Menelusuri Masalah Sanitasi di Kampung Tanah Rendah: 30 Hari Mencari Tinja

Pukul 08.00 WIB, empat perempuan menyusuri gang kecil menuju salah satu rumah dekat bantaran Sungai Ciliwung. Dikin, pemilik rumah, menyambut mereka dengan ramah dan mengizinkan pengambilan sampel air dari rumahnya. Jerigen kecil dan botol kaca dikeluarkan, diisi air dari pompa, dan diberi label.
Dikin telah tinggal di Kampung Tanah Rendah, Kampung Melayu, Jakarta Timur, sejak 1950-an. Ia mengenang perjalanan panjang mencari sumber air bersih di rumahnya. “Sudah tiga kali ganti, terakhir di tengah rumah. Kedalamannya sekitar enam meter,” kenang pria beruban itu, Kamis (22/11).
Setelah menyelesaikan pengambilan sampel di rumah Dikin, Novita Anggraini dan rekan-rekannya, Ika, Gusmiati, serta Deliana Prasetiyana, melanjutkan ke rumah Imas, yang lokasinya lebih dekat ke sungai. Air dari keran rumah Imas juga diambil sebagai sampel. Tidak jauh dari rumah itu terdapat jamban apung yang digunakan warga.
Sampel air dari kedua rumah tersebut kemudian dibawa ke laboratorium PAM Jaya di Pejompongan untuk diuji. Dari hasil uji laboratorium, meskipun air tampak jernih, ditemukan kandungan bakteri E. coli yang berasal dari tinja.
Menggali Cerita Warga dan Kondisi Sanitasi
Novita dan timnya dari PD PAL Jaya tidak hanya mengambil sampel, tetapi juga mendengarkan cerita warga. Melalui ilustrasi dan gambar, mereka menyampaikan hasil tes air tanah kepada masyarakat agar lebih mudah dipahami.
Proses pengujian ini merupakan bagian dari proyek “Ngebikin Bareng,” yang bertujuan mengidentifikasi hubungan antara perilaku masyarakat, sumber air, serta desain tangki septik. Tim juga mengumpulkan informasi sosial-ekonomi warga untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang kondisi di Kampung Tanah Rendah.
Labtek Apung dan Eksperimen Sanitasi
Proyek ini melibatkan dua kegiatan besar, yaitu Labtek Apung dan 30 Hari Mencari Tinja. Labtek Apung adalah wahana kolaborasi belajar mengenal lingkungan melalui eksperimen sosial dan sains berbasis sanitasi. Sementara itu, 30 Hari Mencari Tinja bertujuan untuk mengeksplorasi persepsi warga tentang sanitasi dan mengidentifikasi solusi pencemaran tinja.
Sri Suryani, kepala tim Ngebikin Bareng, menjelaskan bahwa mereka bekerja sama dengan warga untuk menggali ide kreatif dan desain kolaboratif. “Kita ingin menciptakan perubahan melalui eksplorasi lapangan yang terbuka untuk kritik dan perbaikan,” ujarnya.
Hasil Tes dan Harapan Perubahan
Dua titik air sumur yang diuji menunjukkan pencemaran tinja akibat tangki septik. Hasil ini dibahas dalam diskusi bersama warga melalui kegiatan Labtek Apung 3.0. Saat hasil tes menunjukkan adanya bakteri E. coli, tim berusaha menyampaikan temuan tersebut dengan hati-hati untuk meningkatkan kesadaran warga akan pentingnya sanitasi yang baik.
Kolaborasi di Urban Social Forum
Sebagai langkah lanjutan, perwakilan warga Kampung Tanah Rendah dan tim Ngebikin Bareng akan berpartisipasi dalam diskusi di Urban Social Forum (USF) di Solo, Jawa Tengah. Forum ini menjadi wadah berbagi pengalaman dan ide untuk perubahan lingkungan perkotaan.
“Kami ingin perubahan nyata, dan itu membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak. Proyek ini juga menjadi pembelajaran bagi kami sebagai peneliti dan relawan,” tutup Sri.
Sumber artikel: Media Indonesia
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




