Berita

Kebun Raya Banua Hadapi Karhutla dan Kekeringan Ekstrem, Ribuan Tanaman Konservasi Dijaga Ketat

Ribuan koleksi tumbuhan di Kebun Raya Banua, Kalimantan Selatan, menghadapi ancaman serius dari musim kemarau panjang. Bukan hanya api kebakaran hutan dan lahan yang harus diwaspadai, tetapi juga kekeringan yang mulai membuat sejumlah tanaman mengalami tekanan berat. Di kawasan konservasi seluas 100 hektare tersebut tersimpan lebih dari 3.000 jenis tanaman—mulai dari tanaman obat, anggrek dan tumbuhan langka hingga ulin, kasturi, meranti dan berbagai jenis kantong semar.

Ketika kebakaran hutan dan lahan terjadi, perhatian publik biasanya tertuju pada asap yang memenuhi udara, gangguan kesehatan masyarakat, terhambatnya transportasi atau satwa liar yang kehilangan habitat.

Namun ada korban lain yang sering luput dari perhatian:

tumbuhan.

Berbeda dengan satwa yang dalam kondisi tertentu masih dapat berpindah menghindari api, tanaman tidak memiliki pilihan tersebut.

Mereka berdiri di tempat yang sama ketika suhu meningkat, tanah mengering dan api mendekat.

Situasi inilah yang kini menjadi perhatian pengelola Kebun Raya Banua di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Lebih dari 3.000 Jenis Tanaman Harus Dilindungi

Kebun Raya Banua merupakan kawasan konservasi tumbuhan yang dikelola Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.

Luasnya mencapai sekitar 100 hektare.

Di dalam kawasan tersebut tersimpan lebih dari 3.000 jenis tanaman, termasuk tanaman obat, anggrek, tanaman langka serta berbagai tumbuhan khas dan endemik.

Beberapa koleksinya antara lain:

  • ulin,
  • kasturi,
  • meranti,
  • kayu manis,
  • anggrek,
  • tanaman obat,
  • serta beragam jenis kantong semar.

Kebun Raya Banua juga tercatat sebagai anggota Botanic Gardens Conservation International (BGCI) dan memperoleh penghargaan Kebun Raya Terbaik I se-Indonesia dalam Kebun Raya Award 2025.

Artinya, kawasan ini bukan sekadar taman hijau untuk rekreasi.

Ia merupakan tempat penyimpanan kekayaan genetik tumbuhan.

Dan ketika karhutla mendekati kawasan seperti ini, yang dipertaruhkan bukan hanya pepohonan yang terlihat di permukaan.

Sebagian koleksi dapat memiliki nilai konservasi, penelitian dan pendidikan yang membutuhkan waktu panjang untuk dibangun kembali apabila hilang.

Kebakaran dari Luar Pernah Memasuki Kawasan

Ancaman tersebut bukan sekadar kemungkinan.

Pada Juli 2026, Kebun Raya Banua sempat terdampak kebakaran yang berasal dari kawasan luar.

Menurut Kepala UPTD Kebun Raya Banua Rahmat Maidiyanto, kebakaran berasal dari wilayah yang berbatasan langsung dengan hutan.

Menariknya, kejadian tersebut terjadi ketika musim kemarau bahkan belum mencapai puncaknya.

Beruntung, kebakaran tidak merembet terlalu luas sehingga dampaknya terhadap kawasan konservasi dapat dibatasi.

Tetapi kejadian itu menjadi peringatan.

Api tidak mengenal batas administratif.

Garis yang memisahkan kawasan konservasi dengan lahan di sekitarnya mungkin terlihat jelas pada peta, tetapi tidak memiliki arti bagi kobaran api.

Ketika vegetasi mengering, kelembapan turun dan terdapat cukup material yang mudah terbakar, api dari luar kawasan dapat bergerak memasuki wilayah konservasi.

Karena itulah pengelolaan karhutla tidak dapat dilakukan hanya di dalam pagar sebuah kawasan.

Ancaman Kedua Datang dari Kekeringan

Ada persoalan lain yang tidak kalah serius.

Kekeringan.

Pengelola Kebun Raya Banua menyebut kondisi kekeringan yang terjadi saat ini tergolong ekstrem dan bahkan dinilai lebih kering dibandingkan periode 2019–2020.

Dampaknya sudah terlihat.

Sejumlah tanaman koleksi mengalami kekeringan berat meskipun petugas terus melakukan penyiraman.

Situasi seperti ini memperlihatkan hubungan erat antara kekeringan dan risiko kebakaran.

Ketika vegetasi kehilangan kelembapan, daun dan material organik di permukaan tanah dapat menjadi semakin kering.

Material kering tersebut kemudian dapat menjadi bahan bakar ketika terdapat sumber api.

Karena itu, kekeringan dan karhutla tidak selalu dapat dipandang sebagai dua persoalan terpisah.

Dalam kondisi tertentu keduanya dapat saling memperkuat.

Petugas Memperbaiki Sistem Penyiraman

Menghadapi kondisi tersebut, pengelola Kebun Raya Banua meningkatkan pemeliharaan tanaman.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperbaiki jaringan penyiraman.

Truk tangki juga dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman.

Selain itu, pengelola melakukan pembokoran tanah agar air dapat meresap lebih efektif menuju daerah perakaran.

Pendekatan seperti ini menjadi penting dalam kondisi kekeringan.

Sekadar menyiram permukaan tanah belum tentu cukup apabila air cepat menguap atau mengalir tanpa mencapai zona akar.

Tujuannya bukan hanya membuat permukaan tanah terlihat basah.

Air perlu tersedia pada bagian tanah yang dapat dimanfaatkan tanaman.

Namun ketika kemarau berlangsung panjang dan jumlah koleksi mencapai ribuan jenis dalam kawasan 100 hektare, kebutuhan air dan tenaga pemeliharaan tentu menjadi tantangan tersendiri.

Setiap Tanaman Tidak Memiliki Kebutuhan yang Sama

Mengelola kebun raya berbeda dengan menyiram taman kota biasa.

Koleksi berasal dari berbagai kelompok tumbuhan dengan karakteristik ekologis berbeda.

Ada spesies yang relatif toleran terhadap kondisi kering.

Ada pula yang membutuhkan kelembapan lebih tinggi.

Tanaman muda dapat memiliki ketahanan berbeda dibandingkan tanaman yang sistem perakarannya sudah berkembang.

Kondisi tanah, lokasi, tutupan tajuk dan paparan sinar matahari juga memengaruhi kebutuhan air.

Karena itu, pemantauan individual menjadi penting.

Pengelola Kebun Raya Banua meminta petugas memberikan perhatian lebih intensif terhadap tanaman pada zona tanggung jawab masing-masing.

Tujuannya agar perubahan kondisi tanaman dapat diketahui lebih cepat dan tindakan dapat disesuaikan dengan kebutuhannya.

Pendekatan tersebut pada dasarnya merupakan bentuk deteksi dini pada tingkat tanaman.

Sebelum tanaman mengalami kerusakan berat, tanda-tanda stres perlu dikenali.

Mengapa Koleksi Kebun Raya Begitu Penting?

Pertanyaan sederhana mungkin muncul:

Jika sebuah tanaman mati, mengapa tidak ditanam kembali?

Jawabannya tidak selalu sederhana.

Dalam konservasi tumbuhan, setiap koleksi dapat memiliki riwayat dan nilai yang berbeda.

Sebagian tanaman mungkin berasal dari hasil eksplorasi suatu wilayah.

Sebagian merupakan spesies lokal.

Sebagian memiliki status langka.

Sebagian lagi dipertahankan sebagai koleksi untuk penelitian, pendidikan atau konservasi plasma nutfah.

Tanaman yang telah tumbuh selama bertahun-tahun juga tidak dapat digantikan secara instan oleh bibit baru.

Ukuran mungkin dapat diganti.

Tetapi waktu tidak.

Pohon yang membutuhkan puluhan tahun untuk tumbuh tidak dapat dikembalikan menjadi pohon dewasa hanya dengan menanam bibit pengganti.

Ulin: Pohon Ikonik Kalimantan

Salah satu koleksi yang disebut berada di Kebun Raya Banua adalah ulin.

Ulin dikenal luas sebagai salah satu pohon khas Kalimantan.

Kayunya terkenal sangat kuat dan tahan terhadap kondisi lingkungan tertentu sehingga secara historis banyak dimanfaatkan untuk konstruksi.

Tetapi justru karakter kayunya yang bernilai tinggi membuat keberadaan dan regenerasi pohon seperti ulin memiliki arti penting dalam konservasi.

Pertumbuhannya tidak dapat diperlakukan seperti tanaman produksi berumur pendek.

Menjaga pohon yang telah tumbuh berarti mempertahankan investasi ekologis selama bertahun-tahun.

Kasturi dan Kekayaan Flora Kalimantan Selatan

Koleksi lain yang disebut adalah kasturi.

Tumbuhan lokal memiliki arti lebih besar daripada sekadar koleksi botani.

Ia dapat menjadi bagian dari identitas daerah, pengetahuan masyarakat, sejarah pangan dan hubungan budaya dengan alam.

Jika suatu spesies semakin sulit ditemukan di habitat aslinya, koleksi konservasi di kebun raya dapat memperoleh arti yang semakin penting.

Namun konservasi di kebun raya tidak seharusnya menjadi alasan untuk membiarkan habitat alami rusak.

Keduanya memiliki fungsi berbeda.

Kebun raya membantu konservasi di luar habitat alami atau ex situ.

Sementara perlindungan hutan mempertahankan spesies di dalam ekosistem tempat mereka berevolusi atau in situ.

Konservasi yang kuat membutuhkan keduanya.

Kantong Semar dan Dunia Kecil yang Sangat Spesifik

Kebun Raya Banua juga memiliki berbagai jenis kantong semar.

Kelompok tumbuhan Nepenthes dikenal karena struktur daunnya yang termodifikasi membentuk kantong.

Adaptasi tersebut memungkinkan tumbuhan memperoleh tambahan unsur hara dari organisme kecil yang terperangkap di dalamnya.

Keberadaan tumbuhan dengan adaptasi unik seperti ini menunjukkan mengapa keanekaragaman hayati tidak dapat dinilai hanya berdasarkan jumlah pohon.

Dua kawasan yang sama-sama hijau belum tentu memiliki nilai ekologis yang sama.

Kebun dengan satu jenis pohon yang ditanam berulang kali sangat berbeda dengan ekosistem yang menyimpan ratusan atau ribuan spesies dengan fungsi dan sejarah evolusi berbeda.

Karhutla Bisa Menghapus Waktu dalam Hitungan Jam

Inilah salah satu paradoks terbesar konservasi.

Membangun koleksi tumbuhan membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Api dapat merusaknya dalam hitungan jam.

Bibit harus diperoleh.

Tanaman harus ditanam.

Kemudian dirawat.

Pertumbuhannya dipantau.

Data dikumpulkan.

Sebagian membutuhkan bertahun-tahun sebelum mencapai ukuran tertentu.

Sementara kebakaran yang tidak terkendali dapat melewati seluruh proses tersebut dengan sangat cepat.

Karena itu, strategi terbaik dalam melindungi kawasan konservasi dari karhutla bukan sekadar kemampuan memadamkan api.

Yang jauh lebih penting adalah mencegah api mencapai kawasan sejak awal.

Pencegahan Lebih Murah daripada Pemulihan

Dalam pengelolaan risiko kebakaran, respons pemadaman memang penting.

Tetapi pencegahan memiliki nilai strategis lebih besar.

Pemantauan titik rawan di sekitar kawasan dapat diperkuat.

Vegetasi kering dan material mudah terbakar pada lokasi tertentu perlu dikelola secara hati-hati sesuai prinsip ekologis.

Ketersediaan sumber air harus dipastikan.

Akses kendaraan pemadam perlu dipertimbangkan.

Koordinasi dengan pengelola lahan dan masyarakat sekitar juga menjadi penting.

Karena sebagaimana ditunjukkan pengalaman Kebun Raya Banua pada Juli 2026, sumber kebakaran dapat berasal dari luar kawasan.

Artinya, keselamatan kebun raya juga bergantung pada bagaimana lanskap di sekelilingnya dikelola.

Kebun Raya sebagai “Bank Kehidupan”

Kita terbiasa menyimpan sesuatu yang dianggap berharga.

Uang disimpan di bank.

Dokumen disimpan dalam arsip.

Data disimpan di pusat data.

Benih dapat disimpan di bank benih.

Dalam perspektif yang lebih luas, kebun raya juga dapat dipandang sebagai salah satu bentuk bank kehidupan.

Yang disimpan bukan uang.

Yang dijaga adalah keragaman tumbuhan.

Di dalam koleksinya terdapat materi genetik yang dapat memiliki arti bagi ilmu pengetahuan, pendidikan dan konservasi pada masa depan.

Kita bahkan belum sepenuhnya memahami seluruh manfaat yang mungkin tersimpan dalam tumbuhan.

Sebagian dapat memiliki potensi pangan.

Sebagian mempunyai senyawa yang menarik untuk penelitian.

Sebagian penting secara ekologis.

Sebagian mungkin memiliki nilai budaya yang belum terdokumentasi dengan baik.

Dan sebagian mungkin penting hanya karena memiliki hak untuk tetap menjadi bagian dari keanekaragaman kehidupan di bumi.

Perubahan Iklim Membuat Konservasi Harus Lebih Adaptif

Kejadian kekeringan ekstrem juga memberikan pelajaran penting bagi pengelolaan kebun raya.

Strategi konservasi tidak dapat hanya berdasarkan kondisi iklim masa lalu.

Ketika pola suhu dan curah hujan berubah, kebutuhan pengelolaan dapat ikut berubah.

Sistem penyimpanan air mungkin perlu diperkuat.

Irigasi perlu semakin efisien.

Kondisi kelembapan tanah perlu dipantau.

Spesies yang paling sensitif terhadap kekeringan perlu mendapat perhatian khusus.

Rencana darurat kebakaran juga harus diperbarui secara berkala.

Dalam jangka panjang, konservasi tumbuhan membutuhkan apa yang dapat disebut sebagai climate-resilient conservation—strategi konservasi yang sekaligus mempertimbangkan perubahan kondisi iklim.

Jangan Menunggu Api Terlihat

Salah satu kesalahan dalam menghadapi karhutla adalah menganggap keadaan masih aman selama belum terlihat api.

Padahal sebelum api muncul, kondisi risiko mungkin sudah terbentuk.

Tanah mengering.

Daun berguguran.

Vegetasi kehilangan kelembapan.

Sumber air menurun.

Angin mempercepat pengeringan.

Ketika kondisi tersebut bertemu sumber api, kebakaran dapat berkembang jauh lebih cepat.

Karena itu, kesiapsiagaan seharusnya meningkat ketika indikator risiko memburuk, bukan setelah kobaran api terlihat.

Apa yang dilakukan Kebun Raya Banua—memperbaiki jaringan penyiraman, mengoptimalkan truk tangki, membantu air mencapai akar dan meningkatkan pemantauan tanaman—menunjukkan pentingnya tindakan sebelum kerusakan menjadi lebih besar.

Konservasi Bukan Hanya Menyelamatkan Satwa

Karhutla sering menghadirkan gambar dramatis satwa yang berusaha menyelamatkan diri.

Orangutan keluar dari hutan.

Burung meninggalkan habitat.

Mamalia berpindah mencari perlindungan.

Semua itu memang penting.

Namun di baliknya terdapat jutaan organisme yang tidak dapat berlari.

Tumbuhan.

Ketika pohon hilang, habitat satwa ikut berubah.

Ketika tumbuhan berbunga menghilang, sumber makanan bagi penyerbuk dapat berkurang.

Ketika vegetasi riparian rusak, kondisi sungai dapat ikut terpengaruh.

Ketika tutupan tanah hilang, risiko erosi dapat meningkat.

Karena itulah konservasi flora dan fauna sebenarnya tidak dapat dipisahkan.

Melindungi tanaman berarti sekaligus mempertahankan fondasi habitat bagi kehidupan lainnya.

Lebih dari 3.000 Alasan untuk Menjaganya

Kebun Raya Banua sekarang menghadapi ujian berat dari musim kemarau.

Kekeringan disebut lebih ekstrem dibanding periode 2019–2020.

Sejumlah tanaman telah mengalami kekeringan berat.

Ancaman api dari kawasan sekitar pun bukan kemungkinan abstrak karena pada Juli 2026 kebakaran dari luar pernah mencapai kawasan, meskipun dampaknya berhasil dibatasi.

Di tengah kondisi tersebut, petugas terus memperbaiki penyiraman, mengoperasikan truk tangki, membantu air mencapai akar dan meningkatkan pengawasan setiap zona tanaman.

Pekerjaan itu mungkin terlihat sederhana.

Menyiram.

Memeriksa daun.

Mengamati tanah.

Mengawasi titik rawan.

Tetapi di balik pekerjaan tersebut terdapat misi yang jauh lebih besar.

Menjaga agar ribuan jenis tumbuhan tetap hidup melewati musim yang semakin berat.

Karena setiap tanaman yang berhasil dipertahankan bukan sekadar satu koleksi yang selamat.

Ia merupakan bagian dari kekayaan genetik, ilmu pengetahuan dan keanekaragaman hayati yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Kita sering baru menyadari nilai sesuatu setelah kehilangannya.

Untuk keanekaragaman hayati, pendekatan seperti itu terlalu berbahaya.

Sebab beberapa kehilangan tidak dapat dikembalikan hanya dengan menanam pohon baru.

Api mungkin hanya membutuhkan beberapa jam untuk menghancurkan apa yang telah dibangun alam dan manusia selama puluhan tahun. Karena itu, konservasi terbaik selalu dimulai sebelum api datang.


Sumber: https://www.antaranews.com/berita/5787029/kebun-raya-banua-lindungi-ribuan-tanaman-konservasi-dari-karhutla

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO