Olah kulit pisang jadi brownies, cara Cefi Heriansyah kurangi sampah makanan

Inovasi dan Edukasi: Strategi Komprehensif Mengurangi Limbah Makanan di Indonesia
Isu sampah makanan (food waste) di Indonesia menjadi perhatian serius, mendorong berbagai pihak, mulai dari pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) hingga komunitas gastronomi, untuk mengambil tindakan strategis. Pendekatan yang diusung meliputi inovasi pengolahan limbah pangan menjadi produk bernilai ekonomi tinggi dan edukasi perilaku makan sejak dini.
Inovasi Zero Waste: Kulit Pisang Menjadi Brownies
Salah satu contoh nyata kontribusi UMKM dalam menekan limbah makanan datang dari Cefi Heriansyah, pendiri usaha camilan Chef’s Banana dari Tangerang Selatan. Melihat banyaknya limbah kulit pisang yang terbuang dari UMKM pengolah pisang di wilayahnya, Cefi melakukan terobosan dengan prinsip “zero waste product”.
Dalam expert meeting bersama Indonesian Gastronomy Community (IGC) pada Sabtu (29/11/2025), Cefi menjelaskan:
“Kami mengolah limbah kulit pisang menjadi sebuah produk makanan yang setidaknya mengurangi dampak lingkungan akibat limbah (makanan). Kami mengolah limbah kulit pisang ini menjadi produk-produk seperti keripik kulit pisang dan tepung kulit pisang yang bisa diolah lagi menjadi produk lain seperti brownies tanpa tepung terigu.”
Inisiatif ini tidak hanya menciptakan produk baru yang sehat, tetapi juga mengurangi beban lingkungan secara signifikan dengan memanfaatkan seluruh bagian buah pisang.
Krisis di Piring Konsumen: Masalah Emotional Eating
Sekretaris Umum IGC, dr. Ray Wagiu Basrowi, menyoroti bahwa kontributor terbesar sampah makanan berada di piring konsumen, sebuah area yang sulit dikontrol dibandingkan manajemen dapur.
Menurut dr. Ray, studi menunjukkan bahwa perilaku “emotional eating” masyarakat Indonesia berada pada tingkat yang tinggi. Jika perilaku ini tidak diintervensi, upaya pengurangan sisa makanan akan terhambat.
“Dapur itu sangat bisa dikontrol tapi piring makan konsumen itu sangat tidak bisa dikontrol… Kalau perilaku emotional eating itu tidak diintervensi, maka sisa makanan itu akan tetap banyak juga.”
Ia menekankan pentingnya regulasi dan advokasi untuk mengubah kebiasaan konsumen, yang menjadi fokus rapat bertajuk Penguatan Strategi Pengurangan Limbah Makanan untuk Gastronomi Berkelanjutan.
Dampak Sisa Nasi: Dr. Ray memberikan ilustrasi konkret mengenai besarnya masalah tersebut: Satu butir nasi yang tersisa di piring, jika dikalikan dengan setengah populasi Indonesia, dapat menghasilkan limbah sekitar 9 ton.
Strategi Edukasi: Menanamkan Kesadaran Sejak Dini
Ketua Umum IGC, Ria Musiawan, menjelaskan peran IGC dalam menekan food waste melalui jalur edukasi, termasuk dalam mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah. IGC berfokus pada edukasi perilaku makan yang baik yang ditujukan kepada para guru Sekolah Dasar (SD).
1. Memanfaatkan Warisan Budaya (Mitos Dewi Sri)
IGC mengingatkan kembali para guru pada nasihat nenek moyang yang efektif dalam menanamkan kesadaran, seperti pepatah: “Ayo makanannya dihabiskan, kalau tidak nanti Dewi Sri menangis.”
- Dewi Sri adalah dewi padi dan kesuburan dalam mitologi Indonesia, melambangkan pentingnya padi bagi keberlanjutan dan kemakmuran.
- Nasihat yang membawa nama Dewi Sri terbukti melekat kuat dalam ingatan anak-anak, menanamkan kesadaran bahwa makanan harus dihormati dan dihabiskan.
2. Pelatihan Holistik untuk Guru
Program edukasi ini didukung oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan telah dilaksanakan di beberapa kota, termasuk Jakarta, Bandung, Cirebon, Bogor, dan Yogyakarta.
Edukasi yang diberikan kepada para guru tidak hanya soal menghabiskan makanan, tetapi juga mencakup:
- Cara makan yang baik (duduk dengan baik).
- Cara menggunakan alat makan yang benar.
- Cara mengunyah yang baik.
Tujuannya adalah agar murid-murid memiliki kesadaran bahwa makanan sangat penting bagi perkembangan kognitif mereka, sehingga membentuk perilaku makan yang bertanggung jawab di masa depan.
sumber:
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




