TNGC Jadi “Tower Air” Jawa Barat, Kemenhut Perkuat Perlindungan Hutan dan Sumber Mata Air

Kementerian Kehutanan menegaskan komitmennya menjaga kelestarian hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai demi mempertahankan fungsinya sebagai “Tower Air” bagi empat kabupaten di Jawa Barat.
Kepala Balai TNGC, Toni Anwar, mengatakan kawasan konservasi seluas 14.841,3 hektare tersebut memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan air bersih bagi masyarakat di Kabupaten Kuningan, Majalengka, Cirebon, dan Indramayu.
“Taman Nasional Gunung Ciremai dikenal sebagai Tower Air di Jawa Barat. Terdapat 97 titik mata air yang tidak pernah surut dan kualitas airnya sangat murni hingga layak diminum langsung dari sumbernya. Jika kondisi hutan rusak, masyarakat sekitar akan menjadi pihak pertama yang merasakan dampak krisis air,” ujar Toni dalam forum “Sinergi Perempuan Indonesia untuk Indonesia FOLU Net Sink 2030” di Kuningan, Selasa.
Ia menjelaskan, upaya rehabilitasi hutan yang dilakukan secara konsisten berhasil meningkatkan tutupan vegetasi di kawasan TNGC hingga hampir 90 persen. Kondisi tersebut meningkat signifikan dibandingkan sebelum tahun 2004, ketika sebagian kawasan sempat terbuka akibat alih fungsi menjadi lahan pertanian sayuran.
Selain berfungsi sebagai penyangga hidrologis, TNGC juga menjadi habitat penting bagi sejumlah satwa prioritas seperti Elang Jawa, Macan Tutul, dan Surili. Kehadiran satwa-satwa tersebut dinilai menjadi indikator bahwa ekosistem hutan di gunung tertinggi di Jawa Barat masih terjaga dengan baik.
“Munculnya Macan Tutul di kamera pemantau atau perjumpaan dengan Surili menunjukkan habitat di sini masih sehat. Kami menyebut mereka akamsi atau anak kampung sini, penghuni asli yang wajib dilindungi bersama habitatnya,” kata Toni.
Menurutnya, pengelolaan taman nasional saat ini mengedepankan partisipasi masyarakat. Warga desa penyangga dilibatkan sebagai garda terdepan dalam menjaga kelestarian hutan karena mereka merasakan langsung manfaat ekonomi dari sektor wisata alam.
Saat ini TNGC mengelola 30 titik Objek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) yang melibatkan masyarakat dari 54 desa penyangga, termasuk Desa Cisantana di Kecamatan Cigugur. Warga yang sebelumnya menggarap lahan di kawasan taman nasional kini beralih profesi menjadi pengelola wisata sebagai bagian dari program pemberdayaan masyarakat berbasis konservasi.
Forum “Sinergi Perempuan Indonesia untuk Indonesia’s FOLU Net Sink 2030” sendiri berlangsung pada 11–13 Mei 2026 dan diikuti perwakilan kementerian/lembaga, organisasi konservasi, serta pewarta nasional untuk memperkuat kolaborasi dalam mendukung target FOLU Net Sink 2030.
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




