Pramono Anung Ajak 9 Pemda Kolaborasi Bangun PLTSa: Sampah Jadi Energi, Bukan Masalah

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengeluarkan ajakan penting bagi sembilan pemerintah daerah anggota Forum Kerja Sama Daerah Mitra Praja Utama untuk bersatu mengatasi persoalan klasik: sampah. Ia mendorong kolaborasi konkret, terutama dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) sebagai solusi modern dan berkelanjutan.
Ajakan ini disampaikan Pramono saat menghadiri forum di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (17/6/2025), bersama para kepala daerah dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Lampung, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dalam forum tersebut, Pramono menegaskan bahwa kerja sama lintas daerah bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan, terutama dalam hal pengelolaan sampah, transportasi publik, hingga pengembangan sektor pertanian. “Kami membuka diri untuk bekerja sama dengan semua provinsi terkait pengelolaan sampah. Ini bisa menjadi harta karun baru jika kita kelola dengan bijak,” ujar Pramono.
Sampah Jakarta: Tantangan atau Peluang Energi?
Jakarta saat ini menghadapi tantangan besar dengan jumlah cadangan sampah yang mencapai 55 juta ton di TPST Bantar Gebang. Setiap harinya, ibu kota juga memproduksi sekitar 7.700 ton sampah baru. Namun alih-alih menjadi beban, Pramono melihat ini sebagai potensi besar untuk dikonversi menjadi energi melalui PLTSa.
Ia juga menyampaikan bahwa proyek PLTSa ini merupakan bagian dari arahan langsung Presiden Prabowo Subianto. “Presiden meminta agar Jakarta menjadi pionir dalam pengembangan PLTSa. Ini tidak hanya menjawab isu lingkungan, tetapi juga membuka peluang untuk menghasilkan energi alternatif yang sangat dibutuhkan,” jelasnya.
Pramono memaparkan rencana pembangunan empat hingga lima PLTSa di Jakarta. Masing-masing PLTSa ditargetkan memiliki kapasitas feeder sekitar 2.500 ton sampah per hari, yang berarti akan dibutuhkan 10.000 ton sampah per hari untuk mengoperasikan semuanya secara optimal. Dengan kapasitas tersebut, sisa tumpukan sampah di Bantar Gebang diperkirakan akan tetap bertahan hingga 25–28 tahun ke depan.
Menariknya, Pramono juga menyebut bahwa skema tipping fee — biaya yang biasanya dibayarkan kepada pengelola PLTSa — tidak akan diperlukan lagi, sebuah terobosan yang bisa mempercepat pembangunan fasilitas ini tanpa membebani anggaran pemerintah daerah.
Kolaborasi, Kunci Masa Depan Pengelolaan Sampah
Gagasan untuk melibatkan sembilan pemda lain dinilai sangat strategis, mengingat jumlah produksi sampah di wilayah mitra cukup signifikan. Jika dikelola secara terintegrasi, kerja sama ini tidak hanya menyelesaikan masalah sampah regional, tetapi juga menciptakan ekosistem energi bersih berbasis limbah yang inklusif.
“Bayangkan jika setiap daerah punya kontribusi dan semua punya akses terhadap energi terbarukan. Kita tidak hanya menyelesaikan sampah, tapi juga membangun masa depan yang berkelanjutan,” ujar Pramono optimistis.
Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, Jakarta bertekad memimpin perubahan paradigma dalam pengelolaan sampah. Bukan lagi sekadar urusan kebersihan, sampah kini diposisikan sebagai aset penting dalam transisi menuju energi hijau.
Sumber:
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




