day

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO