Rayakan Kelulusan dengan Menanam Mangrove, Bukan Coret-Coret Seragam

JAKARTA – Perayaan kelulusan sekolah selama ini identik dengan berbagai kegiatan seperti mencoret-coret seragam, konvoi kendaraan, hingga pesta bersama. Namun, di tengah meningkatnya persoalan lingkungan, muncul gagasan agar momentum kelulusan mulai diarahkan pada kegiatan yang lebih positif dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Salah satu alternatif yang menarik adalah menjadikan penanaman mangrove sebagai bagian dari perayaan kelulusan.
Alih-alih menghabiskan hari terakhir sebagai siswa dengan mencoret seragam atau melakukan konvoi, para pelajar dapat meninggalkan kenangan dengan menanam pohon mangrove yang kelak tumbuh dan memberikan manfaat bagi lingkungan.
Meninggalkan Jejak yang Lebih Bermakna
Coretan di seragam mungkin menjadi kenangan bagi para siswa. Namun, pohon yang ditanam bersama dapat menjadi kenangan yang jauh lebih panjang.
Mangrove memiliki peran penting bagi kawasan pesisir. Ekosistem ini membantu melindungi garis pantai dari abrasi, menjadi habitat berbagai jenis biota, serta berperan dalam menyerap dan menyimpan karbon.
Dengan demikian, satu kegiatan sederhana dalam perayaan kelulusan dapat memberikan dampak ekologis yang berlangsung bertahun-tahun.
Bayangkan jika satu angkatan menanam ratusan pohon mangrove. Beberapa tahun kemudian, para alumni dapat kembali mengunjungi lokasi tersebut dan melihat pohon yang mereka tanam telah tumbuh menjadi bagian dari ekosistem pesisir.
Dari Coretan Menjadi Kontribusi
Mengubah tradisi kelulusan bukan berarti menghilangkan kegembiraan para pelajar. Sebaliknya, perayaan tetap dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan, tetapi sekaligus memberikan manfaat.
Kegiatan dapat dikemas dalam bentuk aksi sosial dan lingkungan, seperti penanaman mangrove, membersihkan pantai, pengumpulan sampah, rehabilitasi sungai, atau kegiatan edukasi lingkungan bersama masyarakat.
Momentum tersebut juga dapat menjadi sarana pendidikan karakter. Para siswa tidak hanya merayakan keberhasilan menyelesaikan pendidikan, tetapi juga belajar bahwa keberhasilan memiliki tanggung jawab sosial.
Kenangan yang Tumbuh Bersama
Ada perbedaan besar antara meninggalkan coretan dengan meninggalkan pohon.
Coretan pada seragam mungkin akan disimpan atau akhirnya dibuang. Sementara pohon yang ditanam dapat terus tumbuh, menjadi tempat berlindung bagi biota, membantu menjaga pesisir, dan bahkan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Karena itu, tradisi kelulusan bisa mulai diarahkan menjadi perayaan yang meninggalkan warisan positif.
Sekolah, orang tua, pemerintah daerah, komunitas lingkungan, dan para siswa dapat bekerja sama menciptakan model perayaan kelulusan yang lebih bermakna.
Bukan berarti anak-anak tidak boleh bersenang-senang. Mereka tetap bisa merayakan kelulusan, berfoto bersama, bermain, dan menikmati momen terakhir bersama teman-temannya.
Namun, akan jauh lebih indah jika di balik kegembiraan tersebut ada satu pesan yang mereka bawa pulang:
“Kami pernah belajar di sini, kami pernah tumbuh bersama, dan hari ini kami meninggalkan sesuatu yang juga akan tumbuh untuk Indonesia.”
Mungkin sudah saatnya kita bertanya kembali:
Ketika seorang siswa lulus, jejak apa yang ingin ia tinggalkan—coretan di seragam atau pohon yang terus tumbuh?




