Berita

Food Waste Ancam Pariwisata Labuan Bajo, Pemerintah Diminta Segera Bertindak

Pesona Labuan Bajo sebagai salah satu destinasi wisata unggulan Indonesia menghadapi tantangan lingkungan yang semakin serius. Meningkatnya sampah sisa makanan atau food waste, terutama dari aktivitas hotel dan restoran, dinilai berpotensi mengganggu lingkungan sekaligus keberlanjutan sektor pariwisata.

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia Chalim meminta pemerintah memberikan perhatian lebih besar terhadap persoalan sampah makanan di kawasan wisata. Menurutnya, tanpa sistem pengelolaan yang efektif, peningkatan food waste dapat menjadi ancaman baru bagi destinasi yang selama ini mengandalkan kualitas lingkungan sebagai daya tarik utama.

“Tanpa pengelolaan yang efektif, persoalan sampah makanan yang terus meningkat di Labuan Bajo berpotensi mengancam lingkungan setempat dan daya tarik wisata daerah tersebut,” kata Chusnunia di kompleks parlemen, Jakarta, Senin.

Hotel dan Restoran Jadi Salah Satu Sumber

Pertumbuhan pariwisata membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat, tetapi pada saat bersamaan juga meningkatkan konsumsi makanan dan produksi sampah.

Industri perhotelan, restoran, dan sektor food and beverage menjadi salah satu sumber sampah organik. Sisa makanan wisatawan hingga pengelolaan bahan pangan yang kurang efisien di dapur dapat menghasilkan sampah dalam jumlah besar.

“Khususnya industri perhotelan dan restoran (food and beverage), menyumbang volume sampah organik yang masif dari sisa hidangan wisatawan maupun kesalahan manajemen dapur,” ujarnya.

Persoalan tersebut perlu mendapat perhatian karena sampah makanan bukan sekadar makanan yang terbuang. Di baliknya terdapat sumber daya yang telah digunakan untuk menghasilkan makanan, mulai dari air, energi, lahan, tenaga kerja hingga proses distribusi.

Ketika sampah makanan berakhir di tempat pembuangan akhir tanpa pengolahan yang tepat, limbah organik juga dapat menghasilkan gas metana selama proses pembusukan.

Labuan Bajo Perlu Dijaga dari Persoalan Sampah

Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu destinasi wisata populer Indonesia dan menjadi pintu masuk menuju kawasan Taman Nasional Komodo.

Keindahan alam menjadi salah satu modal utama pariwisata kawasan tersebut. Karena itu, persoalan sampah berpotensi memberikan dampak lebih luas apabila tidak ditangani sejak dini.

Menurut Chusnunia, daerah yang memiliki ketergantungan besar terhadap pariwisata membutuhkan perhatian khusus dalam mengatasi limbah makanan.

“Jangan sampai justru persoalan sampah ini menjadi kendala dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan. Saya kira hal ini perlu menjadi perhatian tersendiri,” katanya.

Pengelolaan food waste dinilai menjadi bagian penting dari pariwisata berkelanjutan karena berkaitan dengan aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial.

Indonesia Bisa Belajar dari Negara Lain

Chusnunia mendorong pemerintah mempelajari strategi pengelolaan makanan berkelanjutan yang telah diterapkan di negara lain.

Salah satu contoh yang disorot adalah Thailand, yang disebut mampu mengurangi sampah makanan hingga 45 persen melalui pendekatan pengelolaan tertentu.

Pengalaman dari negara lain dapat menjadi referensi, tetapi penerapannya perlu disesuaikan dengan kondisi setiap destinasi wisata di Indonesia.

Upaya tersebut dapat dimulai dari pencegahan makanan berlebih sejak proses perencanaan menu dan pembelian bahan baku. Hotel dan restoran juga dapat memperbaiki pengelolaan persediaan sehingga bahan makanan tidak kedaluwarsa sebelum digunakan.

Makanan berlebih yang masih aman dikonsumsi dapat diarahkan untuk redistribusi, sementara sisa organik yang sudah tidak dapat dikonsumsi bisa dimanfaatkan melalui pengomposan atau metode pengolahan lainnya.

Pariwisata Berkelanjutan Tak Cukup Hanya Menarik Wisatawan

Persoalan food waste di kawasan wisata menunjukkan bahwa keberhasilan pariwisata tidak semestinya hanya diukur dari jumlah wisatawan, tingkat hunian hotel, maupun besarnya perputaran ekonomi.

Kemampuan sebuah destinasi mengelola dampak yang muncul dari aktivitas pariwisata juga menjadi bagian penting dari keberlanjutannya.

Hotel, restoran, pemerintah daerah, pengelola destinasi, wisatawan, dan masyarakat memiliki peran dalam mengurangi jumlah makanan yang terbuang.

Bagi Labuan Bajo, menjaga lingkungan berarti menjaga modal utama pariwisatanya sendiri.

Jangan sampai wisatawan datang untuk menikmati keindahan alam, tetapi aktivitas pariwisata justru meninggalkan persoalan lingkungan bagi masyarakat yang tinggal di sana.

Pariwisata yang benar-benar berkelanjutan bukan hanya tentang bagaimana mendatangkan lebih banyak wisatawan, tetapi bagaimana memastikan setiap kunjungan meninggalkan manfaat yang lebih besar daripada sampah yang ditinggalkan.

https://www.antaranews.com/berita/5719244/komisi-vii-dpr-minta-pemerintah-atasi-food-waste-daerah-wisata

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO