Rotterdam dan Pelajaran Mengelola Kota yang Hidup Bersama Air

Rotterdam merupakan contoh menarik tentang bagaimana sebuah kota tidak hanya bertahan menghadapi air, tetapi juga membangun identitas dan infrastrukturnya dengan menjadikan air sebagai bagian utama dari perencanaan kota.
Sebagai kota terbesar kedua di Belanda dan salah satu kota pelabuhan terpenting di dunia, Rotterdam memiliki hubungan yang sangat erat dengan sungai, kanal, laut, dan sistem pengendalian banjir. Kota ini tumbuh di wilayah yang sangat rentan terhadap tekanan air, sehingga pengelolaan sumber daya air bukan sekadar urusan teknis, tetapi menjadi fondasi pembangunan kota.
Setelah mengalami kehancuran besar pada Perang Dunia II, Rotterdam dibangun kembali secara bertahap. Sejak dekade 1980-an, pemerintah kota mulai mendorong pendekatan arsitektur dan pembangunan yang lebih aktif, modern, serta berani.
Perubahan tersebut tidak hanya terlihat dari gedung-gedung baru dan infrastruktur perkotaan, tetapi juga dari cara kota mengintegrasikan ruang publik, transportasi, air, dan kehidupan masyarakat.
Air Bukan Musuh, tetapi Bagian dari Desain Kota
Salah satu karakter terpenting Rotterdam adalah kemampuannya hidup berdampingan dengan air.
Sebagian wilayah Belanda berada di bawah atau sangat dekat dengan permukaan laut. Karena itu, perlindungan terhadap banjir membutuhkan sistem yang jauh lebih kompleks daripada sekadar membangun tanggul.
Rotterdam menggunakan berbagai kombinasi infrastruktur, mulai dari tanggul, kanal, pompa, kolam retensi, pintu air, hingga sistem perlindungan terhadap gelombang badai.
Salah satu simbol teknologi pengendalian air di kawasan Rotterdam adalah Maeslant Storm Surge Barrier, sebuah sistem penghalang badai berukuran sangat besar yang dirancang untuk melindungi kawasan dari kenaikan air laut ekstrem.
Infrastruktur seperti ini menunjukkan bahwa pengelolaan air membutuhkan perencanaan dalam skala wilayah, bukan hanya proyek yang berdiri sendiri.
Kota Juga Membutuhkan Ruang untuk Air
Pendekatan modern dalam pengelolaan air tidak selalu berarti membangun lebih banyak beton.
Rotterdam juga dikenal mengembangkan konsep memberi ruang bagi air.
Ketika hujan ekstrem terjadi, air tidak selalu harus langsung dialirkan keluar dari kota. Sebagian dapat ditahan sementara melalui ruang terbuka, taman, kolam, maupun infrastruktur multifungsi.
Pendekatan seperti ini membuat kota lebih fleksibel menghadapi perubahan cuaca.
Ruang publik dapat memiliki dua fungsi sekaligus: digunakan masyarakat dalam kondisi normal, tetapi berubah menjadi tempat penampungan air sementara ketika curah hujan meningkat.
Konsep tersebut menunjukkan bahwa infrastruktur air dapat menjadi bagian dari desain ruang publik, bukan sesuatu yang harus selalu disembunyikan di bawah tanah.
Ruang Hijau Menjadi Infrastruktur
Rotterdam juga memperluas ruang terbuka hijau.
Menariknya, ruang hijau tidak hanya dipandang sebagai elemen ekologis.
Kota yang dihuni masyarakat dari berbagai latar belakang membutuhkan ruang bersama agar interaksi sosial dapat terjadi.
Dalam data yang dikutip artikel tersebut, Rotterdam pada 2016 memiliki sekitar 625 ribu penduduk yang berasal dari sekitar 175 kebangsaan.
Keragaman tersebut dipandang sebagai potensi kota.
Taman dan ruang terbuka kemudian dapat berfungsi sebagai tempat pertemuan masyarakat sekaligus membantu kota menghadapi panas, hujan ekstrem, dan persoalan kualitas lingkungan.
Dengan demikian, satu kawasan hijau dapat menjalankan fungsi ekologis dan sosial secara bersamaan.
Infrastruktur Harus Multifungsi
Salah satu pelajaran penting dari Rotterdam adalah kemampuan menggabungkan beberapa kebutuhan ke dalam satu desain.
Sebuah ruang publik tidak hanya menjadi taman.
Ia juga dapat menjadi kawasan resapan.
Sebuah kanal tidak hanya digunakan untuk mengalirkan air.
Ia dapat menjadi elemen lanskap, transportasi, ruang rekreasi, dan bagian dari identitas kota.
Pendekatan seperti ini membuat investasi infrastruktur memiliki manfaat yang lebih luas.
Daripada membangun satu fasilitas untuk satu persoalan, kota dirancang agar satu proyek dapat menjawab beberapa kebutuhan sekaligus.
Perencanaan Air Harus Melampaui Batas Administrasi
Air tidak mengikuti batas administratif.
Hujan yang turun di satu daerah dapat mengalir ke wilayah lain. Sungai melewati banyak kota. Banjir di hilir dapat dipengaruhi keputusan pembangunan di hulu.
Karena itu, tata kelola air membutuhkan koordinasi antarwilayah.
Pengalaman Belanda memperlihatkan pentingnya melihat sistem sungai, laut, drainase, dan kawasan perkotaan sebagai satu kesatuan.
Prinsip ini sangat relevan bagi kota-kota besar di Indonesia.
Jakarta, misalnya, tidak dapat menangani banjir hanya melalui kebijakan di dalam wilayah Jakarta karena sistem airnya berhubungan dengan Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, daerah aliran sungai, waduk, pesisir, dan Laut Jawa.
Adaptasi Iklim Harus Masuk ke Perencanaan Kota
Perubahan iklim meningkatkan tantangan kota pesisir.
Kenaikan muka laut, curah hujan ekstrem, gelombang panas, dan perubahan pola cuaca membuat desain berdasarkan kondisi masa lalu tidak lagi cukup.
Karena itu, kota perlu merancang infrastruktur berdasarkan risiko masa depan.
Rotterdam menunjukkan bahwa adaptasi iklim sebaiknya tidak ditempatkan sebagai proyek tambahan.
Ia harus masuk ke tata ruang, desain bangunan, sistem transportasi, ruang publik, serta perencanaan sumber daya air.
Teknologi Penting, tetapi Tata Kelola Lebih Penting
Rotterdam sering dikenal karena teknologi pengendalian airnya yang canggih.
Namun, teknologi tersebut hanya dapat bekerja apabila didukung perencanaan jangka panjang, koordinasi kelembagaan, pembiayaan, pemeliharaan, serta disiplin tata ruang.
Inilah salah satu pelajaran terbesar.
Banjir tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan pompa lebih besar atau tanggul lebih tinggi.
Kota juga harus mengendalikan pembangunan, mempertahankan ruang bagi air, memperbanyak area hijau, dan memahami bagaimana seluruh sistem saling terhubung.
Rotterdam menunjukkan bahwa kota yang tangguh terhadap air bukanlah kota yang berusaha mengusir seluruh air dari wilayahnya, tetapi kota yang memahami kapan harus menahan, mengalirkan, menyimpan, dan hidup berdampingan dengannya.
Bagi kota-kota Indonesia yang menghadapi banjir, penurunan tanah, urbanisasi, dan perubahan iklim, pengalaman Rotterdam memberikan satu pelajaran sederhana tetapi penting: air harus menjadi bagian dari perencanaan kota sejak awal, bukan baru dipikirkan setelah bencana datang.
Sumber: Kompasiana — Andi Setyo Pambudi, Penataan Kota Rotterdam dalam Keragaman dan Kecanggihan Infrastruktur Sumber Daya Air
https://www.kompasiana.com/andisetyopambudi5192/616a644c1a2adc4dfa786562/penataan-kota-rotterdam-dalam-keragaman-dan-kecanggihan-infrastruktur-sumberdaya-air




