Tahukah Anda

Saat hutan dirusak, diam berarti setuju

Mengapa Kita Lebih Marah pada Sampah Pendaki daripada Alat Berat?

Sering kali, diskursus mengenai pelestarian hutan terjebak pada narasi yang timpang. Publik cenderung lebih mudah meledak kemarahannya melihat sampah plastik di puncak gunung daripada melihat izin alih fungsi lahan jutaan hektare di kaki gunung.

Untuk memahami mengapa fenomena ini terjadi, kita perlu membedah realitas kerusakan hutan melalui dua sudut pandang:

1. Mikrosm: Masalah Etika Individu (Pendaki)

Pendaki sering kali menjadi “wajah” dari perusakan alam karena jejak mereka kasat mata dan mudah difoto.

  • Permasalahan: Sampah domestik, vandalisme, dan pembukaan jalur ilegal.
  • Stigma: Pendaki dianggap sebagai “musuh publik” karena melanggar etika lingkungan yang bersifat personal.
  • Dampak: Kerusakan bersifat lokal dan cenderung bisa dipulihkan (rehabilitasi) dalam jangka pendek.

2. Makrosm: Masalah Struktural (Alih Fungsi Lahan)

Di sisi lain, kerusakan yang jauh lebih masif sering kali terbungkus rapi dalam dokumen legal.

  • Permasalahan: Alih fungsi hutan lindung menjadi kawasan pertambangan, perkebunan monokultur, atau proyek strategis nasional.
  • Normalisasi: Jejak alat berat dan hilangnya tutupan hutan jutaan hektare sering kali dinormalisasi atas nama “Pembangunan” atau “Pertumbuhan Ekonomi”.
  • Dampak: Kerusakan bersifat sistemik, menghilangkan fungsi hidrologis secara permanen, dan memicu bencana ekologis skala besar (banjir dan longsor).

Analisis Ketimpangan: Mengapa Kita Diam?

AspekKerusakan oleh PendakiKerusakan oleh Korporasi/Izin
LegalitasIlegal (Pelanggaran Etika)Legal (Stempel & Izin Resmi)
Skala LuasMeter PersegiJutaan Hektare
Penerimaan PublikKemarahan Massal (Viral)Penerimaan/Apatis (Pembangunan)
Dampak EkologisGangguan Ekosistem LokalKepunahan Habitat & Krisis Iklim

Keberanian Bersuara sebagai Bentuk Konservasi

Menegur pendaki yang membuang sampah adalah kewajiban, namun berhenti di sana adalah sebuah pengalihan isu. Jika energi kepedulian kita hanya habis untuk mengkritik “ransel” tetapi bungkam terhadap “stempel” yang melegalkan deforestasi, maka kita secara tidak sadar membiarkan kerusakan yang lebih besar terjadi.

Diam terhadap kebijakan yang merusak lingkungan bukanlah posisi netral. Dalam ekopolitik, diam berarti memberikan persetujuan implisit terhadap hilangnya masa depan alam kita. Jaga gunung dari sampah, tapi jaga juga hutan dari kebijakan yang eksploitatif. Keberanian untuk mempertanyakan izin yang merusak adalah kasta tertinggi dari kepedulian terhadap alam.

sumber:

https://www.instagram.com/p/DUfpgKNkpnw/?img_index=7&igsh=MXhuN2JrNThtbG5hZA%3D%3D

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO