World Cleanup Day di CFD Bundaran HI, Warga Temukan Banyak Sampah Plastik dan Puntung Rokok

Peringatan World Cleanup Day 2026 di Jakarta diisi dengan aksi sederhana namun bermakna: memungut sampah bersama-sama di sepanjang kawasan car free day (CFD) Bundaran HI, Jakarta Pusat.
Sejumlah warga, mahasiswa, komunitas, dan organisasi masyarakat turun langsung menyisir Jalan Sudirman hingga Thamrin pada Minggu, 20 September 2026.
Mereka membawa kantong sampah, tas jinjing, sarung tangan, hingga karung untuk mengumpulkan sampah yang ditemukan di sepanjang jalur CFD.
Sampah Ditemukan di Trotoar hingga Sela Tanaman
Para peserta melakukan long march sambil membersihkan berbagai titik.
Sampah ditemukan di trotoar, parit, hingga sela-sela tanaman di sisi jalan.
Dari berbagai jenis sampah yang terkumpul, plastik dan puntung rokok menjadi dua jenis yang cukup banyak ditemukan.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah di ruang publik bukan hanya berasal dari limbah berukuran besar.
Sampah kecil seperti puntung rokok juga mudah terlewat, padahal jumlahnya dapat sangat banyak.
Puntung Rokok Sering Dianggap Sepele
Puntung rokok merupakan salah satu bentuk sampah yang sering dianggap kecil dan tidak berbahaya.
Padahal filternya umumnya mengandung material berbasis plastik dan dapat bertahan cukup lama di lingkungan.
Ketika terbawa hujan, puntung dapat masuk ke saluran air dan akhirnya terbawa ke sungai.
Selain itu, residu bahan kimia dari puntung rokok juga dapat mencemari lingkungan.
Karena itu, membuang puntung sembarangan bukan sekadar persoalan kebersihan.
Sampah Plastik Masih Mendominasi Ruang Publik
Selain puntung rokok, peserta juga banyak menemukan sampah plastik.
Kemasan sekali pakai masih menjadi salah satu jenis sampah yang paling mudah ditemukan di ruang publik.
Botol, bungkus makanan, kantong plastik, dan berbagai kemasan kecil dapat tercecer jika tidak dibuang dengan benar.
Masalahnya, sampah plastik tidak mudah terurai.
Jika terus berada di lingkungan, material tersebut dapat pecah menjadi bagian yang lebih kecil dan berpotensi menjadi mikroplastik.
Mahasiswa Ikut Turun ke Jalan
Aksi ini juga diikuti mahasiswa dari berbagai kampus.
Salah satunya Mily dari Universitas Atma Jaya.
Ia mengaku tertarik mengikuti kegiatan tersebut karena ingin merasakan suasana CFD sambil melakukan aktivitas yang bermanfaat bersama teman-teman.
Menurutnya, kegiatan bersih-bersih justru menjadi pengalaman yang menyenangkan karena dilakukan secara kolektif.
Peserta lain, Louis, juga mengaku tertarik karena di tempat tinggalnya kegiatan CFD tidak banyak ditemui.
Baginya, aksi tersebut menjadi pengalaman baru sekaligus kesempatan untuk berkontribusi terhadap kebersihan lingkungan.
World Cleanup Day Bukan Sekadar Bersih-Bersih
World Cleanup Day merupakan momentum untuk meningkatkan kesadaran mengenai persoalan sampah.
Kegiatan bersih-bersih memiliki nilai penting karena membuat masyarakat melihat langsung seberapa banyak sampah yang sebenarnya berada di ruang publik.
Namun tujuan yang lebih besar bukan sekadar mengumpulkan sampah.
Yang ingin didorong adalah perubahan perilaku.
Sampah tidak seharusnya dibuang sembarangan sejak awal.
Kolaborasi Meluas ke Berbagai Daerah
Kegiatan di Jakarta juga melibatkan organisasi masyarakat.
Bowo dari LDII mengatakan pihaknya berkolaborasi dengan World Cleanup Day Indonesia untuk mendukung kegiatan serupa.
Menurut dia, ajakan kegiatan telah disampaikan kepada jaringan organisasi di berbagai provinsi.
Pendekatan seperti ini penting karena persoalan sampah tidak hanya terjadi di satu kota.
Gerakan bersih lingkungan akan memiliki dampak lebih besar jika dilakukan secara luas dan konsisten.
