Dari Tebu ke Energi Hijau, Memperkuat Ekonomi Lokal

Tahun 2025 menjadi titik balik bagi PT Energi Agro Nusantara (Enero). Setelah lebih dari satu dekade berdiri sejak 2013, perusahaan produsen bioetanol ini menemukan momentum strategis ketika pemerintah mengumumkan kebijakan pencampuran bahan bakar nabati ke dalam BBM nasional melalui PT Pertamina.
Alih-alih ragu, PT Enero justru menyambut kebijakan tersebut dengan antusias. Perusahaan langsung melakukan langkah percepatan, termasuk memurnikan kandungan etanol hingga 99,9 persen, agar siap memenuhi standar blending bioetanol nasional.
Komitmen PTPN Group Dukung Asta Cita Presiden
Direktur Utama PTPN I Teddy Yunirman Danas menegaskan bahwa pengembangan bioetanol di PT Enero merupakan bentuk nyata dukungan PTPN Group terhadap visi Presiden Prabowo Subianto, khususnya pada agenda swasembada energi dan ekonomi kerakyatan.
“PTPN I melalui PT Enero berada di garis depan dalam mewujudkan ketahanan dan swasembada energi nasional. Transisi ke bioetanol bukan sekadar langkah teknis, tetapi ikhtiar kolektif untuk mengurangi ketergantungan impor energi fosil,” tegas Teddy.
Ia menambahkan, setiap liter energi hijau yang diproduksi Enero bukan hanya kontribusi bagi kedaulatan energi nasional, tetapi juga kesejahteraan petani tebu di hulu industri bioenergi.
Blending Bioetanol 10%: Lompatan ke Masa Depan
Direktur PT Enero Puji Setiyawan menyebut kebijakan pemerintah mewajibkan kandungan bioetanol 10 persen dalam bensin sebagai langkah strategis menuju masa depan energi berkelanjutan.
Selain mengurangi ketergantungan pada BBM fosil, kebijakan ini juga diproyeksikan berdampak luas pada ekonomi masyarakat.
“Ini adalah lompatan menuju bangsa yang mandiri energi. Kami terus berbenah di semua lini untuk memenuhi standar kualitas. Ini juga masa depan bagi kemaslahatan masyarakat sekitar perusahaan,” ujarnya.
Dari Limbah Tebu Menjadi Energi dan Pupuk
Sejak awal, pabrik bioetanol PT Enero dirancang untuk mengolah molases (tetes tebu) dari Pabrik Gula Gempolkrep, unit PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) di bawah PTPN Group.
Keberadaan pabrik di kawasan tersebut memberikan dampak sosial signifikan. Sebanyak 95 persen tenaga kerja PT Enero berasal dari masyarakat sekitar, dengan posisi dan jenjang karier sesuai kompetensi.
SEVP Business Support PT Enero Faisal Fahlevi menyebut keterlibatan warga lokal sebagai fondasi harmoni perusahaan dengan komunitas.
“Pertumbuhan bisnis harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat lokal,” katanya.
Circular Economy: Limbah Jadi Solusi Pertanian
Menariknya, meski mengolah “limbah” pabrik gula, PT Enero masih menghasilkan produk turunan bernilai tambah. Salah satunya adalah Pupuk Hayati Enero (PHE), pupuk organik cair berbasis vinasse hasil pengolahan bioetanol.
Menurut Reza Fahlevi, produk ini mampu mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia hingga 40 persen jika digunakan secara rutin selama tiga tahun.
PHE berfungsi memperbaiki struktur tanah dan memulihkan lahan pertanian yang jenuh akibat penggunaan bahan kimia berlebihan—sekaligus memperkuat konsep ekonomi sirkular di sektor energi dan pertanian.
Energi Hijau, Masyarakat Sejahtera
PT Enero menegaskan ambisinya tidak hanya menjadi produsen bioetanol, tetapi juga katalisator ekosistem energi terbarukan yang inklusif dan berkelanjutan.
“Kehadiran Enero harus menjadi manfaat nyata bagi banyak pihak—petani, masyarakat lokal, hingga negara. Kami ingin membuktikan industri energi bisa maju sekaligus menjaga kelestarian Bumi Pertiwi,” tutup Reza.
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




