Papua Pegunungan Dorong Penghijauan Hutan Gundul untuk Cegah Banjir dan Longsor

Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan mendorong masyarakat di delapan kabupaten untuk kembali menanam pohon di kawasan hutan yang telah gundul. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga kelestarian alam sekaligus mengurangi risiko bencana seperti banjir dan tanah longsor.
Gubernur Papua Pegunungan John Tabo mengatakan penghijauan perlu dilakukan secara bersama-sama karena kondisi hutan sangat berpengaruh terhadap keseimbangan lingkungan dan kehidupan masyarakat.
“Masyarakat harus kembali menanam pohon di kawasan hutan yang telah dibabat atau gundul, sehingga kelestarian alam dapat kembali terjaga dan mencegah terjadinya bencana alam, seperti banjir dan tanah longsor,” ujarnya.
Butuh Dukungan Pemerintah Pusat
Menurut John Tabo, pemerintah daerah tidak dapat menjalankan program penghijauan secara maksimal tanpa dukungan dari pemerintah pusat.
Ia berharap Kementerian Kehutanan dapat memberikan dukungan dalam bentuk anggaran, kebijakan, dan program rehabilitasi hutan.
Penghijauan dinilai penting agar kawasan hutan yang mengalami degradasi dapat kembali memiliki fungsi ekologis, termasuk menjaga air, tanah, dan kualitas udara.
Karakter Hutan Papua Pegunungan Berbeda
John menjelaskan, kondisi hutan di Papua Pegunungan memiliki karakter yang berbeda dibandingkan kawasan pesisir.
Cuaca yang lebih dingin memengaruhi jenis vegetasi yang dapat tumbuh dan berkembang.
Karena itu, program penghijauan perlu mempertimbangkan karakter ekologis lokal agar jenis pohon yang ditanam benar-benar sesuai dengan kondisi wilayah.
Pendekatan ini penting karena rehabilitasi hutan tidak cukup hanya dengan menanam sebanyak mungkin pohon. Jenis tanaman, lokasi, ketinggian, kondisi tanah, dan keberlanjutan perawatannya juga harus diperhatikan.
Hutan Berperan Menahan Air dan Tanah
Kawasan hutan memiliki fungsi penting dalam menjaga kestabilan lanskap.
Akar pohon membantu mengikat tanah.
Vegetasi memperlambat aliran air hujan.
Tutupan hutan juga membantu meningkatkan kemampuan tanah menyerap air.
Ketika hutan mengalami degradasi, air hujan dapat lebih cepat mengalir di permukaan dan meningkatkan risiko erosi.
Di kawasan dengan topografi curam, kondisi tersebut dapat memperbesar ancaman longsor dan banjir di wilayah yang lebih rendah.
Penghijauan Tidak Cukup Hanya Menanam
Program penghijauan juga perlu memastikan pohon yang ditanam dapat tumbuh hingga dewasa.
Sering kali keberhasilan rehabilitasi hanya diukur berdasarkan jumlah bibit yang ditanam.
Padahal indikator yang lebih penting adalah berapa banyak pohon yang mampu bertahan hidup setelah beberapa tahun.
Karena itu, penanaman harus diikuti dengan pemeliharaan, pemantauan, dan perlindungan kawasan.
Hutan sebagai Sumber Kehidupan
John juga menekankan kuatnya hubungan masyarakat Papua dengan hutan.
Ia menyebut hutan sebagai “mama” karena menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat, baik di wilayah pesisir maupun pegunungan.
Hutan menyediakan air, pangan, bahan alami, ruang hidup, dan berbagai fungsi ekologis lainnya.
Pandangan ini menunjukkan bahwa perlindungan hutan di Papua tidak hanya berkaitan dengan konservasi.
Ia juga berkaitan dengan budaya dan kehidupan masyarakat adat.
Pengetahuan Lokal Penting untuk Konservasi
Pemerintah daerah juga menilai budaya masyarakat memiliki peran dalam menjaga hutan.
Dalam banyak komunitas adat, terdapat aturan dan kebiasaan lokal yang mengatur hubungan manusia dengan alam.
Pengetahuan tersebut dapat menjadi bagian penting dari strategi rehabilitasi hutan.
Masyarakat lokal memahami kondisi tanah, sumber air, jenis tanaman, hingga kawasan yang memiliki nilai penting bagi kehidupan mereka.
Karena itu, program penghijauan akan lebih kuat jika masyarakat bukan hanya menjadi peserta, tetapi juga dilibatkan sejak tahap perencanaan.
Hutan Papua Punya Peran Lebih Luas
Papua merupakan salah satu wilayah dengan tutupan hutan penting di Indonesia.
Selain menjadi habitat berbagai spesies, hutan juga menyimpan karbon dan membantu menjaga sistem hidrologi.
Karena itu, rehabilitasi kawasan yang telah terdegradasi memiliki manfaat yang lebih luas.
Penghijauan dapat mendukung konservasi biodiversitas, pengendalian erosi, perlindungan sumber air, hingga upaya menghadapi perubahan iklim.
Dari Reboisasi ke Pemulihan Ekosistem
Ke depan, penghijauan sebaiknya tidak hanya dipahami sebagai kegiatan penanaman pohon.
Pendekatan yang lebih luas adalah pemulihan ekosistem.
Artinya, program perlu memastikan:
- vegetasi lokal kembali tumbuh,
- sumber air terlindungi,
- habitat satwa tetap terhubung,
- tanah kembali stabil,
- dan masyarakat memperoleh manfaat jangka panjang.
Dengan pendekatan tersebut, penghijauan tidak berhenti pada kegiatan seremonial.
Menjaga Hutan Berarti Mengurangi Risiko Bencana
Pesan utama dari ajakan Pemprov Papua Pegunungan sederhana tetapi penting.
Banjir dan longsor tidak selalu dapat dicegah sepenuhnya, tetapi risikonya dapat dikurangi dengan menjaga kondisi lingkungan.
Hutan yang sehat membantu tanah menyerap air.
Akar membantu menjaga kestabilan lereng.
Vegetasi memperlambat limpasan.
Karena itu, menjaga hutan merupakan salah satu bentuk mitigasi bencana berbasis alam.
Pada akhirnya, penghijauan bukan hanya tentang membuat kawasan kembali hijau.
Ia adalah upaya menjaga air, tanah, keanekaragaman hayati, dan kehidupan masyarakat yang bergantung pada hutan tersebut.




