Sampah Lama TPA Sarimukti Akan Diolah Menjadi Solar: Terobosan Energi atau Tantangan Baru Pengelolaan Limbah?

Krisis sampah di kawasan Bandung Raya semakin mendesak untuk ditangani. Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat, yang selama ini menjadi salah satu fasilitas utama penampungan sampah regional, diperkirakan mencapai batas kapasitasnya pada akhir 2026. Di tengah ancaman tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyiapkan langkah baru dengan menggandeng Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) untuk mengembangkan teknologi pengolahan sampah lama menjadi bahan bakar menyerupai solar melalui proses pirolisis. Program ini ditargetkan mampu mengolah hingga 1.000 ton sampah lama setiap hari, sekaligus menjadi bagian dari strategi mencegah terjadinya kedaruratan sampah di Bandung Raya.
Rencana tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman, sebagaimana diberitakan ANTARA pada 9 Oktober 2026. Pemerintah menargetkan pemasangan instalasi pirolisis dimulai pada akhir 2026 dan fasilitas dapat beroperasi pada 2027. Langkah ini menjadi perhatian karena menawarkan pendekatan berbeda terhadap persoalan sampah yang selama ini didominasi kegiatan pengumpulan, pengangkutan, dan penimbunan. Namun, di balik potensi pemanfaatan sampah sebagai sumber energi, terdapat berbagai persoalan teknis, lingkungan, dan ekonomi yang harus diperhatikan agar teknologi tersebut benar-benar memberikan manfaat.
TPA Sarimukti Menghadapi Ancaman Kelebihan Kapasitas
TPA Sarimukti memiliki peran penting dalam sistem pengelolaan sampah Bandung Raya. Fasilitas ini menerima sampah dari kawasan perkotaan yang menghasilkan timbulan dalam jumlah besar setiap hari. Berdasarkan keterangan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, produksi sampah Bandung Raya mencapai sekitar 5.000 ton per hari. Angka tersebut menggambarkan besarnya tantangan pengelolaan sampah regional, meskipun tidak seluruh timbulan tersebut harus diartikan sebagai volume yang masuk ke TPA Sarimukti setiap hari.
Permasalahan utama yang dihadapi adalah semakin terbatasnya ruang penimbunan. Ketika sampah terus dikirim ke TPA tanpa pengurangan yang memadai dari sumbernya, kapasitas lahan akan semakin cepat habis. Kondisi tersebut dapat menimbulkan persoalan operasional, mulai dari meningkatnya ketinggian timbunan hingga bertambahnya kebutuhan pengelolaan air lindi, gas hasil penguraian sampah, dan stabilitas lereng timbunan.
Apabila kapasitas TPA benar-benar terlampaui, dampaknya tidak hanya dirasakan di lokasi pembuangan. Gangguan pengangkutan dapat menyebabkan penumpukan sampah di tempat penampungan sementara, pasar, permukiman, dan fasilitas umum. Sampah organik yang tidak segera ditangani berpotensi menimbulkan bau, menarik vektor penyakit, serta menghasilkan cairan yang dapat mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik.
Karena itu, ancaman penuhnya TPA Sarimukti bukan sekadar persoalan keterbatasan lahan, melainkan risiko terhadap keberlangsungan pelayanan persampahan di kawasan Bandung Raya.
Mengubah Sampah Lama Menjadi Bahan Bakar melalui Pirolisis
Teknologi yang direncanakan digunakan dalam program ini adalah pirolisis, yaitu proses penguraian material melalui pemanasan pada kondisi dengan oksigen sangat terbatas atau tanpa oksigen.
Berbeda dengan pembakaran langsung, pirolisis memanfaatkan energi panas untuk mengubah material tertentu menjadi produk berupa gas, cairan, dan residu padat. Komposisi produk yang dihasilkan bergantung pada karakteristik bahan baku, temperatur operasi, desain reaktor, serta sistem pengolahan lanjutan.
