Artikel

Urban Farming dari Kampung: Menghubungkan Edukasi Sampah, Ketahanan Pangan, dan Kepedulian Lingkungan

Persoalan sampah plastik tidak cukup diselesaikan melalui pengangkutan dan pembersihan. Perubahan perilaku masyarakat, pengelolaan sampah dari sumbernya, serta pemanfaatan ruang untuk kegiatan produktif seperti urban farming dapat menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan yang lebih berkelanjutan.

Sampah plastik masih menjadi tantangan besar bagi Indonesia. Material yang sulit terurai ini dapat bertahan lama di lingkungan, mencemari sungai dan laut, serta mengancam kehidupan satwa. Di sisi lain, persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan plastik. Sampah makanan juga menjadi masalah serius karena sebagian bahan pangan yang seharusnya dapat dikonsumsi justru berakhir di tempat pembuangan.

Menghadapi persoalan tersebut, edukasi masyarakat menjadi salah satu langkah penting. Pengelolaan sampah membutuhkan keterlibatan warga dalam mengubah kebiasaan sehari-hari, mulai dari mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah, hingga memanfaatkan kembali material yang masih memiliki nilai guna.

Salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan adalah menghubungkan edukasi lingkungan dengan kegiatan produktif di sekitar tempat tinggal. Inilah pendekatan yang diperkenalkan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk melalui program edukasi urban farming di Kampung Nglarang, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Mengubah Lingkungan melalui Kebiasaan dari Rumah

Dalam kegiatan yang dilaksanakan pada 20 Desember 2024 tersebut, PGN menghadirkan edukasi mengenai persoalan sampah plastik dan sampah makanan kepada masyarakat. Edukasi disampaikan oleh Didi Kaspi Kasim, Editor in Chief National Geographic Indonesia, yang mengajak warga memahami dampak sampah terhadap lingkungan.

Sampah plastik menjadi perhatian karena sifatnya yang sulit terurai secara alami. Ketika tidak dikelola dengan baik, sampah dapat terbawa aliran air menuju sungai dan akhirnya mencemari laut. Dampaknya bukan hanya terlihat dari menumpuknya sampah di pesisir, tetapi juga dari ancaman terhadap ekosistem laut, termasuk ikan dan terumbu karang.

Selain plastik, sampah makanan juga membutuhkan perhatian. Bahan pangan yang terbuang menunjukkan adanya persoalan dalam pola konsumsi dan pengelolaan sumber daya. Ketika makanan yang masih dapat dimanfaatkan berakhir sebagai sampah, sumber daya yang digunakan untuk memproduksinya—seperti air, energi, lahan, dan tenaga kerja—ikut terbuang.

Karena itu, edukasi lingkungan perlu diarahkan pada perubahan perilaku sejak dari rumah tangga. Masyarakat tidak hanya diajak memahami besarnya persoalan, tetapi juga mengenali tindakan sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampaknya.

Urban Farming sebagai Ruang Belajar dan Aksi Lingkungan

Salah satu kegiatan yang diperkenalkan dalam program tersebut adalah urban farming, yaitu aktivitas bercocok tanam di kawasan perkotaan atau lingkungan padat penduduk. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan pekarangan, halaman rumah, lahan terbatas, maupun ruang yang sebelumnya kurang produktif.

Dalam program di Kampung Nglarang, PGN membagikan 500 bibit tanaman kepada warga untuk mendukung praktik pertanian di lingkungan tempat tinggal. Melalui kegiatan ini, masyarakat diperkenalkan pada cara menanam sekaligus didorong untuk memanfaatkan hasil kebun bagi kebutuhan sehari-hari.

Urban farming memiliki manfaat yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan buah dan sayuran. Kegiatan berkebun dapat menjadi sarana pembelajaran tentang siklus pangan, pemanfaatan sumber daya, serta hubungan antara aktivitas manusia dan lingkungan. Warga dapat memahami bahwa sebagian kebutuhan pangan dapat dipenuhi dari lingkungan sekitar, tanpa seluruhnya bergantung pada pasokan dari luar wilayah.

Kegiatan ini juga dapat dikembangkan untuk mengurangi sampah organik. Sisa sayuran, kulit buah, dan bahan organik tertentu dapat diolah menjadi kompos untuk mendukung kesuburan tanaman. Dengan pengelolaan yang tepat, sebagian sampah rumah tangga dapat dikembalikan ke tanah sebagai sumber nutrisi, bukan langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir.

Namun, urban farming bukan solusi langsung untuk seluruh persoalan sampah plastik. Pengurangan sampah plastik tetap membutuhkan langkah khusus, seperti membatasi plastik sekali pakai, memilah sampah, menggunakan kembali wadah, serta memastikan material yang dapat didaur ulang masuk ke sistem pengolahan yang sesuai. Urban farming lebih tepat dipandang sebagai bagian dari pendekatan edukasi lingkungan yang lebih luas.

Gunungpati dan Pentingnya Menjaga Fungsi Ekologis Wilayah

Pemilihan Gunungpati sebagai lokasi program juga memiliki konteks lingkungan yang penting. Wilayah Semarang bagian atas ini memiliki fungsi strategis sebagai kawasan konservasi dan pendidikan sebagaimana tercantum dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Semarang 2010–2030.

Akan tetapi, perkembangan pembangunan perumahan di kawasan tersebut turut memberikan tekanan terhadap lahan. Perubahan lahan terbuka menjadi kawasan terbangun dapat mengurangi kemampuan tanah menyerap air hujan. Ketika semakin banyak permukaan tanah tertutup semen dan bangunan, air hujan lebih cepat mengalir ke wilayah yang lebih rendah sehingga berpotensi memperbesar risiko genangan dan banjir.

Dalam konteks tersebut, penanaman tanaman produktif dan penghijauan lingkungan menjadi salah satu upaya untuk mempertahankan ruang hijau. Pelaksana Tugas Camat Gunungpati, Al Frida Very Sanavel, menekankan pentingnya menjaga kawasan resapan air agar fungsi ekologis wilayah tetap terpelihara.

Meski demikian, penanaman tanaman di pekarangan tidak dapat menggantikan fungsi kawasan konservasi, hutan, maupun ruang terbuka hijau yang luas. Urban farming perlu ditempatkan sebagai salah satu bentuk kontribusi masyarakat dalam menjaga lingkungan permukiman, sementara perlindungan kawasan konservasi tetap membutuhkan kebijakan tata ruang dan pengendalian pembangunan yang konsisten.

Dari Pembagian Bibit Menuju Ekosistem Pemberdayaan Masyarakat

Program pembagian bibit tanaman akan memberikan manfaat lebih besar apabila tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Tantangan berikutnya adalah memastikan tanaman dirawat, tumbuh, dan benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat.

Kampung Nglarang memiliki peluang untuk mengembangkan kegiatan urban farming menjadi aktivitas bersama yang lebih terorganisasi. Warga dapat membentuk kelompok berkebun, mengembangkan kebun bibit, berbagi pengetahuan mengenai perawatan tanaman, hingga memasarkan hasil panen apabila produksinya telah berkembang.

Gagasan ini juga sejalan dengan potensi pengembangan desa sebagai pusat pembelajaran urban farming. Masyarakat dapat membagikan pengalaman dan praktik berkebun melalui kegiatan komunitas maupun media sosial. Dengan demikian, pengetahuan yang awalnya diperkenalkan melalui satu kegiatan edukasi dapat menyebar dan menginspirasi lingkungan lain.

Agar berkelanjutan, kegiatan tersebut memerlukan pendampingan, keterlibatan pemerintah setempat, serta kolaborasi dengan komunitas dan pihak swasta. Perusahaan dapat berkontribusi melalui dukungan bibit, sarana, pelatihan, dan penguatan kapasitas masyarakat. Sementara itu, warga menjadi pelaku utama yang memastikan kegiatan terus berjalan setelah program awal selesai.

Menghubungkan Ketahanan Pangan dengan Pengelolaan Sampah

Urban farming juga membuka peluang untuk menghubungkan isu ketahanan pangan dengan pengelolaan sampah. Kedua persoalan ini sering kali dibahas secara terpisah, padahal memiliki keterkaitan dalam kehidupan sehari-hari.

Produksi pangan membutuhkan lahan, air, energi, dan berbagai sumber daya lainnya. Ketika masyarakat dapat menanam sebagian kebutuhan pangan di lingkungan sendiri, mereka memiliki kesempatan untuk lebih memahami proses produksi dan menghargai bahan makanan. Pemahaman tersebut dapat mendorong pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab, termasuk mengurangi pemborosan makanan.

Pada saat yang sama, pengolahan sampah organik menjadi kompos dapat mendukung kegiatan berkebun. Hubungan ini membentuk siklus sederhana: sisa organik rumah tangga diolah menjadi kompos, kompos digunakan untuk menyuburkan tanaman, dan hasil tanaman dimanfaatkan kembali untuk memenuhi sebagian kebutuhan pangan.

Siklus tersebut memang tidak akan menyelesaikan persoalan sampah dalam skala kota. Namun, apabila dilakukan secara konsisten dan melibatkan banyak rumah tangga, kegiatan ini dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi sampah organik sekaligus memperkuat ketahanan pangan komunitas.

Keberlanjutan Dimulai dari Partisipasi Masyarakat

Program edukasi urban farming di Kampung Nglarang memperlihatkan bagaimana isu lingkungan dapat diperkenalkan melalui kegiatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Edukasi sampah, pembagian bibit, dan aktivitas berkebun menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau perusahaan, melainkan juga membutuhkan partisipasi warga.

Namun, keberhasilan program lingkungan tidak semestinya hanya diukur dari jumlah bibit yang dibagikan atau banyaknya peserta yang hadir. Ukuran yang lebih penting adalah perubahan perilaku dan keberlanjutan kegiatan setelah program selesai. Apakah warga terus merawat tanaman? Apakah sampah organik mulai diolah? Apakah penggunaan plastik sekali pakai berkurang? Apakah ruang hijau di lingkungan permukiman semakin terjaga?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting untuk memastikan bahwa edukasi benar-benar menghasilkan perubahan.

Pada akhirnya, membangun lingkungan berkelanjutan membutuhkan lebih dari sekadar kampanye dan kegiatan sesaat. Dibutuhkan kebiasaan baru, sistem pengelolaan sampah yang memadai, perlindungan ruang hijau, serta kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, komunitas, dan dunia usaha. Urban farming dapat menjadi salah satu titik awal untuk membangun hubungan yang lebih dekat antara warga, pangan, dan alam—dimulai dari ruang kecil di sekitar rumah.

Referensi utama

  1. Yogarta Awawa Prabaning Arka dan Agung Dwi E. (2 Januari 2025). Atasi Masalah Sampah Plastik, PGN Gelar Edukasi Urban Farming untuk Warga Gunungpati Semarang. Kompas Lestari. Baca artikel sumber.
  2. Aningtias Jatmika dan Aditya Mulyawan. (27 Desember 2024). Gelar Edukasi dan Bagikan Bibit Tanaman Produktif, Begini Wujud Komitmen PGN dalam Menjaga Ketahanan Pangan dan Lingkungan di Gunungpati Semarang. Kompas Lestari. Baca artikel pendukung.
  3. PGN Dorong Konservasi Lingkungan di Gunungpati melalui Urban Farming. Kompas.com, 22 Desember 2024. Baca artikel terkait.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO