Kala generasi muda mendata nafas liar Tebet Eco Park

Mengaudit Nadi Ekosistem: Citizen Science di Tebet Eco Park
Pada Sabtu, 20 Desember 2025, sebanyak 70 siswa SMA dari wilayah Jabodetabek melakukan pendataan biodiversitas melalui program “Belantara Biodiversity Class”. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Belantara Foundation, Gaia Indonesia, serta akademisi dari Universitas Pakuan untuk memantau kesehatan ekosistem urban di Tebet Eco Park (TEP), Jakarta Selatan.
1. Profil Lokasi: Tebet Eco Park sebagai Laboratorium Hidup
Tebet Eco Park merupakan kawasan seluas 7,3 hektar yang telah direvitalisasi sejak April 2022. Taman ini berfungsi sebagai kawasan integrasi ekologi, yang menghubungkan area hijau dengan sistem pengendalian banjir (kolam retensi) dan ruang publik.
Berdasarkan Rencana Induk Pengelolaan Keanekaragaman Hayati DKI Jakarta 2025-2029, TEP diproyeksikan menjadi habitat bagi:
- Aves (Burung): 25 spesies.
- Amfibi: 2 spesies.
- Reptil: 3 spesies.
2. Hasil Inventarisasi Lapangan (Desember 2025)
Selama tiga jam pengamatan intensif (pukul 07.00 – 10.00 WIB), para peserta berhasil mencatat temuan signifikan yang melampaui data dasar pada beberapa kategori:
| Kategori | Spesies Teridentifikasi | Status Konservasi Penting |
| Burung | 20 Jenis | Betet Biasa (Psittacula alexandri): Dilindungi (P.106/2018) & Near Threatened (IUCN). |
| Reptil | 8 Jenis | Kerak Kerbau (Acridotheres javanicus): Status Vulnerable (Rentan). |
| Amfibi | 1 Jenis | Penanda kelembapan dan kualitas air di area kolam retensi. |
3. Signifikansi Ekologis: Mengapa Pendataan Ini Penting?
Keberadaan fauna di tengah kota bukan sekadar hiasan, melainkan indikator fungsi ekosistem yang berjalan:
- Bioindikator: Amfibi dan reptil sangat sensitif terhadap polutan. Keberadaan mereka menunjukkan kualitas air dan udara yang relatif terjaga.
- Pengendali Hama Alami: Reptil dan amfibi mengontrol populasi serangga dan tikus di area perkotaan secara biologis.
- Agen Regenerasi: Burung berfungsi sebagai penyebar biji (seed dispersal), membantu persebaran vegetasi secara alami di seluruh penjuru taman.
4. Tantangan Konservasi Urban
Dr. Dolly Priatna (Direktur Eksekutif Belantara Foundation) menekankan bahwa data ini adalah instrumen Monitoring dan Evaluasi (Monev). Meskipun angka keanekaragaman hayati di TEP menunjukkan tren positif, habitat ini tetap menghadapi ancaman konstan berupa:
- Fragmentasi Habitat: Tekanan dari pembangunan infrastruktur di sekitar taman.
- Pencemaran: Dampak polusi udara dan limbah domestik perkotaan.
- Krisis Iklim: Perubahan pola hujan yang mempengaruhi siklus reproduksi satwa.
5. Kesimpulan: Peran Generasi Muda
Melalui pendekatan Citizen Science (Sains Warga), kegiatan ini mengubah perspektif generasi muda dari sekadar pengunjung menjadi penjaga ekosistem. Keterlibatan aktif dalam pendataan ilmiah memberikan basis data yang kuat bagi pemerintah daerah untuk mengambil keputusan terkait pembangunan yang berkelanjutan di Jakarta.
sumber:
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




