PTPN I Mulai Kembangkan Sorgum di Lampung, Siapkan Bahan Baku Bioetanol Nasional

PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) mulai mengembangkan tanaman sorgum sebagai bahan baku alternatif bioetanol melalui proyek percontohan seluas 20 hektare di Provinsi Lampung. Langkah ini merupakan bagian dari penugasan pemerintah kepada PTPN I untuk mendukung program hilirisasi dan transisi energi menuju pemanfaatan sumber energi terbarukan.
Sekretaris Perusahaan PTPN I, Aris Handoyo, mengatakan bahwa pengembangan tahap awal dilakukan dalam skala terbatas karena perusahaan masih mempelajari karakteristik dan teknik budidaya tanaman sorgum.
“Saat ini kami mulai dengan lahan seluas 20 hektare di Lampung. Kami ingin mempelajari terlebih dahulu bagaimana pola budidayanya karena PTPN I belum pernah menanam sorgum sebelumnya,” ujar Aris dalam diskusi bersama media di Jakarta.
Selain sorgum, PTPN I juga mendapat mandat untuk mengembangkan tanaman singkong sebagai sumber bahan baku alternatif yang dapat dimanfaatkan dalam industri bioetanol nasional.
Lampung Jadi Lokasi Percontohan
Lampung dipilih sebagai lokasi awal pengembangan karena memiliki potensi lahan yang sesuai serta dinilai strategis untuk mendukung pembangunan rantai pasok bioetanol di masa depan.
Melalui proyek percontohan ini, PTPN I akan melakukan kajian menyeluruh terhadap berbagai aspek teknis, mulai dari pemilihan varietas unggul, metode budidaya, tingkat produktivitas, pola pemeliharaan tanaman, hingga sistem pascapanen yang efektif.
Hasil evaluasi dari tahap awal tersebut akan menjadi dasar bagi perusahaan untuk menentukan langkah pengembangan selanjutnya.
“Kami perlu memastikan bahwa komoditas ini dapat dikembangkan secara efisien, produktif, dan berkelanjutan sebelum diperluas ke skala yang lebih besar,” jelas Aris.
Perluas Sumber Bahan Baku Bioetanol
Menurut PTPN I, pengembangan sorgum dan singkong menjadi langkah strategis untuk memperluas sumber bahan baku bioetanol nasional. Selama ini, produksi bioetanol masih didominasi oleh tebu sehingga diperlukan alternatif bahan baku guna meningkatkan kapasitas produksi energi terbarukan.
Ke depan, bioetanol diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai campuran bahan bakar bensin dalam program energi baru dan terbarukan yang tengah didorong pemerintah. Dalam ekosistem industri tersebut, PTPN I akan berperan sebagai pemasok bahan baku, sementara proses pengolahan bioetanol dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri.
Perusahaan juga menegaskan bahwa pengembangan komoditas akan disesuaikan dengan kebutuhan industri agar hasil panen memenuhi standar kualitas dan spesifikasi pasar.
Target Jangka Panjang Capai 24.000 Hektare
Jika hasil uji coba menunjukkan prospek yang baik, PTPN I akan mempertimbangkan perluasan area tanam secara bertahap sesuai kebutuhan program nasional.
Pemerintah menargetkan pengembangan lahan sorgum dapat mencapai sekitar 24.000 hektare dalam jangka panjang sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional.
“Target pengembangannya bisa mencapai 24.000 hektare. Karena itu, PTPN perlu membangun pengalaman dan penguasaan teknologi terlebih dahulu sebelum melakukan ekspansi besar-besaran,” kata Aris.
Saat ini, perusahaan fokus mempersiapkan sumber daya manusia, teknologi budidaya, serta sistem operasional yang mendukung pengembangan sorgum secara berkelanjutan. Dengan kesiapan tersebut, PTPN I optimistis dapat mempercepat pengembangan komoditas energi baru ini sesuai target pemerintah.
Pengembangan sorgum dan singkong sebagai bahan baku bioetanol diharapkan tidak hanya mendukung program transisi energi nasional, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi sektor pertanian serta mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil.
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




