Berita

7 Tren Keberlanjutan Tahun 2025 yang Akan Mendominasi Dunia

Memasuki tahun 2025, dunia menyambut era baru dengan semangat tinggi untuk menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan. Kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan semakin meningkat, baik di tingkat individu maupun korporasi. Dari aspek lingkungan, sosial, hingga tata kelola perusahaan, tren keberlanjutan di berbagai sektor terus berkembang pesat. Berdasarkan laporan terbaru dari Sustainability Magazine, berikut adalah tujuh tren keberlanjutan yang diprediksi akan menjadi sorotan di tahun 2025.

1. ESG (Environmental, Social, and Governance)

Aspek ESG akan semakin menjadi prioritas dalam dunia korporasi pada tahun 2025. Saat ini, 81% perusahaan global telah mengintegrasikan metrik ESG ke dalam rencana insentif eksekutif mereka, naik dari 68% pada tahun 2020. Pengurangan emisi karbon menjadi salah satu metrik lingkungan dengan pertumbuhan tercepat. Banyak perusahaan kini mengaitkan target keberlanjutan dengan rencana insentif jangka pendek maupun jangka panjang.

Hal ini menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan lagi sekadar tren, tetapi menjadi elemen penting dalam strategi bisnis. Semakin banyak perusahaan yang berkomitmen untuk mengurangi dampak lingkungan, sekaligus memenuhi harapan para pemangku kepentingan.

2. Pengelolaan Air

Kelangkaan air menjadi tantangan global yang semakin mendesak. Pada tahun 2025, diperkirakan 1,8 miliar orang akan menghadapi kelangkaan air absolut, sementara dua pertiga populasi dunia mengalami tekanan air. Negara-negara seperti Lebanon, Pakistan, dan Afghanistan telah merasakan dampak kekurangan air yang parah.

Industri mulai mengambil langkah-langkah ambisius untuk mengatasi masalah ini. Contohnya, PepsiCo berkomitmen untuk mengisi kembali lebih dari 100% air yang mereka gunakan di daerah-daerah berisiko tinggi pada tahun 2030. Inisiatif serupa dari sektor swasta dan pemerintah diharapkan terus bertumbuh untuk memastikan ketersediaan air bagi generasi mendatang.

3. Ekonomi Sirkular

Model ekonomi sirkular diprediksi akan menjadi standar baru pada tahun 2025. Pendekatan ini menekankan pada perpanjangan masa pakai produk, penggunaan kembali, dan daur ulang material. Banyak perusahaan mulai menjauh dari plastik sekali pakai dan beralih ke inovasi kemasan yang lebih ramah lingkungan.

Mary Jacques, Eksekutif ESG dari Lenovo Global, menyoroti pentingnya efisiensi sumber daya dalam ekonomi sirkular. Menurutnya, vendor perlu fokus pada pengurangan dampak siklus hidup produk, sambil memprioritaskan pengurangan konsumsi. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem bisnis yang lebih berkelanjutan.

4. Solusi Berbasis Alam (Nature-Based Solutions/NbS)

Investasi dalam solusi berbasis alam akan meningkat signifikan pada tahun 2025. Proyek restorasi dan konservasi ekosistem menjadi fokus utama banyak perusahaan. Diperkirakan, investasi tahunan dalam NbS akan mencapai 384 miliar dolar AS pada 2025, lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun ini.

Peningkatan ini didorong oleh kebutuhan mendesak untuk mengatasi perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan degradasi lahan. Keterlibatan sektor swasta dalam mendukung proyek NbS juga diprediksi akan melonjak dalam beberapa tahun ke depan.

5. Energi Terbarukan

Investasi dalam energi terbarukan terus melonjak, dan tren ini diperkirakan akan semakin kuat pada 2025. Penurunan biaya energi terbarukan menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pertumbuhan ini. Banyak perusahaan mulai berkomitmen untuk mencapai target 100% energi terbarukan, seiring dengan fokus pada efisiensi energi dan teknologi rendah emisi.

Menurut Tim Weiss, Co-Founder dan CEO Optera, dunia akan menyaksikan penurunan nilai aset bahan bakar fosil dalam dekade mendatang. Perusahaan yang lebih awal beralih ke energi terbarukan akan memiliki keunggulan kompetitif, terutama ketika permintaan energi bersih melebihi pasokan.

6. Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI)

Kecerdasan buatan akan memainkan peran penting dalam upaya keberlanjutan pada tahun 2025. Teknologi ini tidak hanya digunakan untuk tugas sederhana seperti pengoptimalan rute, tetapi juga untuk pengambilan keputusan otonom yang lebih kompleks. AI menjadi mesin penggerak efisiensi dan inovasi di berbagai sektor, termasuk transportasi dan rantai pasokan.

Christopher Keating, Wakil Presiden Senior Trimble Transportation Europe, menyebutkan bahwa AI akan terus berkembang dari otomatisasi dasar menjadi aplikasi canggih. Perusahaan yang memanfaatkan AI untuk keberlanjutan dapat mengoptimalkan operasional mereka sekaligus mengurangi jejak karbon.

7. Manajemen Karbon

Pada tahun 2025, teknologi pelacakan dan pengoptimalan karbon akan menjadi hal yang umum di berbagai perusahaan. Teknologi seperti blockchain diharapkan dapat merevolusi pasar kredit karbon dengan meningkatkan transparansi dan keamanan.

Ty Colman, Co-Founder dan CRO Optera, menekankan pentingnya pengelolaan karbon yang komprehensif. Menurutnya, perusahaan yang fokus pada manajemen karbon secara keseluruhan akan lebih unggul dalam mendorong perubahan yang berarti. Perlombaan menuju dekarbonisasi akan terus mengungkap kesenjangan antara penghitungan karbon dan intelijen karbon yang sebenarnya.

Kesimpulan

Tahun 2025 membawa harapan besar untuk masa depan yang lebih berkelanjutan. Dari penerapan metrik ESG hingga manajemen karbon, tren keberlanjutan ini mencerminkan komitmen global untuk menghadapi tantangan lingkungan dengan solusi inovatif. Dengan kolaborasi antara sektor swasta, pemerintah, dan masyarakat, kita dapat menciptakan dunia yang lebih hijau dan layak huni bagi generasi mendatang.

Sumber: Kompas.com

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO