Praktik Baik

Menanam Jati di Tanah Batu: Kisah Sugiharto yang Menghidupkan Karst Gunungkidul

Di Gunungkidul, tempat orang sering bercanda bahwa “bahkan kambing pun harus bawa tumbler,” Sugiharto Soeleman justru datang membawa ide yang dianggap lebih gila dari sekadar bercanda: menanam jati di puncak lahan batu kapur yang selama ini dianggap mati.

Tahun 2008, saat banyak warga menyebut langkah itu menantang “hukum alam”, Sugiharto hanya menjawab dengan satu kata: Bismillah.

Ia tidak sekadar menanam bibit. Ia menanam harapan.

Di tanah karst yang terkenal sulit menyimpan air, Sugiharto tahu bahwa menanam pohon bukan soal keberuntungan, tapi soal ketekunan dan strategi. Puluhan truk tangki air disewa demi menjaga tiap lubang tanam tetap basah. Water toren dipancang di titik-titik kering, jadwal irigasi dibuat ketat, dan pengawasan dilakukan setiap hari.

Prinsipnya sederhana: kurangi kebetulan, perbesar peluang hidup.

Enam bulan kemudian, hasilnya mulai berbicara. Lahan tandus yang dulu hanya dipenuhi batu dan debu berubah wajah. Bibit-bibit jati tumbuh hingga setinggi satu meter, berdiri seperti barisan optimisme baru di tanah yang selama ini menyerah.

Keberhasilan itu memicu ekspansi besar. Dari satu hektare berkembang menjadi 5 hektare, 10 hektare, hingga ratusan hektare. Pada 2024, sekitar 325 hektare lahan karst telah berubah menjadi hutan jati, dikelola melalui PT Lintang Jati Kencana.

Dari perjalanan panjang itu, Sugiharto menemukan satu pelajaran penting: ekologi dan ekonomi bukan dua kutub yang harus bermusuhan. Dalam tangan yang tepat, keduanya justru bisa saling menghidupi.

Gunung Batu yang Disulap Menjadi Wisata Konservasi

Puncak eksperimen Sugiharto lahir dalam bentuk Wunung Giri Sela Kandha (WGSK)—sebongkah gunung batu curam yang ia ubah menjadi kawasan wisata konservasi.

Enam tahun kemudian, bukan hanya pohon yang tumbuh. Kehidupan liar mulai kembali.

Langit Gunungkidul kembali disapa Elang Jawa, satwa yang menjadi simbol ekosistem sehat. Kera ekor panjang kembali menjejak tanah, dan kawasan yang dulu sunyi kini berubah menjadi ruang hidup baru bagi banyak makhluk.

Sebuah keajaiban ekologis yang lahir bukan dari sulap, melainkan dari kerja keras ala “Bandung Bondowoso”.

Membuka Pusat Riset untuk Petani

Di WGSK pula Sugiharto mendirikan Banyumanik Research Centre, ruang belajar terbuka yang memberi pelatihan vokasi gratis bagi petani dan masyarakat sekitar.

Di tempat ini, warga belajar membuat pupuk organik, mengelola konservasi air hujan, hingga mengembangkan produksi air minum berbasis rainwater yang dikenal dengan nama Heaven Water.

Bagi Sugiharto, penghijauan bukan hanya soal menanam pohon, tetapi juga tentang menanam pengetahuan agar masyarakat mampu menjaga alamnya sendiri.

Dari Migas ke Gunungkidul: Memilih Pulang untuk Menghidupkan Tanah

Sugiharto bukan sosok biasa. Ia pernah bersinar di dunia migas dan membawa perusahaan hingga melantai di bursa Singapura. Namun ia memilih pulang, kembali ke Gunungkidul—wilayah yang lama dikenal sebagai salah satu daerah termiskin di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Bukan untuk pensiun, tapi untuk membuktikan satu hal:

Lahan seburuk apa pun bisa hidup kembali, jika manusianya lebih dulu hidup harapannya.

Dan di tanah karst yang dulu dianggap mati, Sugiharto membuktikan bahwa harapan bisa tumbuh—bahkan dari batu.

https://www.facebook.com/reel/1162311866012715

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO