PBB Peringatkan Lebih dari 10 Persen Lahan Dunia Telah Rusak, Asia Catat Area Terluas

Kerusakan lahan di berbagai belahan dunia telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa atau FAO mencatat sekitar 1,56 miliar hektare lahan, atau lebih dari 10 persen daratan dunia, kini berada dalam kondisi terdegradasi.
Dari jumlah tersebut, sekitar 460 juta hektare merupakan kawasan hutan yang mengalami degradasi. Tekanan terhadap lahan datang dari berbagai faktor, mulai dari perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, urbanisasi, pembangunan infrastruktur, perubahan penggunaan lahan, hingga meningkatnya kebutuhan terhadap sumber daya alam.
Asia menjadi kawasan dengan luasan lahan terdegradasi terbesar. Sekitar 583 juta hektare, atau kurang lebih 19 persen dari total luas daratan Asia, tercatat mengalami degradasi.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap tanah, hutan, dan ekosistem di Asia sudah sangat besar. Perluasan pertanian, pembangunan kawasan perkotaan, pembukaan lahan, serta degradasi hutan menjadi beberapa faktor yang ikut memperburuk kondisi tersebut.
Sebagai perbandingan, Afrika memiliki sekitar 334 juta hektare lahan terdegradasi, sementara Amerika Selatan mencatat sekitar 245 juta hektare.
Kerusakan lahan bukan hanya soal hilangnya vegetasi. Ketika tanah kehilangan produktivitas dan kemampuan ekologisnya, dampaknya dapat menjalar ke berbagai sektor.
Produktivitas pertanian dapat menurun, ketersediaan air terganggu, keanekaragaman hayati berkurang, kemampuan tanah menyimpan karbon melemah, dan masyarakat yang bergantung pada lahan dapat kehilangan sumber penghidupan.
FAO juga mencatat bahwa sebagian besar degradasi yang dipicu aktivitas manusia terjadi pada lahan pertanian, termasuk lahan budidaya dan padang penggembalaan.
Hal ini membuat degradasi tanah menjadi ancaman langsung terhadap ketahanan pangan. Ketika kesuburan tanah menurun, kebutuhan pupuk dan air dapat meningkat, sementara hasil panen justru berisiko menurun.
Di sisi lain, restorasi lahan menawarkan peluang besar untuk memperbaiki kondisi tersebut. Pemulihan dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti regenerasi alami, agroforestri, rehabilitasi hutan, pengelolaan tanah berkelanjutan, serta perlindungan sumber air dan keanekaragaman hayati.
Namun, restorasi tidak cukup hanya dilakukan dengan menanam pohon. Setiap wilayah memiliki karakter ekosistem yang berbeda sehingga pendekatan pemulihan harus disesuaikan dengan kondisi lokal.
Biaya membiarkan kerusakan terus berlangsung juga sangat besar. Degradasi lahan dapat memicu kerugian ekonomi melalui penurunan produktivitas pangan, kerusakan ekosistem, bencana hidrometeorologi, dan hilangnya jasa lingkungan.
Kerusakan lahan sering berlangsung perlahan dan tidak selalu terlihat seperti bencana. Namun ketika tanah kehilangan kesuburan, hutan kehilangan fungsi, dan sumber air mulai terganggu, dampaknya langsung menyentuh pangan, ekonomi, iklim, dan kehidupan manusia.
Peringatan ini menunjukkan bahwa perlindungan terhadap lahan yang masih sehat harus berjalan bersamaan dengan percepatan pemulihan kawasan yang telah rusak. Bagi Asia sebagai kawasan dengan luasan degradasi terbesar, tantangannya menjadi semakin mendesak.
Sumber: Kompas.com
https://lestari.kompas.com/read/2026/10/02/204100886/peringatan-pbb–10-persen-lahan-dunia-rusak-asia-terbanyak




