Jejak katak pohon bergaris yang bertahan di Pantura Kendal

Keberadaan Katak Pohon Bergaris di Pesir Kendal: Bukti Adaptasi dan Pentingnya Sains Warga
Sebuah penemuan mandiri oleh warga bernama Dani Satria (34) di Desa Tanjungmojo, Kecamatan Kangkung, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, membuka wawasan baru terkait keberadaan amfibi dataran rendah di koridor Pantai Utara (Pantura) Jawa. Penemuan spesies yang diidentifikasi sebagai Katak Pohon Bergaris (Polypedates leucomystax) ini menjadi bukti daya adaptasi satwa di tengah perubahan ruang hidup pesisir.
Awal Penemuan dan Mitos “Katak Terbang”
Penemuan bermula ketika Dani mengamati seekor amfibi ramping bertubuh cokelat halus dengan garis membujur di punggungnya bertengger di dinding sumur tua berlumut, sekitar 5 kilometer dari garis pantai Pantura Kendal.
Warga setempat secara turun-temurun menyebut satwa ini sebagai “katak terbang”. Penyebutan lokal ini lahir dari gabungan memori kolektif dan pengamatan perilaku reproduksi satwa tersebut:
- Penggunaan Istilah Lokal: Dalam dunia herpetologi, istilah “katak terbang” secara ilmiah merujuk pada genus Rhacophorus yang memiliki selaput kaki ekstra lebar untuk meluncur.
- Perilaku Polypedates leucomystax: Katak Pohon Bergaris dari famili Rhacophoridae ini tidak meluncur, melainkan pemanjat ulung yang memanfaatkan bantalan perekat di ujung jari.
- Cara Reproduksi Unik: Katak ini membuat sarang berbusa (foam nest) pada vegetasi atau ranting pohon di atas air. Ketika telur menetas, berudu akan jatuh langsung ke dalam genangan air atau sumur di bawahnya.
Meluruskan Miskonsepsi Habitat Dataran Rendah
Penemuan di kawasan pesisir Kendal ini sekaligus meluruskan kekeliruan informasi populer yang menyatakan bahwa katak pohon hanya hidup di kawasan pegunungan (ketinggian 750–1.500 mdpl).
- Daya Adaptasi Luas: Polypedates leucomystax terbukti memiliki sebaran habitat yang sangat fleksibel, mulai dari dataran rendah, kawasan perkebunan, hingga area pemukiman manusia.
- Strategi Bertahan Hidup: Sebagai satwa nokturnal, katak ini berlindung di rimbun semak dan vegetasi dari suhu terik pesisir saat siang hari, lalu aktif mencari mangsa dan air pada malam hari.
- Status Konservasi: Menurut daftar International Union for Conservation of Nature (IUCN), spesies ini berada dalam kategori Least Concern (Risiko Rendah). Namun, keberadaannya di kantong-kantong hijau pesisir rentan terhadap alih fungsi lahan dan industrialisasi masif di koridor Pantura.
Pentingnya Peran Citizen Science (Sains Warga)
Pengamatan independen ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara pengetahuan lokal dan literatur ilmiah sahih dalam mencatat keanekaragaman hayati sekitar.
“Identifikasi yang saya lakukan masih bersifat dugaan awal berdasarkan dokumentasi foto, sehingga konfirmasi lebih lanjut oleh herpetolog atau pengamatan ciri morfologi yang lebih lengkap tetap diperlukan,” ungkap Dani pada Sabtu (18/7/2026).
Penemuan di Desa Tanjungmojo ini menjadi pengingat bahwa kekayaan hayati tidak hanya bertahan di hutan perawan yang jauh, melainkan juga beradaptasi di lingkungan sekitar manusia yang membutuhkan perhatian dan perlindungan bersama.
sumber:
https://www.ekuatorial.com/2026/07/jejak-katak-pohon-bergaris-yang-bertahan-di-pantura-kendal/
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




