Berita

Kemenhut Fokus Pulihkan Hulu Sungai untuk Cegah Banjir dan Longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar

Pemerintah melalui Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memprioritaskan rehabilitasi bentang alam di kawasan hulu sungai sebagai langkah strategis untuk mengurangi risiko banjir bandang dan tanah longsor yang kerap melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena menyasar akar penyebab bencana, bukan sekadar memperbaiki dampak yang terjadi di wilayah hilir.

Direktur Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) Kementerian Kehutanan, Dyah Murtiningsih, menegaskan bahwa pemulihan ekosistem di bagian hulu sungai merupakan kunci untuk meningkatkan daya dukung lingkungan sekaligus mencegah terulangnya bencana hidrometeorologi di masa mendatang.

“Kita perbaiki tidak hanya wilayah yang terdampak, tetapi justru kawasan hulunya yang menjadi penyebab terjadinya bencana. Fokusnya adalah melakukan rehabilitasi pada area-area yang memicu bencana hidrometeorologi,” ujar Dyah usai menghadiri Peringatan Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia di Jakarta.

Rehabilitasi Hulu Sungai Jadi Solusi Jangka Panjang

Menurut Dyah, strategi rehabilitasi ini merupakan respons komprehensif atas rangkaian banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di berbagai daerah dalam beberapa waktu terakhir.

Program tersebut akan difokuskan pada kawasan-kawasan kritis, baik yang berada di dalam kawasan hutan maupun pada area penggunaan lain di luar kawasan hutan. Dengan memperbaiki tutupan vegetasi di wilayah hulu, aliran air hujan diharapkan dapat lebih terkendali sehingga mengurangi risiko erosi, sedimentasi, dan banjir di wilayah hilir.

Kolaborasi dengan Pemerintah Daerah Percepat Pemulihan

Untuk mempercepat proses rehabilitasi di luar kawasan hutan, Kementerian Kehutanan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah. Kolaborasi tersebut dilakukan melalui sinkronisasi data pemetaan lahan kritis serta identifikasi wilayah yang terdampak bencana.

Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah aliran Sungai Aek Godang di Sibolga, Sumatera Utara, serta sejumlah sungai di kawasan Hutanabolon, Tapanuli Tengah, seperti Aek Sommanggita, Aek Godang, Aek Hopong Na Dao, dan Aek Paru.

Wilayah tersebut mengalami kerusakan cukup parah setelah banjir bandang dan tanah longsor pada November 2025. Material longsoran menyebabkan pendangkalan sungai, bahkan menutup sebagian aliran sungai sehingga meningkatkan risiko banjir apabila tidak segera dipulihkan.

Pemerintah Ajukan Tambahan Anggaran Rp600 Miliar

Untuk mendukung percepatan rehabilitasi, Kementerian Kehutanan mengusulkan Anggaran Biaya Tambahan (ABT) sebesar Rp600 miliar dalam APBN tahun berjalan.

Dana tersebut tidak hanya digunakan untuk kegiatan penanaman pohon, tetapi juga dialokasikan bagi berbagai program pendukung yang memperkuat tata kelola kehutanan secara menyeluruh.

Beberapa program prioritas yang akan didukung melalui tambahan anggaran tersebut meliputi:

  • Rehabilitasi kawasan hulu sungai dan lahan kritis.
  • Penanaman pohon pada daerah rawan longsor dan banjir.
  • Perbaikan tata kelola kehutanan terpadu.
  • Penguatan program perhutanan sosial.
  • Peningkatan penegakan hukum terhadap aktivitas perusakan hutan.

“Anggaran tambahan tersebut tidak hanya dialokasikan untuk penanaman pohon, tetapi juga mendukung perbaikan tata kelola kehutanan terpadu, keberlanjutan program perhutanan sosial, penegakan hukum, dan rehabilitasi kawasan yang mengalami kerusakan,” jelas Dyah.

Penegakan Hukum Diperkuat untuk Lindungi Kawasan Hulu

Selain rehabilitasi fisik, Kementerian Kehutanan juga menempatkan penegakan hukum sebagai bagian penting dalam strategi pencegahan bencana. Aktivitas pembalakan liar, pembukaan lahan yang tidak sesuai aturan, dan berbagai bentuk perusakan hutan dinilai menjadi faktor utama menurunnya fungsi kawasan hulu sebagai penyangga ekosistem.

Melalui pengawasan yang lebih ketat dan penindakan terhadap pelanggaran, pemerintah berharap kualitas lingkungan di kawasan hulu dapat dipertahankan sehingga risiko bencana hidrometeorologi semakin berkurang.

Pemulihan Ekosistem untuk Ketahanan Lingkungan

Kementerian Kehutanan optimistis bahwa integrasi antara rehabilitasi bentang alam, perbaikan tata kelola kehutanan, serta penegakan hukum akan memberikan dampak signifikan dalam mengurangi ancaman banjir dan tanah longsor di masa depan.

Pendekatan yang berfokus pada pemulihan kawasan hulu tidak hanya berfungsi sebagai langkah mitigasi bencana, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang dalam menjaga keberlanjutan daerah aliran sungai, meningkatkan kualitas lingkungan, serta memperkuat ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim.

https://www.antaranews.com/berita/5630253/kemenhut-prioritaskan-rehabilitasi-hulu-sungai-di-aceh-sumut-sumbar

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO