Truk Nol Emisi Bisa Jadi Kunci Dekarbonisasi Angkutan Barang Indonesia

Sektor angkutan barang menjadi salah satu sumber emisi transportasi terbesar di Indonesia. Seiring pertumbuhan aktivitas logistik dan jumlah armada truk, ketergantungan terhadap bahan bakar diesel berpotensi meningkatkan impor minyak, beban subsidi energi, serta pencemaran udara.
Institute for Essential Services Reform (IESR) menyoroti pentingnya percepatan adopsi truk nol emisi untuk kendaraan angkutan barang kelas menengah dan berat. Transisi ini dinilai menjadi salah satu peluang penting untuk menekan emisi sektor transportasi sekaligus meningkatkan efisiensi sistem logistik nasional.
Namun, adopsi truk nol emisi masih menghadapi sejumlah hambatan. Biaya awal kendaraan yang tinggi, pilihan model kendaraan yang masih terbatas, serta infrastruktur pengisian daya yang belum memadai menjadi tantangan utama.
Selain itu, standar efisiensi bahan bakar dan emisi untuk kendaraan berat juga dinilai perlu diperkuat. Tanpa regulasi yang lebih ambisius, peralihan dari truk berbahan bakar diesel ke teknologi nol emisi dapat berjalan terlalu lambat.
Salah satu strategi yang direkomendasikan adalah pemberian insentif yang netral terhadap teknologi. Pendekatan ini memungkinkan pemerintah mendorong berbagai teknologi rendah atau nol emisi selama mampu memenuhi standar yang ditetapkan.
Pembangunan jaringan pengisian daya nasional juga menjadi kebutuhan penting, khususnya di sepanjang koridor utama angkutan barang. Infrastruktur tersebut harus dirancang sesuai karakteristik operasional kendaraan berat yang berbeda dengan kendaraan listrik penumpang.
Skema pembiayaan inovatif juga diperlukan untuk mengurangi beban investasi awal bagi perusahaan logistik dan pemilik armada. Dengan dukungan pembiayaan yang tepat, biaya kepemilikan kendaraan dalam jangka panjang dapat menjadi lebih kompetitif.
Transisi menuju truk nol emisi tidak hanya berkaitan dengan pengurangan emisi karbon. Penggunaan kendaraan yang lebih bersih juga berpotensi memperbaiki kualitas udara di kawasan industri, pelabuhan, jalan tol, dan pusat distribusi yang selama ini banyak dilalui kendaraan berat berbahan bakar diesel.
Dari sisi ekonomi, elektrifikasi angkutan barang dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak impor, menekan biaya operasional logistik, serta meningkatkan daya saing industri Indonesia.
Dekarbonisasi transportasi tidak cukup hanya dengan kendaraan listrik pribadi. Truk yang mengangkut barang setiap hari juga harus menjadi bagian penting dari transisi menuju sistem transportasi yang lebih bersih, efisien, dan berkelanjutan.
Sumber: Institute for Essential Services Reform (IESR)
https://iesr.or.id/en/pustaka/zero-emission-trucks-in-indonesia-a-policy-and-regulatory-roadmap-for-heavy-and-medium-duty-freight/