Pemilahan Sampah Harus Dimulai dari Rumah
Bowo juga mengingatkan pentingnya kebiasaan membuang dan memilah sampah dengan benar.
Di kota besar, tempat sampah terpilah memang semakin banyak tersedia.
Namun fasilitas tersebut hanya efektif jika masyarakat menggunakannya dengan benar.
Pemilahan idealnya dimulai sejak dari sumber.
Botol PET dipisahkan.
Kaca dipisahkan.
Sampah residu dipisahkan.
Begitu pula limbah B3 rumah tangga harus ditangani secara berbeda.
Mengapa Pemilahan Penting?
Sampah yang tercampur akan lebih sulit diproses.
Botol plastik yang tercampur sampah makanan, misalnya, dapat kehilangan nilai daur ulang.
Kertas yang basah dan tercampur residu juga lebih sulit dimanfaatkan.
Karena itu, pemilahan membantu mempertahankan nilai material.
Semakin banyak material yang dipisahkan dengan benar, semakin besar peluang untuk didaur ulang atau dimanfaatkan kembali.
Bersih-Bersih Penting, tetapi Pencegahan Lebih Penting
Aksi seperti World Cleanup Day sangat baik untuk edukasi dan mobilisasi masyarakat.
Namun jika setiap hari sampah baru terus dibuang sembarangan, kegiatan bersih-bersih tidak akan pernah selesai.
Karena itu, strategi pengelolaan sampah harus bergerak lebih jauh dari sekadar membersihkan.
Yang lebih penting adalah mencegah sampah muncul atau bocor ke lingkungan sejak awal.
Kurangi penggunaan barang sekali pakai.
Gunakan kembali barang yang masih layak.
Pilih produk dengan kemasan minimal.
Dan buang sampah pada tempatnya.
CFD Bisa Menjadi Ruang Edukasi Lingkungan
Car Free Day sebenarnya memiliki posisi strategis.
Ribuan orang berkumpul di satu ruang publik tanpa dominasi kendaraan bermotor.
Karena itu, CFD dapat menjadi ruang edukasi lingkungan yang efektif.
Selain aksi bersih-bersih, kegiatan dapat dikembangkan menjadi edukasi pemilahan, kampanye penggunaan tumbler, pengurangan plastik sekali pakai, atau penukaran sampah dengan produk ramah lingkungan.
Dengan cara ini, CFD tidak hanya menjadi ruang olahraga.
Ia juga dapat menjadi ruang pembelajaran gaya hidup berkelanjutan.
Sampah Kecil Tetap Masalah Besar
Temuan banyak puntung rokok di sekitar Bundaran HI memberikan pesan penting.
Tidak semua masalah sampah datang dalam bentuk kantong besar.
Satu puntung rokok mungkin terlihat kecil.
Satu bungkus plastik mungkin tampak sepele.
Namun jika dibuang oleh ribuan orang, jumlahnya menjadi besar.
Persoalan sampah adalah persoalan akumulasi.
Perubahan Perilaku Dimulai dari Hal Sederhana
Kita sering membicarakan teknologi pengolahan sampah yang canggih.
Namun kebersihan kota tetap sangat bergantung pada perilaku dasar.
Jangan membuang sampah sembarangan.
Bawa sampah sampai menemukan tempat yang tepat.
Pisahkan material yang bisa didaur ulang.
Gunakan kembali barang jika masih memungkinkan.
Kebiasaan sederhana seperti ini justru menjadi fondasi pengelolaan sampah.
World Cleanup Day Mengingatkan Kita Semua
Aksi warga dan mahasiswa di Bundaran HI menunjukkan bahwa ruang publik dapat menjadi tempat membangun kepedulian bersama.
Namun tantangannya adalah memastikan semangat tersebut tidak berhenti setelah acara selesai.
World Cleanup Day seharusnya menjadi pengingat bahwa kebersihan kota bukan hanya tugas petugas kebersihan.
Setiap orang memiliki peran.
Setiap sampah yang tidak dibuang sembarangan adalah satu masalah yang berhasil dicegah.
Dan setiap material yang dipilah dengan benar adalah satu langkah menuju sistem yang lebih sirkular.
Pada akhirnya, kota yang bersih bukan dihasilkan oleh semakin banyak orang yang memungut sampah.
Melainkan oleh semakin sedikit orang yang membuang sampah sembarangan sejak awal.




