Wamen LH Ajak Dunia Usaha Perbanyak Tanam Pohon dan Mangrove untuk Perbaiki Kualitas Udara

Jakarta – Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH) sekaligus Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Diaz Hendropriyono, mengajak dunia usaha untuk mengambil peran lebih besar dalam upaya penghijauan melalui penanaman pohon dan rehabilitasi mangrove. Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kualitas udara sekaligus memperkuat ketahanan lingkungan di tengah ancaman perubahan iklim.
Ajakan itu disampaikan Diaz saat menghadiri kegiatan Gerak Hijau, yang menjadi salah satu momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kualitas udara melalui aksi nyata penghijauan.
Menurut Diaz, pohon memiliki peran vital dalam menopang kehidupan karena menghasilkan oksigen yang dibutuhkan manusia setiap hari.
“Setiap orang membutuhkan sekitar 0,5 kilogram oksigen per hari, sementara satu pohon mampu menghasilkan sekitar 1,2 kilogram oksigen. Artinya, kebutuhan oksigen satu orang dapat dipenuhi oleh satu hingga dua pohon,” jelas Diaz.
Dunia Usaha Didorong Berkontribusi dalam Penghijauan
Diaz menegaskan bahwa menjaga kualitas udara bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, termasuk sektor swasta.
Ia mendorong perusahaan untuk menjadikan kegiatan penanaman pohon dan mangrove sebagai bagian dari komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan dan tanggung jawab sosial perusahaan. Menurutnya, semakin banyak pohon yang ditanam, semakin besar kontribusi terhadap penyediaan udara bersih, penyerapan karbon, serta pengurangan dampak perubahan iklim.
Rehabilitasi Mangrove Semakin Mendesak
Selain penanaman pohon, Diaz juga menyoroti pentingnya rehabilitasi kawasan mangrove di Indonesia. Ia mengingatkan bahwa luas hutan mangrove nasional terus mengalami penyusutan dalam beberapa dekade terakhir.
“Luas mangrove kita selama ini terus tergerus. Saat ini diperkirakan tersisa sekitar 3,4 juta hektare dari sebelumnya sekitar 4,4 juta hektare. Karena itu, gerakan penanaman mangrove menjadi sangat penting sebagai pengingat sekaligus aksi nyata menjaga lingkungan,” ujarnya.
Mangrove memiliki fungsi strategis sebagai pelindung wilayah pesisir dari abrasi, habitat berbagai biota laut, penyerap karbon biru (blue carbon), serta benteng alami dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
Ancaman El Niño Berpotensi Menurunkan Kualitas Udara
Diaz juga mengingatkan bahwa Indonesia berpotensi kembali menghadapi fenomena El Niño, yang diperkirakan berlangsung hingga akhir tahun. Kondisi tersebut berisiko memperburuk kualitas udara akibat meningkatnya konsentrasi partikel halus PM2.5 dan indeks kualitas udara (Air Quality Index/AQI).
“Kemungkinan El Niño akan berlangsung hingga November atau Desember. Kondisi ini berpotensi meningkatkan konsentrasi PM2.5 sehingga kualitas udara secara alami dapat memburuk,” katanya.
Karena itu, langkah mitigasi melalui penghijauan dinilai semakin penting untuk membantu menjaga keseimbangan lingkungan dan mengurangi dampak perubahan iklim terhadap kesehatan masyarakat.
Gerakan Menanam Pohon untuk Masa Depan yang Lebih Sehat
Menurut Diaz, kegiatan seperti Gerak Hijau tidak hanya menjadi simbol kepedulian terhadap lingkungan, tetapi juga sarana edukasi untuk membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kualitas udara.
Ia berharap semakin banyak individu, komunitas, pemerintah daerah, maupun pelaku usaha yang terlibat dalam gerakan penanaman pohon dan rehabilitasi mangrove sebagai bagian dari upaya bersama menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Melalui kolaborasi seluruh elemen bangsa, Indonesia diharapkan mampu memperluas kawasan hijau, memulihkan ekosistem mangrove, serta menghadirkan udara yang lebih bersih bagi masyarakat. Sebab, menjaga pohon dan mangrove hari ini berarti menjaga kualitas hidup dan kesehatan generasi masa depan.




