Ironi di Tengah Karhutla Ketapang: Saat Api Dipadamkan, Pembukaan Lahan Justru Ditemukan

Di tengah upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di Ketapang, Kalimantan Barat, muncul temuan yang memperlihatkan betapa kompleksnya persoalan karhutla.
Ketika petugas sedang berjibaku memadamkan api, tim gabungan Kementerian Kehutanan justru menemukan aktivitas pembukaan lahan menggunakan alat berat di kawasan Hutan Produksi Konversi.
Dalam operasi tersebut, dua orang diamankan dan satu unit ekskavator disita. Alat berat itu diduga digunakan untuk membuat parit sekaligus membuka badan jalan dengan panjang masing-masing sekitar 1.050 meter.
Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman. Aktivitas yang dapat mengubah tutupan lahan dan tata air juga perlu diawasi secara ketat, khususnya ketika berlangsung di kawasan hutan.
Karhutla Bukan Hanya Persoalan Api
Kebakaran hutan dan lahan sering terlihat sebagai persoalan yang dimulai ketika api muncul.
Padahal, kondisi yang menyebabkan suatu kawasan rentan terbakar dapat terbentuk jauh sebelumnya.
Pembukaan vegetasi, pembangunan jalan, pembuatan kanal atau parit, perubahan tata air, hingga aktivitas penggunaan lahan dapat mengubah karakter suatu bentang alam.
Ketika vegetasi dibuka dan kelembapan tanah berkurang, sebagian kawasan dapat menjadi lebih rentan terhadap kekeringan dan kebakaran.
Karena itu, strategi penanggulangan karhutla perlu melihat apa yang terjadi sebelum api muncul, bukan hanya ketika kebakaran sudah berlangsung.
Parit Bisa Mengubah Tata Air
Salah satu aktivitas yang ditemukan dalam kasus tersebut adalah pembuatan parit.
Dalam pengelolaan lanskap, pembangunan parit bukan persoalan sederhana. Parit dapat memengaruhi bagaimana air bergerak dan tersimpan di suatu wilayah.
Apabila dibuat tanpa perencanaan lingkungan yang memadai, saluran dapat mempercepat keluarnya air dari suatu kawasan.
Di wilayah yang rentan terhadap kekeringan, perubahan tata air dapat meningkatkan risiko lahan menjadi lebih kering.
Itulah sebabnya pengawasan terhadap pembangunan kanal dan parit menjadi penting, terutama di kawasan hutan dan lahan yang memiliki fungsi ekologis.
Jalan Membuka Akses ke Kawasan Hutan
Pembukaan badan jalan juga memiliki konsekuensi yang lebih luas daripada sekadar menyediakan akses kendaraan.
Jalan dapat menjadi pintu masuk bagi aktivitas berikutnya.
Ketika akses menuju suatu kawasan semakin mudah, tekanan terhadap hutan juga dapat meningkat melalui pembukaan lahan tambahan, pengangkutan material, maupun aktivitas lainnya.
Dalam ilmu konservasi, fenomena ini menjadi salah satu alasan pembangunan akses di kawasan hutan harus direncanakan dan diawasi secara ketat.
Fragmentasi habitat juga dapat terjadi ketika bentang hutan terpotong oleh jaringan jalan.
Hutan Produksi Konversi Tetap Memiliki Aturan
Status Hutan Produksi Konversi memang memungkinkan perubahan fungsi kawasan melalui mekanisme tertentu.
Namun hal tersebut bukan berarti setiap pihak bebas membuka kawasan tanpa prosedur.
Penggunaan kawasan hutan tetap harus mengikuti ketentuan, perizinan, dan tata kelola yang berlaku.
Karena itu, apabila ditemukan aktivitas pembukaan lahan yang diduga tidak sesuai ketentuan, proses hukum diperlukan untuk memastikan siapa yang bertanggung jawab dan apakah terdapat pelanggaran.
Dalam kasus di Ketapang ini, proses tersebut masih berlangsung.
Penyidik juga masih mendalami kemungkinan adanya keterlibatan pihak lain.
Karena proses hukum belum selesai, penting untuk tidak menyimpulkan kesalahan pihak tertentu sebelum hasil penyidikan dan proses hukum memberikan kepastian.
Ekskavator Mempercepat Perubahan Lanskap
Penggunaan alat berat membuat perubahan lahan dapat berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan pembukaan secara manual.
