Sleman ubah haluan, dua proyek sampah ratusan miliar dibatalkan demi gabung PSEL Piyungan

Perubahan Arah Strategis Sleman: Batal Bangun Insinerator Ratusan Miliar Demi Gabung PSEL Regional Piyungan
Pemerintah Kabupaten Sleman mengambil keputusan besar dan strategis, membatalkan dua proyek penanganan sampah bernilai ratusan miliar rupiah pembangunan insinerator Caturharjo dan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Moyudan. Pembatalan ini dilakukan demi mengikuti instruksi untuk berintegrasi penuh dalam skema regional Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Piyungan yang dikembangkan oleh Pemerintah Daerah DIY di Bantul.
Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menegaskan bahwa bergabungnya Sleman dengan PSEL Piyungan adalah langkah wajib dan strategis untuk memastikan penanganan sampah berjalan terpadu secara regional, bukan dengan solusi yang berjalan sendiri-sendiri.
Dua Proyek Strategis yang Dibatalkan
| Proyek yang Dibatalkan | Lokasi | Nilai Proyek / Kapasitas | Alasan Pembatalan |
| Insinerator | Kelurahan Caturharjo (Lahan TKD 6 ha) | Biaya: Rp200–225 Miliar. Klaim Kapasitas: 50 ton/jam. | Instruksi untuk menyatukan sistem ke dalam program PSEL regional. |
| TPST Moyudan | Kalurahan Sumberarum | Pagu Anggaran: Rp6,8 Miliar. | Sleman diminta fokus pada PSEL, sehingga proyek TPST keempat ini tidak dilanjutkan. |
Insinerator Caturharjo sebelumnya digadang sebagai mega proyek dengan teknologi mahal dan kapasitas besar, namun kini proyek ratusan miliar tersebut dihentikan secara resmi.
Hitungan Teknis di Balik Keputusan PSEL
Keputusan Sleman untuk bergabung dengan PSEL Piyungan didasari oleh perhitungan teknis kuota yang sangat menguntungkan:
- Total Sampah Harian Sleman: Sekitar 601 ton per hari.
- Target Olah PSEL Piyungan: Minimal 1.000 ton sampah per hari.
- Kuota untuk Sleman: Diberi kuota pembuangan sekitar 450–500 ton per hari.
Artinya, jika PSEL beroperasi penuh, hampir 83% dari total sampah harian Sleman dapat ditangani secara regional. Plt. Kepala DLH Sleman, Sugeng Riyanta, menyebutkan hal ini adalah alasan kuat pembatalan proyek, karena PSEL berpotensi membuat masalah sampah Sleman “benar-benar tuntas.”
Tantangan Masa Transisi dan Target Mandiri
Meskipun arah strategis sudah jelas, Harda Kiswaya mengakui ada “PR besar” yang harus diselesaikan selama masa tunggu hingga PSEL Piyungan siap beroperasi penuh. Saat ini, kapasitas pengolahan di TPA Piyungan masih terbatas, dan hanya mampu mengolah sekitar setengah dari sampah yang masuk.
Selama menunggu PSEL siap, DLH Sleman fokus pada strategi transisi:
- Optimalisasi TPST Eksisting: Memaksimalkan tiga TPST yang sudah beroperasi (Tamanmartani, Sendangsari, dan Donokerto).
- Peningkatan Mandiri di Sumber: Mendorong optimalisasi TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) dan depo transfer.
- Target KPSM: Menetapkan target ambisius, yaitu pada tahun 2029 setiap padukuhan harus memiliki Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) untuk meningkatkan pengurangan sampah langsung dari sumbernya. Sugeng Riyanta menegaskan bahwa mengandalkan TPST saja tidak akan cukup, sehingga pengolahan mandiri harus ditingkatkan.
Dengan perubahan haluan ini, Sleman telah mengalihkan fokus dari pembangunan sarana pengolahan milik sendiri yang mahal menjadi kolaborasi regional yang diharapkan dapat menawarkan solusi masalah sampah yang lebih tuntas dan berkelanjutan.
sumber:
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.



