Percepatan Perubahan Iklim Ancam Pasokan Pangan Global

Perubahan iklim yang semakin cepat menimbulkan ancaman besar bagi ketahanan pangan dunia. Sebuah studi yang dilakukan oleh tim peneliti internasional memperingatkan bahwa tanpa langkah cepat dan inovatif dalam mengembangkan tanaman yang lebih tahan terhadap perubahan iklim, dunia menghadapi potensi kekurangan pangan yang meluas. Situasi ini dapat memicu kelaparan, migrasi massal, dan ketidakstabilan global.
“Kita sedang berpacu dengan waktu. Tanaman yang kita andalkan untuk makanan semakin berjuang untuk bertahan dari cuaca ekstrem seperti gelombang panas, kekeringan, dan banjir,” ujar Silvia Restrepo dari Boyce Thompson Institute (BTI), New York, AS.
Restrepo juga menambahkan bahwa pendekatan yang digunakan saat ini untuk membuat tanaman lebih tangguh tidak cukup cepat. Tanaman tidak hanya harus bertahan dari suhu tinggi, tetapi juga dari peningkatan frekuensi wabah hama dan penyakit akibat perubahan iklim. Bahkan ketika tanaman berhasil bertahan, perubahan ini sering kali mengurangi nilai gizinya, memperparah risiko kekurangan gizi di berbagai belahan dunia.
Lingkaran Setan Antara Perubahan Iklim dan Sistem Pertanian
Ironisnya, sektor pertanian, yang merupakan tulang punggung ketahanan pangan manusia, juga menyumbang sekitar 26 persen dari emisi gas rumah kaca global. Hal ini menciptakan lingkaran setan, di mana perubahan iklim merusak produktivitas pertanian, sementara praktik pertanian konvensional justru memperburuk krisis iklim.
Dampak ini tidak hanya dirasakan oleh negara maju, tetapi lebih parah di negara berkembang yang bergantung pada pertanian skala kecil. Dengan sumber daya yang terbatas, para petani kecil di negara-negara berkembang sering kali menjadi kelompok yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.
Rekomendasi Solusi untuk Menghadapi Krisis
Tim peneliti internasional dalam studinya mengusulkan beberapa solusi untuk mengatasi ancaman ini. Solusi tersebut mencakup:
- Inisiatif Penelitian Global
Membentuk kolaborasi lintas negara yang mempertemukan ilmuwan dari negara maju dan berkembang untuk berbagi sumber daya dan keahlian. - Penelitian Lapangan
Fokus pada studi tanaman dalam kondisi dunia nyata, bukan hanya di laboratorium yang terkontrol. Hal ini penting untuk memahami bagaimana tanaman beradaptasi di lingkungan yang tidak ideal. - Kemitraan dengan Petani
Membangun hubungan yang lebih kuat antara ilmuwan laboratorium dan petani. Kolaborasi ini bertujuan menciptakan solusi yang lebih relevan dengan kebutuhan di lapangan. - Kepercayaan Publik dan Teknologi Baru
Meningkatkan kepercayaan publik terhadap teknologi pengembangan tanaman baru, seperti genetika dan bioteknologi, yang dapat mempercepat adaptasi tanaman terhadap perubahan iklim. - Reformasi Regulasi
Menyederhanakan peraturan untuk mempercepat penerapan solusi inovatif, sehingga hasil penelitian dapat segera diimplementasikan secara luas.
Namun, untuk mewujudkan semua ini, diperlukan pendanaan yang signifikan. Saat ini, hanya sekitar 4 persen dari total pendanaan iklim global (setara dengan 35 miliar dolar per tahun) yang dialokasikan untuk pengembangan sistem pangan tahan iklim. Angka ini jauh dari cukup, mengingat pentingnya sektor ini dalam memastikan kelangsungan hidup manusia.
Fokus pada Petani Skala Kecil dan Negara Berkembang
Studi ini juga menyoroti ketimpangan dalam alokasi dana penelitian, di mana sebagian besar investasi saat ini berfokus pada pertanian skala besar di negara maju. Sementara itu, petani skala kecil di negara berkembang sering kali terabaikan, padahal mereka memainkan peran penting dalam menyediakan pangan bagi masyarakat lokal.
Andrew Nelson, salah satu penulis studi ini, menekankan perlunya pendekatan baru. “Daripada memulai di laboratorium dan berharap solusinya berhasil di lapangan, kita harus mulai dengan memahami tantangan nyata yang dihadapi petani dan kemudian bekerja mundur untuk mengembangkan solusi yang praktis,” ungkapnya.
Kolaborasi Global untuk Masa Depan Pangan
Peneliti menekankan bahwa keberhasilan dalam menghadapi tantangan ini membutuhkan kolaborasi global yang melibatkan ilmuwan, petani, pembuat kebijakan, dan masyarakat. Selain itu, teknologi baru harus dapat diakses oleh semua wilayah, terutama di belahan bumi selatan, di mana dampak perubahan iklim sering kali terasa paling parah.
“Kita perlu memikirkan kembali sepenuhnya cara kita menghadapi tantangan ini. Solusi yang berhasil membutuhkan kemitraan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ujar Nelson.
Dampak perubahan iklim terhadap sistem pangan global tidak bisa diabaikan. Gelombang panas, banjir, kekeringan, dan serangan hama telah menunjukkan bahwa sistem pangan dunia saat ini tidak cukup tangguh. Untuk menghindari ancaman kekurangan pangan, diperlukan langkah cepat dan terintegrasi dalam penelitian, teknologi, serta kebijakan.
Pendekatan berbasis kolaborasi lintas sektor dan investasi yang lebih besar dalam sistem pangan tahan iklim adalah kunci untuk memastikan ketahanan pangan di masa depan. Dunia tidak hanya memerlukan solusi yang lebih inovatif, tetapi juga keberanian untuk mengimplementasikannya demi keberlanjutan kehidupan umat manusia.
Sumber:
https://lestari.kompas.com/read/2024/12/07/183000486/perubahan-iklim-ancam-pasokan-pangan-global
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