Dalam waktu relatif singkat, ekskavator dapat membersihkan vegetasi, menggali parit, meratakan tanah, dan membentuk jalan.
Kemampuan tersebut sangat membantu dalam pembangunan yang legal dan direncanakan dengan baik.
Namun ketika digunakan pada aktivitas yang tidak sesuai ketentuan, dampaknya terhadap bentang alam juga dapat terjadi dengan sangat cepat.
Karena itu, pengawasan alat berat di kawasan hutan menjadi salah satu aspek penting dalam penegakan hukum kehutanan.
Pemadaman dan Penegakan Hukum Harus Berjalan Bersamaan
Karhutla membutuhkan setidaknya dua jenis respons.
Yang pertama adalah respons darurat, yaitu memadamkan api, melindungi masyarakat, dan mencegah kebakaran meluas.
Yang kedua adalah respons struktural, yaitu mencari penyebab, mencegah aktivitas yang meningkatkan risiko, dan melakukan penegakan hukum apabila ditemukan dugaan pelanggaran.
Jika hanya api yang dipadamkan sementara faktor penyebab tidak ditangani, kebakaran berpotensi berulang.
Karena itu, patroli, pemantauan hotspot, pengawasan penggunaan lahan, dan penegakan hukum harus menjadi satu rangkaian kebijakan.
Teknologi Bisa Membantu Pengawasan
Kawasan hutan Indonesia sangat luas sehingga pengawasan hanya melalui patroli darat memiliki keterbatasan.
Teknologi dapat membantu.
Citra satelit dapat digunakan untuk mengidentifikasi perubahan tutupan lahan.
Drone dapat membantu melihat pembangunan jalan atau kanal baru.
Data hotspot dapat menunjukkan indikasi kebakaran.
Sementara informasi perizinan dan peta kawasan dapat digunakan untuk memeriksa apakah suatu kegiatan berada pada lokasi dan izin yang sesuai.
Jika data tersebut diintegrasikan, perubahan bentang alam dapat diketahui lebih cepat.
Pencegahan Harus Dimulai Sebelum Musim Kebakaran
Pengalaman karhutla berulang menunjukkan bahwa biaya pencegahan biasanya jauh lebih kecil dibandingkan kerugian setelah kebakaran besar terjadi.
Ketika api sudah meluas, pemerintah harus mengerahkan petugas, kendaraan, pompa, helikopter, logistik, hingga layanan kesehatan.
Dampaknya juga meluas ke kualitas udara, transportasi, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan emisi karbon.
Karena itu, periode sebelum musim kemarau seharusnya menjadi waktu utama untuk memeriksa kawasan rawan.
Apakah terdapat kanal baru?
Apakah terjadi pembukaan lahan?
Apakah vegetasi mulai mengering?
Apakah terdapat aktivitas alat berat?
Pertanyaan seperti itu dapat menjadi bagian dari sistem pencegahan dini.
Karhutla pada Akhirnya Adalah Persoalan Tata Kelola Lahan
Api memang menjadi bagian yang paling terlihat dari kebakaran hutan dan lahan.
Namun banyak persoalan sebenarnya berada di balik api tersebut.
Siapa yang menguasai lahan?
Apa fungsi kawasannya?
Aktivitas apa yang dilakukan?
Bagaimana tata airnya?
Apakah pembukaan memiliki izin?
Dan siapa yang bertanggung jawab ketika kerusakan terjadi?
Kasus Ketapang mengingatkan bahwa penanggulangan karhutla tidak dapat dipisahkan dari tata kelola hutan dan penggunaan lahan.
Pemadaman tetap sangat penting, tetapi pencegahan membutuhkan sesuatu yang lebih luas: pengawasan, transparansi, tata ruang, perlindungan ekosistem, dan penegakan hukum.
Ironinya memang tajam.
Di satu sisi, petugas bekerja keras memadamkan api agar kerusakan tidak semakin luas.
Di sisi lain, pada saat yang hampir bersamaan ditemukan aktivitas yang diduga membuka kawasan menggunakan alat berat.
Karhutla tidak akan selesai hanya dengan memadamkan api. Yang juga harus dijaga adalah bentang alam agar tidak terus diciptakan menjadi semakin rentan terbakar.
Sumber: Kementerian Kehutanan & ANTARA
https://www.instagram.com/p/DdGRliDyjOZ/




