12,3 Juta Hektare Lahan Kritis Ancam Indonesia, Kemenhut Percepat Rehabilitasi dan Siaga Hadapi El Nino 2026

Pemerintah melalui Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat langkah rehabilitasi lahan kritis sebagai upaya menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mengantisipasi dampak kekeringan yang diperkirakan meningkat akibat fenomena El Nino 2026. Berdasarkan data terbaru, Indonesia masih memiliki sekitar 12,3 juta hektare lahan kritis yang membutuhkan penanganan serius agar fungsi ekologisnya dapat kembali pulih.
Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki menyampaikan bahwa kondisi tersebut menjadi peringatan bagi seluruh pihak untuk mempercepat upaya pemulihan ekosistem melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, hingga masyarakat.
“Data lahan kritis di Indonesia sejak 2024 menunjukkan terdapat sekitar 12,3 juta hektare lahan kritis, terdiri atas 6,6 juta hektare di dalam kawasan hutan dan 5,7 juta hektare di luar kawasan hutan,” ujarnya dalam acara Peringatan Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan di Jakarta.
Menurut Rohmat, luasnya lahan kritis tersebut menjadi tantangan besar yang harus segera diatasi demi menjaga daya dukung lingkungan serta mengurangi risiko bencana ekologis di masa mendatang.
Rehabilitasi DAS dan Perlindungan Tutupan Hutan Jadi Prioritas
Kementerian Kehutanan telah menetapkan sejumlah langkah strategis untuk mempercepat pemulihan lahan, di antaranya melalui optimalisasi pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS), menjaga persentase tutupan hutan, serta mendorong pemanfaatan sumber daya alam yang lebih berkelanjutan.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus memperkuat ketahanan ekosistem terhadap perubahan iklim yang semakin ekstrem.
El Nino 2026 Diprediksi Memperparah Risiko Kekeringan
Selain fokus pada rehabilitasi lahan, Kemenhut juga mengingatkan seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi fenomena El Nino 2026 yang diperkirakan berlangsung lebih cepat dan berdurasi lebih panjang dibandingkan biasanya.
Peringatan tersebut didasarkan pada meningkatnya kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang Januari hingga Mei 2026. Selama periode tersebut, sekitar 81.000 hektare lahan dilaporkan telah terbakar di berbagai wilayah Indonesia.
“Jika dibandingkan dengan periode yang sama dalam lima tahun terakhir, luas kebakaran tahun ini lebih besar. Ini membuktikan bahwa kita harus semakin mewaspadai El Nino,” kata Rohmat.
BMKG Prediksi Curah Hujan Turun Drastis
Kekhawatiran pemerintah juga diperkuat oleh analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memproyeksikan peluang El Nino kategori kuat mencapai 62 persen, sementara peluang kategori moderat mencapai 98 persen mulai pertengahan tahun ini.
Dampaknya, sebanyak 482 zona musim atau sekitar 56,18 persen wilayah daratan Indonesia diperkirakan mengalami curah hujan di bawah normal. Sementara itu, musim kemarau diprediksi berlangsung lebih panjang pada 437 zona musim, dengan puncak kekeringan diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 yang akan memengaruhi sekitar 369 zona musim.
Memasuki Juli, musim kemarau diperkirakan meluas ke 66 zona musim, meliputi wilayah barat Jambi, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan bagian timur, sebagian besar Sulawesi, hingga Maluku Utara.
Strategi Jangka Panjang Hadapi Siklus Kemarau 2027
Selain menghadapi tantangan El Nino tahun ini, Kementerian Kehutanan juga mulai menyiapkan strategi mitigasi jangka panjang untuk mengantisipasi siklus kemarau empat tahunan yang diperkirakan kembali terjadi pada 2027.
Sebagai langkah antisipatif, Kemenhut menginstruksikan seluruh pengelola sektor kehutanan untuk memprioritaskan berbagai program konservasi, antara lain:
- Penanaman pohon secara masif di lahan kritis.
- Rehabilitasi kawasan hulu sungai, mata air, dan waduk.
- Perlindungan daerah resapan air.
- Penerapan metode pembukaan dan pengelolaan lahan tanpa pembakaran.
- Penguatan kolaborasi lintas sektor dalam pemulihan ekosistem.
Kolaborasi Jadi Kunci Pemulihan Ekosistem
Pemerintah menilai keberhasilan rehabilitasi lahan tidak hanya bergantung pada program pemerintah, tetapi juga memerlukan dukungan aktif dari masyarakat, dunia usaha, akademisi, hingga organisasi lingkungan. Dengan pengelolaan hutan dan lahan yang berkelanjutan, Indonesia diharapkan mampu mengurangi laju degradasi lahan, menekan risiko kebakaran hutan, serta memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim.
Melalui percepatan rehabilitasi 12,3 juta hektare lahan kritis dan peningkatan kesiapsiagaan menghadapi El Nino 2026, pemerintah menegaskan komitmennya untuk menjaga kelestarian sumber daya alam sekaligus melindungi masyarakat dari dampak krisis iklim yang semakin nyata.
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




