Menteri Lingkungan Hidup: perubahan iklim bertransformasi jadi bencana

Perubahan Iklim Telah Berubah Menjadi Bencana Iklim
Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq mengeluarkan peringatan keras dengan menyatakan bahwa perubahan iklim telah bertransformasi menjadi bencana iklim yang dampaknya sudah sangat nyata dirasakan.
Pernyataan ini disampaikan dalam acara Peluncuran Dana Inovasi Teknologi dan Kajian Solusi Berketahanan Iklim di Gedung Bappenas, Jakarta.
Abai terhadap Adaptasi di Tengah Bencana
Menteri Hanif menyoroti ketidakseimbangan fokus dalam penanganan krisis iklim saat ini.
“Kita masih sibuk menyelesaikan aksi mitigasi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Namun, kita melupakan aksi adaptasi yang menjadi keniscayaan yang harus kita tanggung,” kata dia.
Pernyataan ini diungkapkan seiring dengan kabar duka atas bencana hidrometeorologi parah yang melanda Sumatera Utara (Sumut), Sumatera Barat (Sumbar), dan Aceh.
- Dampak Nyata: Data per Senin (1/12) pukul 17.00 WIB mencatat total 604 jiwa meninggal dunia dan 468 jiwa masih hilang akibat banjir bandang dan tanah longsor di wilayah Sumatera tersebut.
Sebagai negara tropis yang berhadapan langsung dengan dua samudra besar, Indonesia dinilai sangat rentan tertimpa bencana hidrometeorologi.
Respons Global yang Dinilai Mandek
Menteri LH menegaskan bahwa bencana iklim tidak dapat diselesaikan oleh Indonesia sendirian, melainkan memerlukan keterlibatan dan konsensus dari berbagai negara di seluruh dunia.
Namun, ia mengkritik bahwa sejumlah negara masih terlena dalam:
- Negosiasi Panjang: Terjebak dalam negosiasi yang melelahkan di Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP) tanpa menghasilkan output fundamental untuk mengatasi perubahan iklim.
- Perpecahan Negara: Negara maju dan negara berkembang saling berhadap-hadapan, sementara krisis iklim terus berlanjut tanpa henti.
Menteri Hanif mencontohkan pertemuan terbaru di COP30 di Belém, Brasil, yang belum mencapai pernyataan konsensus seluruh negara terutama karena Amerika Serikat (AS) telah keluar dari Perjanjian Paris.
“Akankah kita puas dengan ini? Jawabannya tidak. Cukuplah Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh menjadi bukti bahwa kalibrasi alam terhadap ketidaksiapan kita menghadapi krisis iklim yang tak bisa ditangani hanya oleh satu negara saja. Krisis iklim membutuhkan konsensus semua negara,” tegasnya.
sumber:
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




