Presentasi

Pengembangan Tenaga Kerja Hijau Indonesia dalam Konteks Transisi Energi dan Hilirisasi Sumber Daya

Judul Paparan:
“Pengembangan Tenaga Kerja Hijau Indonesia dalam Konteks Transisi Energi dan Hilirisasi Sumber Daya”

Pemapar:
Yuliot Tanjung (Wakil Menteri ESDM)

Nama Acara:
Indonesia’s Green Jobs Conference (IGJC) 2025


Kesimpulan Utama:

Paparan ini menyoroti strategi Kementerian ESDM dalam mengembangkan tenaga kerja hijau (green jobs) melalui transisi energi, hilirisasi sumber daya alam, dan peningkatan kompetensi SDM. Berikut poin-poin kuncinya:

1. Fokus Sektor ESDM

  • Transisi Energi:
    • Pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) seperti PLTS, PLTB, PLTA, dan panas bumi untuk mencapai target bauran energi terbarukan.
    • Program pensiun dini PLTU emisi tinggi dan monatorium PLTU baru (kecuali yang memenuhi syarat reduksi emisi 35%).
    • Implementasi biodiesel (B40 pada 2025, B50 pada 2026) dan transisi ke kendaraan listrik.
  • Hilirisasi SDA:
    • Peningkatan nilai tambah produk turunan nikel (ekspor naik dari USD 3,3 miliar pada 2017 menjadi USD 33,9 miliar pada 2024).
    • Pengembangan industri berbasis batubara, minyak, gas, dan mineral lainnya.

2. Potensi dan Tantangan

  • Potensi EBT: Total potensi 3.687 GW, tetapi pemanfaatan baru 14,88 GW (Desember 2024).
    • Contoh: PLTS potensi 3.294 GW, baru dimanfaatkan 0,91 GW.
  • Ketahanan Energi:
    • Ketergantungan impor minyak (1 juta barel/hari) dan LPG (6,91 juta MT/tahun).
    • Strategi: Peningkatan produksi migas, optimalisasi sumur idle, dan eksplorasi di Indonesia Timur.
  • Air Tanah: Pengelolaan cekungan air tanah (CAT) yang rawan hingga rusak di beberapa wilayah seperti Jakarta dan Bandung.

3. Kebijakan dan Program Prioritas

  • Kebijakan Biodiesel:
    • Realisasi 2024 mencapai 13,16 juta KL (116% dari target), dengan manfaat ekonomi Rp 124,28 triliun (penghematan devisa) dan penyerapan 1,64 juta tenaga kerja.
  • Circular Economy:
    • Konversi sampah menjadi energi (bioenergi, insinerasi) untuk mengurangi timbulan sampah yang tidak terkelola (40,1%).
  • Standar Bahan Bakar:
    • Penurunan kadar sulfur (Euro IV untuk RON 95 dan solar mulai 2024).

4. Pengembangan SDM Hijau

  • Pemetaan Kompetensi: Sinkronisasi kurikulum vokasi dengan kebutuhan industri EBT.
  • Pelatihan: Penyiapan lembaga pendidikan dan tenaga pengajar untuk mendukung transisi energi.
  • Target: Meningkatkan proporsi tenaga kerja hijau sejalan dengan RPJMN 2025-2029.

5. Dampak Ekonomi

  • Hilirisasi: Proyeksi investasi USD 618 miliar hingga 2040, dengan penyerapan 3 juta tenaga kerja.
  • Nilai Tambah: Contoh nikel menunjukkan peningkatan nilai ekspor hingga 11,4 kali lipat melalui hilirisasi.

Catatan Penting:

  • Peran Kunci ESDM: Koordinasi dengan kementerian/lembaga, swasta, dan mitra global untuk mencapai target energi bersih dan ketahanan energi.
  • Tantangan: Kesenjangan pemanfaatan potensi EBT, ketergantungan impor energi, dan pengelolaan sumber daya air tanah.

Kontak:
Kementerian ESDM – info@esdm.go.id.


Tindak Lanjut:

  • Percepatan implementasi proyek EBT dan hilirisasi.
  • Penguatan kolaborasi dengan dunia pendidikan untuk penyiapan SDM kompeten.
  • Monitoring kebijakan biodiesel dan standar bahan bakar ramah lingkungan.

Lampiran:

  • Data potensi EBT dan realisasi pemanfaatan.
  • Peta jalan hilirisasi mineral dan migas.

Sumber:

https://dml.or.id/wp-content/uploads/2025/05/Kementerian-ESDM_250429-Bahan-Green-Jobs_rev1.pdf

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO