Pemerintah kejar kemandirian energi dari EBT hadapi situasi geopolitik

Pemerintah Indonesia terus memperkuat langkah menuju kemandirian energi nasional sebagai respons terhadap dinamika geopolitik global yang semakin tidak menentu. Pengembangan energi terbarukan menjadi salah satu strategi utama untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan energi dari luar negeri sekaligus menjaga ketahanan energi nasional.
Hal tersebut disampaikan Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, saat menghadiri kegiatan di Samarinda, Senin.
Menurut Hashim, konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat telah memberikan tekanan besar terhadap rantai pasok energi dunia. Situasi semakin kompleks ketika jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz menghadapi ancaman gangguan yang dapat memengaruhi distribusi minyak global.
“Ketidakpastian geopolitik saat ini berdampak langsung pada keamanan pasokan energi, termasuk bagi Indonesia yang masih membutuhkan impor minyak mentah dan berbagai produk turunannya,” ujarnya.
Pasokan Energi Nasional Tetap Terjaga
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah berupaya memastikan ketersediaan energi bagi masyarakat dan dunia usaha. Salah satu langkah yang ditempuh adalah mengamankan pasokan minyak dari luar negeri melalui kerja sama strategis dengan Rusia.
Hashim mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah memperoleh komitmen pasokan minyak dari Presiden Rusia, Vladimir Putin. Kesepakatan tersebut mencakup pengiriman sekitar 150 juta barel minyak untuk Indonesia pada tahun ini.
Menurutnya, kerja sama tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan energi nasional dan membantu menjaga stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.
Pemerintah juga memastikan bahwa upaya menjaga stabilitas harga energi tidak akan mengorbankan masyarakat berpenghasilan rendah melalui penghapusan subsidi energi.
Ancaman Geopolitik Jadi Pengingat Pentingnya Kemandirian Energi
Meski pasokan energi saat ini relatif aman, pemerintah menilai Indonesia tidak boleh lengah. Potensi meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah dapat kembali mengganggu jalur distribusi energi dunia sewaktu-waktu.
Hashim menegaskan bahwa ketergantungan terhadap energi impor membuat Indonesia rentan terhadap gejolak global. Karena itu, percepatan transisi menuju sumber energi domestik menjadi kebutuhan yang semakin mendesak.
“Indonesia harus mampu memenuhi kebutuhan energinya sendiri agar tidak terlalu bergantung pada kondisi geopolitik internasional,” katanya.
Energi Terbarukan Jadi Pilar Masa Depan
Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, pemerintah terus mendorong pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT). Salah satu proyek yang menjadi perhatian adalah pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di kawasan Batoq Kelo dengan kapasitas mencapai 300 megawatt.
Pemanfaatan sumber daya alam domestik dinilai mampu menjadi solusi berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan energi nasional yang terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk.
Selain memperkuat ketahanan energi, pengembangan energi terbarukan juga mendukung komitmen Indonesia dalam menekan emisi gas rumah kaca.
Komitmen Menuju Emisi Nol Bersih
Pemerintah menegaskan bahwa agenda kemandirian energi berjalan seiring dengan target pembangunan berkelanjutan. Presiden Prabowo telah menyampaikan komitmen Indonesia untuk mencapai target emisi nol bersih (Net Zero Emission/NZE) dalam forum internasional.
Indonesia menargetkan pencapaian emisi nol bersih pada tahun 2060, bahkan terbuka kemungkinan untuk mencapainya lebih cepat apabila dukungan teknologi, investasi, dan kebijakan berjalan optimal.
Dengan memperkuat energi terbarukan sekaligus mengamankan pasokan energi nasional, Indonesia berupaya membangun sistem energi yang lebih mandiri, tangguh, dan berkelanjutan di tengah ketidakpastian global yang terus berkembang.
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