Pada material seperti plastik tertentu, pirolisis dapat menghasilkan minyak yang mengandung berbagai senyawa hidrokarbon. Minyak tersebut berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku energi atau bahan baku proses industri setelah memenuhi persyaratan kualitas yang sesuai.
Namun, terdapat perbedaan penting antara minyak hasil pirolisis dan solar yang memenuhi standar bahan bakar kendaraan. Produk cair dari pirolisis tidak otomatis dapat digunakan langsung sebagai pengganti solar. Dalam banyak kasus, diperlukan pemurnian, peningkatan kualitas, atau proses lanjutan untuk mengurangi kontaminan dan memastikan karakteristik bahan bakar sesuai dengan penggunaan yang direncanakan.
Hal ini menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperjelas dalam pengembangan fasilitas Sarimukti.
Tidak Semua Sampah Dapat Langsung Diolah Menjadi Solar
Salah satu tantangan terbesar penerapan pirolisis pada sampah perkotaan adalah karakteristik bahan bakunya yang sangat beragam.
Sampah rumah tangga dapat mengandung sisa makanan, plastik, kertas, tekstil, logam, kaca, tanah, dan berbagai material lainnya. Setiap jenis memiliki sifat fisik dan kimia berbeda sehingga tidak seluruhnya cocok untuk proses pirolisis dengan tujuan menghasilkan minyak.
Plastik tertentu, khususnya yang kaya hidrokarbon, dapat menjadi bahan baku yang lebih sesuai untuk menghasilkan minyak pirolisis. Sebaliknya, sampah organik basah memiliki kandungan air tinggi sehingga membutuhkan energi tambahan untuk pengeringan dan dapat menurunkan efisiensi proses.
Material seperti logam, kaca, dan tanah juga tidak menghasilkan minyak hidrokarbon sebagaimana plastik. Keberadaannya justru dapat meningkatkan kebutuhan pemilahan dan mengganggu operasi peralatan apabila tidak ditangani dengan benar.
Tantangan tersebut menjadi semakin kompleks ketika bahan bakunya berasal dari sampah lama yang telah tertimbun selama bertahun-tahun. Sampah lama dapat mengalami penguraian, bercampur dengan tanah, menyerap air, dan berubah karakteristiknya akibat proses biologis maupun kimia.
Karena itu, keberhasilan program Sarimukti sangat bergantung pada hasil pengujian komposisi sampah yang akan diolah. Kapasitas pengolahan 1.000 ton per hari perlu dibedakan dari jumlah bahan baku yang benar-benar layak diproses menjadi minyak serta volume produk akhir yang memenuhi spesifikasi.
Mengapa Pengolahan Sampah Lama Lebih Rumit?
Pengolahan sampah lama dari TPA sering disebut sebagai bagian dari pendekatan landfill mining, yaitu kegiatan menggali kembali material yang telah tertimbun untuk tujuan pemulihan lahan, pemisahan material, atau pemanfaatan tertentu.
Pendekatan ini berpotensi membantu mengurangi sebagian volume timbunan, tetapi pelaksanaannya memiliki tantangan tersendiri.
Sampah yang telah lama tertimbun umumnya tidak memiliki komposisi yang sama dengan sampah baru. Sebagian material organik telah terurai, sedangkan plastik dan material lain dapat mengalami perubahan akibat paparan kelembapan, panas, dan kondisi lingkungan selama bertahun-tahun.
Proses penggalian juga perlu mempertimbangkan keselamatan pekerja, stabilitas timbunan, keberadaan gas, serta potensi pelepasan bau dan kontaminan.
Setelah digali, material biasanya memerlukan proses pemilahan untuk memisahkan fraksi yang dapat dimanfaatkan dari material yang tidak sesuai.
Dalam konteks pirolisis, kualitas dan konsistensi bahan baku sangat penting. Sistem yang dirancang untuk mengolah plastik relatif homogen belum tentu dapat beroperasi dengan baik apabila langsung menerima sampah campuran dengan kandungan air dan material inert yang tinggi.
Dengan demikian, keberhasilan proyek tidak cukup hanya ditentukan oleh kapasitas mesin pirolisis. Sistem penggalian, pemilahan, pengeringan, pengendalian kontaminan, dan pengelolaan residu harus dirancang sebagai satu kesatuan.
Target Pengolahan 1.000 Ton per Hari Perlu Diuji Secara Teknis
Target pengolahan 1.000 ton sampah lama per hari merupakan skala operasi yang besar. Apabila fasilitas dapat mencapai kapasitas tersebut secara konsisten, program berpotensi membantu mengurangi sebagian timbunan lama di Sarimukti.
Namun, angka kapasitas perlu diterjemahkan ke dalam perencanaan teknis yang rinci.
Pertama, perlu dipastikan apakah 1.000 ton per hari merupakan kapasitas sampah yang digali, kapasitas bahan baku setelah pemilahan, atau kapasitas material yang benar-benar masuk ke reaktor pirolisis.
Kedua, diperlukan informasi mengenai komposisi bahan baku dan perkiraan hasil produk. Tidak semua material yang diproses akan berubah menjadi minyak. Sebagian akan menghasilkan gas, residu padat, atau material yang harus ditangani melalui proses lain.
Ketiga, fasilitas memerlukan pasokan energi untuk pengeringan, pemanasan, pemilahan, dan pengoperasian peralatan pendukung. Konsumsi energi tersebut perlu diperhitungkan ketika menilai manfaat ekonomi dan lingkungan.
Keempat, diperlukan sistem pengendalian emisi serta pengelolaan produk samping agar proses pengolahan tidak menimbulkan pencemaran baru.
Tanpa informasi tersebut, klaim mengenai jumlah solar yang dapat dihasilkan belum dapat dinilai secara memadai.
Potensi Manfaat Ekonomi dari Pengolahan Sampah Menjadi Energi
Apabila dirancang dan dijalankan dengan baik, pengolahan material sampah menjadi produk energi berpotensi memberikan manfaat ekonomi.
Salah satu manfaatnya adalah berkurangnya kebutuhan penimbunan untuk fraksi material yang berhasil dimanfaatkan. Hal ini dapat membantu mengurangi tekanan terhadap kapasitas TPA.
Produk minyak pirolisis yang memenuhi persyaratan juga berpotensi memiliki nilai ekonomi, tergantung pada kualitas, biaya pengolahan lanjutan, dan kebutuhan pasar.
Selain itu, fasilitas pengolahan dapat menciptakan kebutuhan tenaga kerja dalam kegiatan pemilahan, pengoperasian mesin, pemeliharaan, pengujian kualitas, dan pengelolaan lingkungan.
Namun, manfaat ekonomi tersebut harus dibandingkan dengan seluruh biaya yang diperlukan. Investasi mesin, kebutuhan energi, pemeliharaan, penggantian komponen, pengolahan emisi, pengelolaan residu, serta biaya pemurnian produk dapat memengaruhi kelayakan usaha.
Karena itu, keberhasilan ekonomi tidak dapat hanya dihitung berdasarkan perkiraan volume minyak yang dihasilkan. Evaluasi harus menggunakan biaya operasi yang realistis dan mempertimbangkan kemungkinan perubahan kualitas bahan baku.
Pirolisis Bukan Solusi Tunggal Krisis Sampah
Meskipun menawarkan peluang pemanfaatan material tertentu, pirolisis tidak dapat menggantikan seluruh sistem pengelolaan sampah.
Sampah perkotaan memiliki karakteristik yang sangat beragam sehingga membutuhkan kombinasi pendekatan.
Sampah organik dapat dikelola melalui pengomposan atau pengolahan biologis yang sesuai. Material seperti logam, kertas, dan plastik yang masih layak didaur ulang dapat diarahkan ke proses daur ulang material. Sementara itu, residu yang tidak dapat dimanfaatkan tetap membutuhkan pengolahan dan pembuangan akhir yang memenuhi persyaratan lingkungan.
Dalam kerangka ekonomi sirkular, prioritas pengelolaan sampah sebaiknya dimulai dari pencegahan timbulan, pengurangan penggunaan material, penggunaan kembali, dan daur ulang. Pemulihan energi dapat dipertimbangkan untuk fraksi tertentu yang tidak layak dipertahankan dalam siklus material, dengan memperhatikan dampak lingkungan dan kelayakan teknis.
Pendekatan tersebut penting agar pengembangan fasilitas pirolisis tidak justru menciptakan kebutuhan terus-menerus terhadap sampah plastik yang sebenarnya masih dapat dikurangi atau didaur ulang.
Pemprov Jabar Juga Menyiapkan RDF dan Penguatan Infrastruktur TPA
Selain teknologi pirolisis, Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga sedang menjajaki pemanfaatan teknologi Refuse Derived Fuel atau RDF.
RDF merupakan bahan bakar yang dihasilkan dari pengolahan fraksi sampah tertentu melalui proses seperti pemilahan, pencacahan, dan pengurangan kadar air. Produk tersebut dapat digunakan pada fasilitas industri yang memiliki teknologi dan izin sesuai, misalnya sebagai substitusi sebagian bahan bakar konvensional.
RDF berbeda dari pirolisis karena tidak bertujuan menghasilkan minyak melalui penguraian termal. RDF merupakan bahan bakar padat yang disiapkan agar memiliki karakteristik lebih sesuai untuk proses pemanfaatan energi.
Di sisi lain, Pemprov Jabar bersama tim ahli Institut Teknologi Bandung juga menyiapkan langkah rekayasa teknis di TPA Sarimukti. Upaya tersebut mencakup pemadatan sampah di Zona 5 serta pembangunan struktur penahan berupa gravity wall pada sisi selatan dan timur.
Langkah ini diarahkan untuk membantu memperpanjang masa operasional TPA.
Namun, peningkatan kapasitas melalui pemadatan dan pembangunan struktur penahan perlu didukung kajian geoteknik, pengendalian air lindi, pengelolaan gas, dan pemantauan stabilitas timbunan.
Perpanjangan usia TPA tidak boleh mengorbankan keselamatan maupun kualitas lingkungan di sekitarnya.
Melibatkan 25.000 Mahasiswa untuk Mengurangi Sampah dari Sumbernya
Salah satu bagian menarik dari strategi Pemerintah Provinsi Jawa Barat adalah rencana pelibatan 25.000 mahasiswa dalam kegiatan edukasi dan pendampingan pemilahan sampah.
Mahasiswa ditargetkan turun ke kawasan permukiman, hotel, dan pusat kuliner di Bandung Raya mulai Oktober 2026. Kegiatan tersebut direncanakan memiliki skema pengakuan akademik setara 10 satuan kredit semester.
Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya mengandalkan teknologi pengolahan di bagian hilir, tetapi juga berupaya memperbaiki perilaku pengelolaan sampah dari sumbernya.
Pemilahan memiliki peran penting karena kualitas material yang masuk ke fasilitas pengolahan sangat menentukan keberhasilan proses berikutnya.
Ketika sampah organik, plastik, kertas, logam, dan residu tercampur, biaya pengolahan dapat meningkat. Material yang sebenarnya memiliki nilai daur ulang juga dapat kehilangan kualitas akibat kontaminasi.
Namun, keberhasilan program mahasiswa tidak cukup diukur dari jumlah peserta atau rumah tangga yang dikunjungi. Perubahan yang lebih penting adalah meningkatnya pemilahan secara konsisten dan tersedianya sistem pengangkutan serta pengolahan yang mampu mempertahankan pemisahan tersebut.
