Sawit di Papua, logika kolonial berkedok energi

Sawit di Tanah Papua: Menggugat Logika Kolonial dalam Narasi Energi
Kebijakan perluasan perkebunan sawit di Papua sering kali dibungkus dengan narasi megah: Kemandirian Energi dan Kesejahteraan Nasional. Namun, jika dibedah dengan lensa dekolonial, kita akan menemukan pola lama yang terus berulang sebuah logika yang menempatkan Papua sebagai komoditas, bukan sebagai subjek kedaulatan.
1. Pembangunan Sebagai Kedok Ekspansi
Dalam perspektif dekolonisasi, kebijakan pembangunan sering kali membawa “beban peradaban” (civilizing mission). Pemerintah pusat datang membawa janji kemajuan, namun di saat yang sama mengambil alih ruang hidup masyarakat adat.
- Papua sebagai Objek: Kebijakan diputuskan di ruang-ruang rapat Jakarta tanpa keterlibatan substantif pemilik tanah.
- Standarisasi Kesejahteraan: Logika kolonial memaksakan definisi “sejahtera” melalui kerja upahan di perkebunan, sambil mengabaikan kedaulatan pangan tradisional (seperti hutan sagu).
2. Logika Ekstraktif: Energi untuk Siapa?
Transformasi hutan Papua menjadi hamparan sawit demi biofuel sering kali dipasarkan sebagai “energi hijau”. Namun, ada paradoks besar di sini:
- Ekosistem yang Dikorbankan: Pengalihan fungsi lahan skala besar menghancurkan biodiversitas unik Papua yang tidak bisa digantikan oleh monokultur sawit.
- Sentralisasi Keuntungan: Sumber daya alam diekstraksi dari tanah Papua, namun nilai tambahnya lebih banyak mengalir ke perusahaan besar dan konsumsi energi di luar Papua.
3. Pola Warisan Kolonial yang Menetap
Pola ini mencerminkan karakteristik kolonialisme klasik di mana wilayah pinggiran (periferi) ditata secara paksa oleh pusat kekuasaan.
- Perampasan Ruang: Tanah adat yang dianggap “tanah kosong” atau “tidak produktif” adalah justifikasi kolonial untuk pemberian konsesi.
- Pemisahan Manusia dan Alam: Logika ini memandang hutan hanya sebagai modal ekonomi, bukan sebagai identitas budaya dan spiritual bagi masyarakat adat Papua.
Menuju Pembangunan Dekolonial
Membangun Papua dengan lensa dekolonisasi berarti mengembalikan hak menentukan nasib sendiri. Ini bukan tentang menolak kemajuan, melainkan menanyakan: Pembangunan seperti apa yang diinginkan oleh orang Papua?
Pembangunan yang sejati seharusnya memperkuat keterikatan masyarakat dengan tanahnya, bukan justru memutus nadi kehidupan mereka demi ambisi energi global.
sumber:
https://www.instagram.com/p/DSpMOhjk-mn
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




