DLH Kota Mataram Kebut Penanganan Sampah TPS Bintaro, Targetkan Kondisi Kembali Normal Secepatnya

Pemerintah Kota Mataram melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus mengintensifkan upaya penanganan sampah yang menumpuk di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Bintaro. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari strategi percepatan normalisasi pengelolaan sampah, setelah sebelumnya terjadi lonjakan volume akibat pembatasan ritase di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok.
Kepala DLH Kota Mataram, Nizar Denny Cahyadi, menegaskan bahwa pihaknya saat ini tengah bekerja secara maraton untuk mengatasi persoalan tersebut. Salah satu fokus utama adalah mempercepat pembersihan TPS Bintaro yang sempat menjadi titik krusial penumpukan sampah di wilayah kota.
Menurut Nizar, TPS Bintaro sebelumnya dimanfaatkan sebagai lokasi penampungan sementara sejak TPA Kebon Kongok di Kabupaten Lombok Barat memberlakukan kebijakan pengurangan ritase buang sampah. Kebijakan tersebut mulai diterapkan pada Desember 2025 sebagai bagian dari penataan sistem landfill, yang mengharuskan pengurangan frekuensi pengangkutan dari empat ritase menjadi satu ritase per hari.
Kondisi ini memaksa Pemerintah Kota Mataram untuk mencari solusi cepat dengan menyediakan lokasi alternatif penampungan sampah. Selain TPS Sandubaya, TPS Bintaro akhirnya dipilih meskipun menuai berbagai kritik dari masyarakat. Pasalnya, lokasi TPS ini berada di jalur utama menuju kawasan wisata internasional Senggigi, yang dinilai berpotensi mengganggu estetika dan kenyamanan wisatawan.
“Kami memahami adanya kritik dari masyarakat, namun pada saat itu kami tidak memiliki pilihan lain karena keterbatasan lahan,” ujar Nizar.
Seiring dengan normalnya kembali operasional TPA Kebon Kongok sejak awal Maret 2026, DLH Kota Mataram langsung meningkatkan intensitas pengangkutan sampah dari TPS Bintaro. Saat ini, ritase pengangkutan telah ditingkatkan secara signifikan hingga mencapai empat kali dalam sehari.
Dengan kapasitas satu truk pengangkut berkisar antara 2 hingga 3 ton, DLH mampu mengangkut sekitar 120 ton sampah setiap harinya dari TPS tersebut. Upaya ini terbukti efektif dalam mengurangi volume sampah yang sebelumnya menumpuk dalam jumlah besar.
“Progres pembersihan TPS Bintaro saat ini sudah melampaui 50 persen. Kami optimistis sisa sampah sekitar 1.000 ton dapat segera dituntaskan dalam waktu dekat,” jelasnya.
Tidak hanya fokus pada TPS Bintaro, DLH juga terus mengoptimalkan pengurangan volume sampah di TPS Sandubaya dengan memanfaatkan teknologi insinerator. Saat ini, dua unit mesin insinerator yang telah memenuhi standar baku mutu lingkungan digunakan secara maksimal untuk mengolah sampah.
Menariknya, salah satu unit insinerator merupakan bantuan dari Korea yang telah beroperasi dengan baik. Sementara itu, satu unit lainnya masih belum digunakan karena dinilai belum memenuhi standar emisi, khususnya terkait ketebalan asap yang dihasilkan.
Setiap unit insinerator memiliki kapasitas pengolahan hingga 10 ton sampah per hari dengan dua kali proses pembakaran. Dengan demikian, total reduksi sampah yang dapat dicapai mencapai sekitar 20 ton per hari, yang sangat membantu dalam mengurangi beban penumpukan sampah di TPS.
DLH Kota Mataram berharap berbagai langkah yang telah dan sedang dilakukan ini dapat menjadi solusi jangka pendek sekaligus pijakan untuk pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan di masa depan. Sinergi antara peningkatan ritase pengangkutan dan pemanfaatan teknologi pengolahan sampah diharapkan mampu mengatasi persoalan klasik yang kerap terjadi di kawasan perkotaan.
Dengan upaya yang terus digenjot, Pemerintah Kota Mataram optimistis kondisi TPS Bintaro akan segera kembali normal, sekaligus menjaga citra kota sebagai destinasi yang bersih dan ramah lingkungan, khususnya bagi wisatawan yang menuju kawasan Senggigi.
https://www.antaranews.com/berita/5489026/dlh-mataram-optimalkan-penanganan-sampah-di-tps-bintaro
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