Tanpa dukungan sistem pelayanan, kebiasaan memilah sampah berisiko tidak bertahan lama.
Menunggu Beroperasinya TPPAS Legok Nangka pada 2030
Strategi yang disiapkan Pemprov Jabar juga berkaitan dengan masa transisi menuju pengoperasian fasilitas pengolahan sampah menjadi energi di TPPAS Legok Nangka.
Berdasarkan laporan ANTARA, pemerintah memproyeksikan rangkaian strategi pengolahan dan penguatan operasional Sarimukti dapat menjaga keberlangsungan layanan hingga akhir 2029, sebelum fasilitas Legok Nangka ditargetkan beroperasi penuh pada 2030.
Artinya, berbagai langkah yang sedang disiapkan memiliki fungsi penting sebagai jembatan menuju sistem pengelolaan sampah regional yang direncanakan pada masa mendatang.
Namun, jadwal proyek infrastruktur berskala besar tetap memiliki risiko keterlambatan akibat persoalan pembiayaan, perizinan, konstruksi, kesiapan teknologi, dan koordinasi kelembagaan.
Karena itu, Bandung Raya perlu memiliki strategi pengurangan sampah yang tidak sepenuhnya bergantung pada keberhasilan satu fasilitas pengolahan.
Semakin besar pengurangan sampah dari sumbernya, semakin kecil tekanan terhadap fasilitas pengolahan akhir, baik yang telah beroperasi maupun yang masih direncanakan.
Risiko Lingkungan dari Pirolisis Harus Diperhatikan
Pengolahan sampah melalui pirolisis sering dipromosikan sebagai teknologi yang mampu mengubah limbah menjadi produk bernilai. Namun, proses tersebut tetap memiliki potensi dampak lingkungan yang harus dikendalikan.
Bahan baku yang mengandung kontaminan tertentu dapat menghasilkan produk gas, cair, atau residu yang memerlukan penanganan khusus.
Sebagai contoh, keberadaan plastik yang mengandung klorin dapat menimbulkan persoalan korosi dan kontaminasi pada produk apabila tidak ditangani melalui sistem pengolahan yang tepat.
Selain itu, proses pirolisis membutuhkan energi panas. Sumber energi yang digunakan akan memengaruhi jejak emisi keseluruhan fasilitas.
Gas hasil proses juga perlu dikelola melalui sistem yang aman. Residu padat harus diuji dan ditangani berdasarkan karakteristiknya.
Produk minyak yang dihasilkan pun perlu memenuhi standar sebelum digunakan untuk keperluan tertentu.
Karena itu, penilaian lingkungan sebaiknya tidak hanya melihat berkurangnya volume sampah, tetapi juga memperhitungkan konsumsi energi, emisi, produk samping, serta dampak penggunaan bahan bakar yang dihasilkan.
Teknologi pengolahan sampah tidak dapat dianggap otomatis ramah lingkungan hanya karena menghasilkan produk energi.
Perlu Kajian Kelayakan dan Transparansi Data
Pengembangan fasilitas pirolisis berskala besar membutuhkan kajian kelayakan teknis, ekonomi, dan lingkungan yang komprehensif.
Kajian teknis perlu memastikan kesesuaian karakteristik sampah dengan teknologi yang dipilih. Kajian ekonomi harus memperhitungkan seluruh biaya investasi dan operasi, termasuk pengolahan lanjutan produk. Sementara itu, kajian lingkungan perlu menilai potensi emisi, limbah, penggunaan energi, dan dampak terhadap kawasan sekitar.
Transparansi informasi juga penting agar masyarakat dapat memahami manfaat dan risiko program secara objektif.
Beberapa informasi yang perlu tersedia antara lain kapasitas aktual pengolahan, komposisi bahan baku, jumlah produk yang dihasilkan, kualitas minyak, kebutuhan energi, volume residu, serta hasil pengujian emisi.
Apabila fasilitas mulai beroperasi, indikator tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi apakah teknologi benar-benar membantu mengurangi beban TPA secara aman dan ekonomis.
Dengan demikian, keberhasilan program dapat dinilai berdasarkan kinerja aktual, bukan hanya target yang diumumkan pada tahap perencanaan.
Bandung Raya Membutuhkan Transformasi Sistem Persampahan
Persoalan Sarimukti memperlihatkan bahwa krisis sampah perkotaan tidak dapat diselesaikan hanya dengan memperluas tempat pembuangan akhir.
Selama timbulan sampah terus meningkat dan sebagian besar material masih dikirim dalam kondisi tercampur, kebutuhan kapasitas pengolahan akan terus bertambah.
Teknologi seperti pirolisis, RDF, dan pengolahan sampah menjadi energi dapat menjadi bagian dari sistem yang lebih luas. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada pengurangan sampah dari sumber, pemilahan, pengumpulan yang andal, serta pengolahan sesuai karakteristik material.
Pemerintah daerah juga perlu memastikan pembagian tanggung jawab yang jelas antara pengelolaan sampah rumah tangga, pelayanan pengangkutan, fasilitas pengolahan, dan pemrosesan akhir.
Dalam jangka panjang, keberhasilan sistem persampahan seharusnya tidak hanya diukur dari kemampuan mengangkut seluruh sampah ke TPA, tetapi juga dari berkurangnya jumlah material yang harus ditimbun.
Sampah Menjadi Solar: Peluang yang Harus Dibuktikan
Rencana Pemerintah Provinsi Jawa Barat menggandeng TNI AD untuk mengolah sampah lama Sarimukti menjadi bahan bakar merupakan salah satu upaya menghadapi tekanan kapasitas TPA yang semakin mendesak.
Target pengolahan 1.000 ton per hari menunjukkan besarnya skala intervensi yang sedang dipersiapkan. Apabila berhasil, program berpotensi membantu mengurangi sebagian timbunan lama dan memberikan nilai tambah pada fraksi sampah tertentu.
Namun, keberhasilan tersebut tidak dapat dinilai hanya dari pemasangan mesin atau jumlah sampah yang direncanakan masuk ke fasilitas.
Pertanyaan terpenting adalah apakah teknologi mampu mengolah sampah lama dengan karakteristik nyata di Sarimukti, menghasilkan produk yang memenuhi standar, beroperasi secara ekonomis, dan mengendalikan seluruh dampak lingkungannya.
Selain itu, pengembangan teknologi hilir harus berjalan bersama pengurangan sampah dari sumbernya.
Mengubah sampah menjadi bahan bakar dapat menjadi bagian dari solusi, tetapi mencegah sampah terus menumpuk merupakan tujuan yang jauh lebih mendasar.
Krisis Sarimukti menjadi pengingat bahwa pengelolaan sampah membutuhkan kombinasi teknologi, perubahan perilaku, infrastruktur, kebijakan, dan pengawasan yang konsisten.
Jika seluruh pendekatan tersebut berjalan bersama, Bandung Raya memiliki peluang membangun sistem persampahan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Sebaliknya, apabila hanya mengandalkan satu teknologi tanpa memperbaiki persoalan dari hulu, tekanan terhadap TPA berpotensi terus berulang.
Pada akhirnya, keberhasilan pengelolaan sampah bukan ditentukan oleh seberapa banyak sampah yang berhasil diubah menjadi energi, melainkan oleh seberapa besar pencemaran dapat dicegah, material dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab, dan lingkungan dapat dilindungi dalam jangka panjang.
Sumber: ANTARA News Jawa Barat, 9 Oktober 2026 — Pemprov Jabar Gandeng TNI Olah Sampah Lama di TPA Sarimukti Jadi Solar.




